SEJARAH DAN ASAL-USUL DUSUN SENDUNG KALITELU
Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung
1. Letak Geografis: Puthuk di Tengah Rawa "Banjir Abadi"
Pada masa lampau, Dusun Sendung hanyalah sebuah Puthuk—gundukan tanah berupa gerumbul (semak belukar) seluas kurang lebih $1.500 \text{ m}^2$—yang berdiri di tengah-tengah hamparan rawa-rawa yang luas.
Secara geografis, puthuk ini berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan Utara. Aliran anak sungai yang berhulu di Gunung Sidem inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai "Kali Telu". Aliran Kali Telu membelah puthuk ini menjadi dua bagian (utara dan selatan) yang kelak secara administratif bergabung ke desa yang berbeda:
Bagian Utara (Dusun Sendung): Bergabung dengan Desa Gondang.
Bagian Selatan (Dusun Senden): Bergabung dengan Desa Sepatan.
Karena letaknya yang berada di ujung luar, puthuk ini menjadi tapal batas bagi 4 wilayah desa:
Utara: Desa Gondang
Barat: Desa Bendungan
Timur: Desa Sepatan
Selatan: Desa Notorejo
2. Masa Keterpencilan dan Isolasi
Lengkap sudah penderitaan wilayah ini pada masa lalu. Berada di tapal batas empat desa membuat kawasan ini sangat terpencil dan jauh dari pusat keramaian. Jangankan orang luar, warga Desa Gondang sendiri pun dulu banyak yang memandang sebelah mata.
Sebelum tahun 1980, wilayah ini dijuluki sebagai "Wilayah Banjir Abadi" di kawasan Gondang karena selalu tenggelam setiap musim penghujan (rendeng). Saking terisolirnya, masyarakat Sendung baru bisa menikmati dan merasakan nyala lampu listrik pada tahun 1996.
3. Asal-Usul Nama "Sendung" (Legenda Ki Khasan Thalib)
Kisah bermula dari seorang pengembara asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah bernama Ki Khasan Thalib. Suatu hari, ia terdampar di puthuk gerumbul tersebut saat sedang mencari ikan di rawa-rawa Kali Telu. Karena kelelahan, ia menyandarkan badannya ke sebuah batu condong hingga tertidur pulas.
Saat terbangun, hari sudah gelap dan cuaca berubah mendung pertanda hujan akan turun. Di momen itulah Ki Khasan Thalib menancapkan sebuah tetenger (tongkat kayu) sebagai tanda bahwa wilayah itu akan didiaminya kelak. Peristiwa habis bersandar (Senden) di saat cuaca berawan (Mendung) inilah yang membuat beliau menamai tempat tersebut sebagai "SENDUNG".
4. Sejarah Perkembangan Spiritual dan Strategi Gestok (1943 - 1965)
Seiring waktu, puthuk yang awalnya sepi mulai berkembang menjadi pemukiman dan terbagi menjadi tiga wilayah syiar Islam:
Wilayah Selatan (Dusun Senden Kidul - 1943): Mayoritas dihuni oleh keturunan Mbah Topo. Beliau mendirikan langgar pertama di wilayah selatan pada tahun 1943.
Wilayah Tengah (Langgar Senden Lor - 1946): Didirikan oleh Mbah Syukur tak lama setelah kemerdekaan.
Wilayah Utara (Dusun Sendung - 1965): Dikuasai oleh keturunan Mbah Sali tepat pada tahun terjadinya peristiwa GESTOK (G30S/PKI).
📌 Catatan Sejarah Penting: Pendirian titik komunitas muslim di Sendung Utara pada tahun 1965 merupakan sebuah strategi jenius dari sesepuh. Hal ini dilakukan guna mensiasati agar masyarakat Sendung tidak ikut dibantai oleh Sakerah, seperti tragedi pembantaian massal yang menimpa warga Gondang lainnya yang dikubur di Pemakaman Gunung Cilik.
5. Cikal Bakal Masjid An-Nuur: Perjuangan Mbah Dul hingga Kyai Tohir
Anak pertama Mbah Sali yang bernama Kyai Abdul Shomad (Mbah Dul) menjadi tokoh utama perintis Islam di Sendung Utara. Beliau menyulap sebuah gotha'an (kamar kecil) di dalam rumahnya sebagai tempat salat berjamaah dan mengaji.
Setelah tahun 1970, langgar rintisan Mbah Dul ini dipindahkan ke area Sendung Utara. Estafet perjuangan dan keimaman langgar kuno ini kemudian diteruskan oleh Kyai Tohir.
6. Era Metamorfosis: Menjadi "Dusun Santri" yang Megah (2006)
Di bawah kepemimpinan Bapak Kyai Syamsi Dukha (seorang ulama jebolan Pesantren Pondok Tengah Kamulan, Trenggalek) sebagai Imam Sendung I, wilayah ini mengalami transformasi total:
Masjid Jami' An-Nuur: Langgar kuno dirombak menjadi masjid yang sangat megah dan lux untuk ukuran Kecamatan Gondang, dengan biaya pembangunan menelan lebih dari Rp 500.000.000,-.
Gedung TPA / Pesantren An-Nuur: Pada 12 April 2006, didirikan gedung TPA berlantai 2 yang megah dengan fasilitas lengkap senilai Rp 850.000.000,-. Gedung ini diresmikan langsung oleh Bupati Tulungagung, Bapak Ir. Heru Tjahjono, M.M., dengan struktur pengurus Kyai Syamsi Dukha (Kepala Sekolah) dan Bapak Badrodin (Ketua Yayasan).
Kesimpulan Akhir
Siapa yang menyangka, gundukan tanah (puthuk) rawa terisolir seluas $1.500 \text{ m}^2$ itu kini telah bermetamorfosis menjadi pemukiman padat yang dihuni sekitar 600 jiwa. Kompleks Masjid An-Nuur dan Gedung TPA kini berdiri tegak menjadi "ICON" kebanggaan.
Selamat tinggal Dusun Sendung yang banjir dan terisolir! Selamat datang era baru "SENDUNG KALITELU" sebagai Dusun Santri yang sejuk, makmur, dan damai di bawah bimbingan Romo Kyai Syamsi Dukha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar