Rabu, 17 Juni 2026

KISAH BABAD TULUNGAGUNG DAN BABAD SENDUNG

 Hubungan historis antara keenam candi besar di Tulungagung dengan jaringan petilasan kuno, punden danyang di sekitar Sendung Kali Telu (Gondang), serta mitologi besar (Baru Klinting, Kembang Sore, Joko Budeg, dan Prasasti Kamulan) terjalin melalui konsep Geografi Spiritual (Spiritual Geography) dan Sistem Pertahanan Mandala pada masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit.

Dalam kosmologi Jawa kuno, candi besar tidak berdiri terisolasi. Candi bertindak sebagai pusat spiritual makro (jagat gede), sedangkan punden danyang, petilasan ulama, dan makam kuno di wilayah sekitarnya (seperti koridor Sendung) bertindak sebagai benteng pengaman mikro (jagat cilik) sekaligus jalur logistik/gerilya.

Berikut adalah jalinan hubungan historis dan benang merah yang menyatukan semuanya:

1. Benang Merah Prasasti Kamulan (1194 M) dan Jaringan Danyang Purba

Prasasti Kamulan (Durenan) adalah kunci pembuka sejarah wilayah ini. Prasasti tersebut mencatat bahwa daerah Kamulan dan sekitarnya (termasuk Gondang) dijadikan tanah perdikan (Sima) karena warganya berhasil memukul mundur musuh raja dari arah timur.

  • Hubungan dengan Danyang Sendung (Wareng, Kajar, Grumbul, Puthuk Dowo): Sebelum ditata oleh para danyang dan dipeluk oleh syiar Islam, wilayah Sendung Kali Telu adalah benteng pertahanan alam berupa rawa-rawa dalam dan hutan wingit.

  • Tempat-tempat seperti Danyang Wareng, Danyang Kajar, Danyang Grumbul, Danyang Tugu Miring, dan Danyang Puthuk Dowo (gundukan tanah panjang) sebenarnya adalah pos-pos intip, batas ekologis, atau benteng pertahanan taktis pasukan kuno Katandan Kamulan. Ketika para prajurit atau tetua itu wafat, tempat mereka bertahan bertransformasi menjadi punden danyang yang dihormati masyarakat sebagai pelindung desa.

2. Transformasi Spiritual: Dari Candi Majapahit ke Ki Kasan Thalib (Mbah Wali Sendung)

Ada lompatan sejarah yang harmonis ketika era Hindu-Buddha runtuh dan digantikan oleh era Islam (Mataram Islam):

  • Jalur Penghubung Candi: Candi Sanggrahan dan Candi Gayatri di Boyolangu merupakan pusat peradaban intelektual dan keagamaan masa Majapahit. Ketika kerajaan runtuh, para resi dan keturunan ningrat menyebar ke arah barat sungai (Gondang) untuk bersembunyi di wilayah rawa.

  • Peran Ki Kasan Thalib: Memasuki abad ke-19, Ki Kasan Thalib (Mbah Wali Sendung) datang membawa lentera syiar Islam dari trah Magelang/Mataram. Beliau melakukan babat alas di Dusun Sendung. Hebatnya, Ki Kasan Thalib tidak menghancurkan punden kuno (seperti Puthuk Dowo atau Grumbul), melainkan melakukan "Islamisiasi ruang". Ritual pemujaan danyang digeser menjadi tradisi doa bersama, tahlilan, dan tawasulan, sehingga kawasan bekas benteng kuno tersebut kini selamat dan dikenal sebagai "Kampung Santri".

3. Mitologi Baru Klinting, Kembang Sore, Joko Budeg, dan Kaitannya dengan Candi

Kisah-kisah mistis yang Anda sebutkan sebenarnya adalah alegori sosiologis yang memotret pergeseran kekuasaan di sekitar candi-candi Tulungagung:

    [ MANDALA UTAMA / PUSAT ]
  - Candi Gayatri (Sri Rajapatni)
  - Candi Sanggrahan (Buddha)
             |
             | (Jalur Pelarian / Gerilya)
             v
    [ MANDALA BARAT: GONDANG ]             [ MANDALA SELATAN: BOYOLANGU ]
  - Punden Sendung (Danyang Kajar/Wareng)  - Gunung Budeg (Ki Joko Budeg)
  - Penjaga: Ular Baru Klinting            - Makam Nyi Roro Kembang Sore
  • Nyi Roro Kembang Sore & Candi Gayatri: Dalam Babad, Kembang Sore digambarkan sebagai sosok wanita suci, jelita, dan dikejar-kejar banyak lelaki karena memegang berkah wilayah. Secara historis, sosok Kembang Sore adalah visualisasi rakyat terhadap Sri Rajapatni Gayatri (Candi Gayatri) atau keturunannya yang harus melarikan diri ke wilayah barat sungai (termasuk bersembunyi di sekitar perbukitan Tiudan, Mojoarum, dan Sendung) demi menghindari perang saudara Majapahit.

  • Ki Joko Budeg (Boyolangu): Gunung Budeg tegak lurus mengawasi kompleks Candi Gayatri dan Candi Dadi. Tokoh Joko Budeg yang menjadi batu melambangkan kegagalan para kesatria lokal yang tidak mampu mengontrol nafsu duniawi untuk merebut kesucian spiritual Mandala Boyolangu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar