Buku Babad Tulungagung dan sejarah lisan Mataraman menyimpan rincian hubungan historis, spritual, serta tragis bagi deretan tokoh, situs keramat, dan kawasan perdikan yang Anda sebutkan.
Berikut adalah hubungan naratif yang mengikat tokoh-tokoh tersebut dalam benang merah sejarah Tulungagung:
1. Koridor Boyolangu: Mitologi Ki Joko Budeg dan Candi Gayatri
Ki Joko Budeg (Patung Budeg di Gunung Budeg): Berdasarkan legenda rakyat, Ki Joko Budeg adalah seorang pemuda tampan yang jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan (Roro Kembang Sore). Namun, karena wataknya yang keras kepala dan mengabaikan nasihat (seperti orang tuli/budeg), ia dikutuk oleh laku spiritual ibu sang putri menjadi batu. Patung batu Joko Budeg ini bertengger di puncak Gunung Budeg sebagai lambang keteguhan yang salah arah.
Candi Gayatri: Masih berada di wilayah Kecamatan Boyolangu, situs ini merupakan peninggalan monumental Kerajaan Majapahit. Candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan (penyimpanan abu jenazah) Sri Rajapatni Gayatri, istri Raden Wijaya sekaligus nenek dari Raja Hayam Wuruk. Keberadaan Candi Gayatri menetapkan Boyolangu sebagai kawasan sakral Mandala Suci sejak zaman kuno.
2. Poros Tanah Perdikan Kuno: Majan, Mangunsari, dan Winong
Ketiga desa ini dalam babad merupakan Poros Keagamaan Islam yang memiliki hak istimewa bebas pajak (Sima/Perdikan) dari Kerajaan Mataram Islam:
Tanah Perdikan Majan: Dirintis oleh Syech Basyaruddin (ulama besar dari Ponorogo yang juga guru spiritual Bupati Pertama Ngrowo, Tumenggung Ngabehi Mangoendirono). Majan diberikan status perdikan karena jasa Syech Basyaruddin dalam syiar Islam dan membentengi kerajaan.
Mangunsari dan Winong: Dua wilayah ini berkembang beriringan dengan Majan sebagai kantong santri kuno yang mengitari ibu kota awal di Kalangbret. Winong dan Mangunsari merupakan pusat pertahanan moral dan spiritual masyarakat Mataraman barat dari pengaruh buruk atau konflik luar.
3. Tragedi Berdarah: Adipati Kalang dan Konflik Pangeran Lembu Peteng
Ini adalah salah satu babak paling kelam sekaligus heroik dalam Babad Tulungagung:
Adipati Kalang: Penguasa otonom Suku Kalang yang terkenal sakti namun angkuh dan menolak tunduk pada tatanan baru penataan wilayah rawa. Dalam perang besar penaklukan wilayah barat, pertahanan Adipati Kalang berhasil ditembus dan ia tewas mengenaskan dengan tubuh yang "disembret-sembret" (dikoyak-koyak) oleh pasukan musuh. Peristiwa tragis ini yang melahirkan nama wilayah Kalangbret.
Konflik Pangeran Lembu Peteng (Joko Baru): Sebagai pemegang amanah pusaka suci Tombak Kiai Upas, Lembu Peteng terlibat dalam intrik politik dan spiritual yang tajam untuk merebut kedaulatan tanah Ngrowo. Saking sengitnya pertempuran bawah tanah tersebut, gugurlah tokoh-tokoh penting yang kepalanya dipotong dan dibuang ke aliran Sungai Parit Raya sebagai simbol pemutus kutukan wilayah rawa.
4. Misteri Cuiri, Kali Song, dan Makam Sunan Kuning (Macanbang)
Kisah Cuiri dan Kali Song: Aliran Kali Song adalah jalur hidrologi purba yang membelah wilayah Gondang-Kauman. Di dekat aliran ini, terdapat wilayah Cuiri yang dikenal wingit. Kawasan ini merupakan titik taktis tempat persembunyian gerilya, penataan irigasi purba, dan sering dikaitkan dengan legenda penjelmaan danyang ular penjaga air Tulungagung.
Makam Sunan Kuning (Desa Macanbang, Gondang): Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) atau tokoh wali lokal dengan nama serupa dikebumikan di puncak bukit kecil Macanbang. Pintu masuk makam ini sengaja dibuat sangat kecil agar peziarah merunduk sebagai tanda adab. Tempat ini dijaga oleh mitologi Macan Putih (yang memberikan nama Desa Macan-bang) serta ular gaib yang dipercaya sewaktu-waktu bertengger di Pendopo Kabupaten Tulungagung.
5. Babat Alas Sendung: Ki Kasan Talib
Ki Kasan Talib (Ki Khasan Thalib): Beliau adalah tokoh sufi pembuka lahan (babat alas) utama di wilayah Dusun Sendung (Desa Gondang). Berasal dari garis pengembara Magelang, Ki Kasan Talib memimpin pembersihan semak gelagah di atas puthuk (tanah tinggi) di tepi Kali Telu yang kala itu dikepung oleh rawa-rawa dalam. Perintisan religius beliau dilanjutkan oleh Mbah Sali (Kyai Abdul Shomad), yang kemudian berhasil merubah Sendung menjadi pusat syiar Islam (Kampung Santri) tertua di kawasan Gondang timur.
Kesimpulan
Secara historis-mitologis, jalinan kisah ini memperlihatkan bahwa Tulungagung dibentuk oleh dua kekuatan besar: Kekuatan supranatural/ningrat (Joko Budeg, Candi Gayatri, Lembu Peteng, Sunan Kuning) dan Kekuatan Syiar Ulama Penakluk Rawa (Syech Basyaruddin di Majan, serta Ki Kasan Talib di Sendung). Semuanya bermuara pada terbentuknya karakter masyarakat Mataraman yang religius namun tetap memegang teguh akar mistis tanah kelahiran mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar