Rabu, 17 Juni 2026

HUBUNGAN HISTORIS GUNUNG CILIK KAMULAN DAN GUNUNG CILIK MOJOARUM GONDANG

 Hubungan historis antara Gunung Cilik Kamulan (Durenan, Trenggalek) dan Gunung Cilik Mojoarum (Gondang, Tulungagung) terjalin sangat erat melalui benang merah kosmologi mitologis, bentang alam geologis purba, serta peran strategisnya dalam sejarah pertahanan serta spiritualitas wilayah Mataraman.

Secara geografis, kedua gundukan bukit (puthuk) ini berada di koridor perbatasan yang sangat dekat antara Tulungagung barat dan Trenggalek timur. Hubungan historis dan kultural keduanya dapat dirinci ke dalam tiga pilar utama berikut:

1. Ikatan Kosmologi Purba: "Ceceran" Puncak Gunung Semeru
2. Pembagian Peran: Poros Makam Kanjengan (Kamulan) dan Benteng Pertahanan (Mojoarum)
3. Saksi Bisu Pergolakan Gestok 1965
Profil dan Kondisi Modern saat Ini

Hubungan paling mendasar yang mengakar dalam memori kolektif dan tradisi lisan (folklore) masyarakat setempat adalah asal-usul gaib kedua bukit ini.

  • Berdasarkan legenda, Gunung Cilik Kamulan terbentuk dari bongkahan puncak Gunung Semeru yang terhempas setelah ditendang oleh tokoh sakti Bhatara Anoman.

  • Saat puncak Semeru itu melesat dan jatuh menghantam bumi di kawasan Kamulan, batuan dan material tanahnya tidak jatuh di satu titik saja, melainkan tercecer (terserak) di sepanjang koridor wilayah sekitarnya. Salah satu serpihan tanah purba yang ikut terhempas dan membentuk gundukan bukit kecil di sisi timur adalah wilayah yang kini menjadi Gunung Cilik di Desa Mojoarum, Gondang.

  • Secara mistis-kosmologis, masyarakat kuno menganggap Gunung Cilik Kamulan dan Gunung Cilik Mojoarum adalah "saudara kandung" yang lahir dari satu sumber yang sama, yaitu kesaktian Anoman dan kesucian Gunung Semeru.

Dalam catatan sejarah perkembangan wilayah dari era kerajaan (pasca-Prasasti Kamulan 1194 M) hingga era kolonial dan kemerdekaan, kedua bukit kecil ini memiliki pembagian fungsi geopolitik dan spiritual yang saling melengkapi:

  • Gunung Cilik Kamulan (Poros Agung Jemaah & Ningrat): Difungsikan sebagai poros spiritual sakral (Makam Girilaya/Kanjengan). Tempat ini merupakan Zero Area pekuburan agung untuk para penguasa tertinggi lintas kabupaten (seperti trah Bupati Tulungagung pemilik pusaka Kiai Upas, Adipati Trenggalek, hingga Bupati Ponorogo) serta para ulama sepuh kharismatik.

  • Gunung Cilik Mojoarum (Poros Benteng & Shelter Strategis): Berbeda dengan Kamulan yang murni menjadi pekuburan ningrat yang penuh aturan wingit, Gunung Cilik Mojoarum dalam sejarah lokal difungsikan sebagai benteng pertahanan alam dan tempat perlindungan (shelter). Karena konturnya yang berupa gundukan di tengah hamparan datar/sawah dataran rendah Gondang, bukit Mojoarum ini menjadi pos intip dan tempat persembunyian strategis prajurit pelarian anti-VOC serta para pejuang lokal saat terjadi pergolakan politik.

Hubungan historis modern kedua bukit ini kembali bertaut secara tragis pada masa pergolakan G30S/PKI (Gestok) tahun 1965. Koridor perbatasan Durenan (Kamulan) dan Gondang (Mojoarum) menjadi zona merah ketegangan horizontal yang sangat mencekam kala itu.

  • Kawasan sekitar lereng Gunung Cilik Kamulan dan area terbuka di seputaran bukit Gunung Cilik Mojoarum menjadi saksi bisu pembersihan, eksekusi, serta pelarian massa dari kedua belah pihak yang bertikai.

  • Setelah masa-masa kelam itu berlalu, ingatan masyarakat terhadap kedua wilayah ini bertransisi menjadi ruang kontemplasi, di mana masyarakat sekitar lereng kedua bukit memperkuat kegiatan keagamaan (tahlilan, yasinan, dan syiar pesantren) guna menetralisir aura negatif sisa konflik masa lalu.

Memasuki era modern, jejak hubungan "saudara" dari serpihan Semeru ini mewujud dalam pemanfaatan wilayah yang selaras:

  • Gunung Cilik Kamulan dilindungi ketat oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sebagai situs makam religi Kanjengan yang sangat dihormati dan menjadi lokasi ziarah tahunan wajib bagi jajaran pemerintahan daerah.

  • Gunung Cilik Mojoarum Gondang kini bersolek menjadi destinasi wisata alam dan tempat rekreasi pedesaan (Gunung Cilik Park/GCP) yang menawarkan pemandangan hamparan sawah hijau aluvial bekas rawa purba Gondang bagi masyarakat sekitar.

Melalui legenda tendangan Anoman, kedua Gunung Cilik ini meletakkan pondasi filosofis bagi masyarakat perbatasan Durenan-Gondang: bahwa alam, sejarah ningrat, perjuangan fisik, dan spiritualitas adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan di tanah Mataraman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar