Menelusuri figur leluhur (babat alas, danyang, atau punden) di desa-desa Kecamatan Gondang, Tulungagung, membawa kita pada jalinan sejarah lisan (folklore) yang sangat kuat. Tokoh-tokoh ini umumnya merupakan bangsawan atau prajurit Kerajaan Mataram Islam yang melakukan eksodus pasca-Perang Diponegoro (1825–1830), para Auliya/Ulama penyebar Islam, serta para Sesepuh Sakti yang membuka wilayah hutan dan rawa.
Berikut adalah daftar tokoh sejarah dan sesepuh yang dihormati sebagai leluhur di desa-desa Kecamatan Gondang (termasuk tambahan Desa Dukuh):
1. Desa Gondang
Tokoh Leluhur: Ki Khasan Thalib (penemu awal Dusun Sendung) serta Mbah Sali dan keturunannya, Kyai Abdul Shomad (Mbah Dul).
Kisah: Ki Khasan Thalib (pengembara asal Magelang) adalah penemu Dusun Sendung yang menancapkan tetenger setelah bersandar saat mendung. Sementara trah Mbah Sali dan Mbah Dul dihormati sebagai perintis tatanan sosial, hukum, dan syiar Islam purba yang merubah kawasan rawa menjadi pemukiman padat dan islami.
2. Desa Dukuh
Tokoh Leluhur: Mbah Gati (Ki Ageng Gati) atau dikenal juga dengan Mbah Dukuh.
Kisah: Istilah Dukuh dalam bahasa Jawa berarti pemukiman baru yang terpisah dari desa induk. Mbah Gati adalah sosok yang pertama kali mendirikan padepokan atau hunian kecil di wilayah ini. Makam atau petilasannya dihormati sebagai tiang spiritual desa yang membuat wilayah Dukuh berkembang menjadi salah satu pusat pemukiman agraris yang mapan.
3. Desa Macanbang
Tokoh Leluhur: Mbah Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) atau dikenal juga dengan nama Singo Barong.
Kisah: Ini adalah salah satu desa bersejarah paling tua dan dikeramatkan di Gondang. Makam Sunan Kuning di Macanbang merupakan tokoh bangsawan Mataram yang terlibat dalam Geger Pacinan melawan VOC. Tempat ini menjadi poros spiritual penting di Tulungagung barat.
4. Desa Tiudan
Tokoh Leluhur: Mbah Bodho dan Mbah Demang.
Kisah: Tiudan sangat terkenal dengan industri bata merah dan gentengnya. Leluhur desa ini, Mbah Bodho, konon adalah sosok ksatria yang menyembunyikan kesaktiannya di balik perilaku yang tampak bersahaja (bodho), yang membuka lahan di dekat bukit/gumuk Tiudan.
5. Desa Sidem
Tokoh Leluhur: Mbah Sentono (atau Ki Ageng Sidem).
Kisah: Terletak di kawasan perbukitan yang memiliki Gunung Sidem. Nama Sidem berasal dari kata "Sari" atau "Ayem/Sidem" (tenang). Mbah Sentono dihormati sebagai tokoh yang menenangkan daerah lereng ini agar tidak longsor dan aman ditinggali.
6. Desa Bendungan
Tokoh Leluhur: Mbah Topo dan Mbah Joko.
Kisah: Mbah Topo adalah tokoh yang terkenal membangun fondasi spiritual dan fisik (termasuk tata kelola air prasejarah/bendungan) di wilayah perbatasan selatan. Keturunannya meluas hingga ke area Dusun Senden Kidul.
7. Desa Kendal
Tokoh Leluhur: Mbah Wali Kurdi (atau Eyang Kurdi).
Kisah: Desa Kendal sangat kental dengan nuansa religiusitas kuno. Mbah Wali Kurdi dihormati sebagai ulama pengelana yang menancapkan tonggak syiar Islam pertama di Kendal, berbatasan langsung dengan wilayah Kauman (Kalangbret).
8. Desa Sidomulyo
Tokoh Leluhur: Mbah Buyut Kajar dan Ki Ageng Sidomulyo.
Kisah: Membawahi Dusun Gambrengan dan sekitarnya. Tokoh pembuka desa ini adalah para pengikut prajurit diponegoro yang menata lahan pertanian rawa menjadi daerah yang "Sido" (terlaksana) "Mulyo" (mulia/makmur).
9. Desa Wonokromo
Tokoh Leluhur: Kyahi / Mbah Wonokromo.
Kisah: Nama desa ini berarti "Hutan yang Ditata Baik" (Wono = Hutan, Kromo = Tata krama/Aturan). Mbah Wonokromo adalah seorang tokoh bangsawan sekaligus ulama yang merambah hutan liar di daerah tersebut menjadi kawasan agraris yang tertib.
10. Desa Ngrendeng
Tokoh Leluhur: Mbah Rendeng (Ki Ageng Rendeng).
Kisah: Sesuai kondisi geografis masa lalu, wilayah ini dulunya adalah pusat luapan air di musim hujan (Rendeng). Mbah Rendeng adalah tokoh yang memiliki kesaktian boto putih yang mampu menjinakkan aliran air parah sehingga wilayah ini bisa kering dan dijadikan pemukiman.
11. Desa Gondosuli
Tokoh Leluhur: Eyang Suli (atau Mbah Gondo).
Kisah: Nama desa diambil dari penanda alam berupa Pohon/Bunga Gondosuli yang mengeluarkan bau harum (Gondo = Bau/Harum). Eyang Suli adalah sesepuh yang pertama kali menanam atau merawat pohon keramat tersebut di punden desa.
12. Desa Notorejo
Tokoh Leluhur: Mbah Noto (Ki Ageng Notorejo).
Kisah: Memiliki arti nama "Menata Kemakmuran Wilayah". Mbah Noto adalah seorang tokoh perencana (arsitek tradisional kuno) yang membagi batas-batas tanah persawahan di Notorejo bagian selatan agar adil bagi para pendatang.
13. Desa Sepatan
Tokoh Leluhur: Mbah Sepat (Ki Ageng Sepatan).
Kisah: Berbatasan langsung dengan Dusun Senden (Sepatan bagian timur). Nama Sepatan diyakini bertalian dengan banyaknya rawa terisolir yang penuh dengan ikan Sepat pada zaman dulu, yang dipimpin pembukaannya oleh seorang ksatria pelarian yang dipanggil Mbah Sepat.
14. Desa Kiping
Tokoh Leluhur: Mbah Kiping (Eyang Singo Kiping).
Kisah: Menurut cerita rakyat, nama Kiping dikaitkan dengan taktik mengintip atau bertahan (kiping/tebing) para prajurit pejuang anti-VOC yang bersembunyi di rimbunnya hutan bambu wilayah tersebut.
15. Desa Blendis
Tokoh Leluhur: Mbah Blendis.
Kisah: Terletak di daerah yang berbatasan dengan kontur perbukitan. Nama Blendis secara lisan sering dikaitkan dengan istilah "Mblendis" (gundukan tanah atau getah pohon hutan purba) yang dibersihkan oleh sesepuh desa untuk jalur perlintasan kuda pada zaman kerajaan.
16. Desa Tawing
Tokoh Leluhur: Mbah Joko Tawing.
Kisah: Dalam bahasa Jawa kuno, Tawing berarti tabir, penghalang, atau tebing pelindung. Mbah Joko Tawing dihormati sebagai danyang penjaga benteng pertahanan alam (perbukitan) agar desa terlindung dari serangan musuh luar maupun angin kencang.
17. Desa Jarakan
Tokoh Leluhur: Mbah Jarak (Ki Ageng Jarak).
Kisah: Dinamai Jarakan karena pada mulanya wilayah ini dipenuhi oleh perkebunan pohon Jarak (yang di kemudian hari pada era penjajahan Jepang sempat dijadikan minyak). Mbah Jarak adalah pelopor agraris di wilayah ini.
18. Desa Rejosari & 19. Desa Bendo
Tokoh Leluhur: Mbah Bendo dan Ki Ageng Rejo.
Kisah: Desa Bendo merujuk pada banyaknya Pohon Bendo (Artocarpus elasticus) yang kayunya besar dan digunakan oleh danyang pertama untuk membuat tempat berkumpul, sedangkan Rejosari adalah nama pengharapan dari Ki Ageng Rejo agar tanah pemukiman baru tersebut senantiasa ramai (Rejo) dan asri (Sari).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar