Berdasarkan naskah Babad Tulungagung, kronik tanah Jawa, registrasi cagar budaya Disbudpar Tulungagung, serta catatan silsilah kuno yang tersimpan di Pendopo Aspirasi Kabupaten Tulungagung, sejarah wilayah ini dibentuk oleh jalinan kepemimpinan dari berbagai era.
Berikut adalah daftar nama tokoh, raja, adipati, sesepuh, syeikh, auliya, wali, dan penguasa masa lampau yang melakukan babat alas atau meletakkan fondasi kedaulatan di tanah Tulungagung (Ngrowo), dikelompokkan berdasarkan medium pengabadian sejarahnya:
1. Tokoh yang Diabadikan di Candi & Relief (Era Klasik Hindu-Buddha)
Para penguasa dan tokoh agung ini diabadikan melalui monumen batu (pendarmaan) atas peran besar mereka dalam puncak peradaban kerajaan Jawa:
Sri Rajapatni Gayatri (Diah Gayatri): Tokoh perempuan paling agung dalam sejarah Majapahit (istri Raden Wijaya, nenek Hayam Wuruk). Beliau adalah arsitek di balik kejayaan Majapahit. Abu jenazahnya didharmakan di Candi Gayatri (Boyolangu) dalam wujud arca Prajnaparamita.
Prabu Angling Dharma: Raja legendaris dari Kerajaan Malawapati. Kisah hidup, ajaran, dan heroisme beliau diabadikan secara visual melalui guratan-guratan relief indah di dinding Candi Mirigambar, Sumbergempol.
Raja Sri Srengga (Prabu Kertajaya / Dandang Gendhis): Raja terakhir Kerajaan Kadiri yang namanya terekam dalam pembangunan dan piagam pemuliaan tempat-tempat suci di lereng Wilis, termasuk pengaruhnya pada fase awal Candi Penampihan (Sendang).
2. Tokoh yang Tercatat di Prasasti Kamulan (1194 M) & Prasasti Lawadan (1205 M)
Nama-nama ini melekat pada piagam batu resmi kerajaan sebagai pahlawan pertahanan negara yang menjadi cikal bakal Hari Jadi Tulungagung:
Raja Sri Kertajaya: Mengeluarkan Prasasti Kamulan (1194 M) sebagai penghargaan kepada para Samya (kepala wilayah/sesepuh) Katandan Kamulan yang setenang batu karang membentengi raja dari serbuan musuh dari arah timur.
Para Samya Katandan Kamulan: Kolektif sesepuh/penguasa lokal purba (koridor Durenan-Gondang) yang memimpin pasukan rakyat penakluk rawa untuk mengamankan kedaulatan raja.
Prabu Srengga / Kertajaya (Kembali Tercatat): Mengeluarkan Prasasti Lawadan (18 November 1205 M) yang memberikan status hak otonom (Sima) bebas pajak kepada warga desa Lawadan karena telah berjasa menghalau musuh dari arah selatan. Tanggal prasasti ini disepakati secara administratif di Pendopo sebagai Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.
3. Tokoh Adipati & Penguasa yang Tercatat di Pendopo Kabupaten Tulungagung
Nama-nama ini merupakan jajaran birokrat, kesatria, dan Bupati awal yang memimpin transisi wilayah dari daerah rawa Ngrowo menjadi pusat pemerintahan modern:
Adipati Kalang (Eyang Kalang): Penguasa otonom Suku Kalang yang legendaris. Wataknya keras dan menolak tunduk pada penataan wilayah luar. Ia gugur dalam pertempuran taktis, di mana tubuhnya terkoyak (disembret-sembret), sebuah palagan berdarah yang melahirkan nama ibu kota pertama: Kalangbret.
Tumenggung Ngabehi Mangoendirono (Bupati Ngrowo I): Tokoh yang ditunjuk oleh Mataram Islam untuk memimpin Kadipaten Ngrowo pasca-penaklukan Kalangbret. Beliau menata sistem pemerintahan formal pertama di barat sungai.
Raden Tumenggung Notodiningrat: Bupati yang mencatatkan sejarah besar dengan memindahkan ibu kota pemerintahan dari Kalangbret (yang rawan banjir) menuju ke arah timur pada awal abad ke-19, yang kemudian melahirkan nama "Tulungagung" (Sumber air besar yang membawa pertolongan).
Kanjeng Jimat (R.M.A.R. Yoedodiningrat): Bupati Tulungagung yang sangat dicintai rakyat. Namanya harum di Pendopo karena meletakkan cetak biru modernisasi kota: membangun Masjid Jami', menata Alun-alun, Pendopo, serta memperkuat sektor pertanian rakyat.
KPAA Sosroningrat (Raden Tumenggung Adipati Sosrodiningrat): Bupati Tulungagung yang tercatat sebagai pemelihara agung Pusaka Tombak Kiai Upas. Makamnya diabadikan di pemakaman wingit Makam Kanjengan Giriloyo, Gunung Cilik Kamulan.
4. Syeikh, Auliya, Wali, dan Sesepuh Babat Alas (Koridor Spiritual Babad Tulungagung)
Para tokoh sufi dan penyebar agama Islam yang bertindak sebagai "penjinak" aura mistis rawa purba dan membimbing karakter masyarakat Mataraman:
Joko Baru / Kyai Lembu Peteng: Putra spiritual yang ditugaskan memegang kendali Tombak Kiai Upas (pusaka pemersatu dan danyang Tulungagung). Dijuluki Lembu Peteng karena kekuatannya seperti banteng (lembu) namun laku tirakatnya bergerak senyap di bawah tanah (peteng). Makamnya di Kutoanyar menjadi poros ziarah utama.
Syeikh Basyaruddin: Ulama besar, syeikh penakluk spiritual wilayah barat sungai, serta guru dari Bupati pertama. Beliau melakukan babat alas rohani dan mendirikan Tanah Perdikan Majan, menjadikannya pusat benteng moral santri tertua.
Sunan Kuning (Raden Mas Garendi / Wali Macanbang): Tokoh ulama/bangsawan pelarian yang makamnya dikeramatkan di puncak bukit Desa Macanbang, Gondang. Dijaga oleh mitologi Macan Putih dan ular gaib penanda Pendopo.
Ki Kasan Thalib (Ki Khasan Thalib / Mbah Wali Sendung): Ulama pengelana asal Magelang yang melakukan babat alas fisik dan spiritual di atas gundukan tanah (puthuk) rawa, yang kini menjadi Dusun Sendung Kalitelu, Gondang. Beliau menyelaraskan energi punden kuno (Danyang Kajar, Wareng, Puthuk Dowo) menjadi tradisi tawasul Islami.
KH. Sulaiman & Syekh Muhammad Mahmud Ikhsan: Dua wali dan kiai sepuh penegak tiang pesantren di kawasan Kamulan (Darissulaimaniyyah dan Hidayatut Thulab) yang makamnya diabadikan berdampingan dengan para bupati di puncak Gunung Cilik Kamulan.
5. Tokoh Epik / Mitologis dalam Linimasa Budaya
Tokoh-tokoh yang mewakili nilai filosofis, hukum karma, dan asal-usul toponimi wilayah Tulungagung:
Nyi Roro Kembang Sore: Simbol kesucian, kecantikan, dan keteguhan prinsip perempuan. Tokoh pergerakan gerilya spiritual yang melarikan diri dari intrik politik Majapahit menuju perbukitan barat (Boyolangu, Tiudan, Mojoarum) guna mempertahankan kehormatannya.
Ki Joko Budeg: Tokoh pemuda yang dikutuk menjadi batu di Gunung Budeg, Boyolangu karena wataknya yang tuli (budeg) terhadap nasihat spiritual orang tua akibat dibutakan asmara duniawi.
Baru Klinting: Tokoh naga mitologis yang lidahnya dipotong hingga menjelma menjadi bilah Tombak Kiai Upas. Kisah Baru Klinting melambangkan pengorbanan ekologis dalam menjinakkan bencana banjir rawa di bumi Tulungagung masa lampau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar