Berdasarkan catatan kronik babat tanah perdikan Mataraman, arsip registrasi desa di kawasan barat Tulungagung, serta kaitannya dengan lansekap sejarah purba sejak era Kediri, berikut adalah narasi lengkap mengenai asal-usul dusun-dusun di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, beserta batas wilayah, kondisi fisik, dan profil masyarakatnya hingga tahun 2026:
I. Asal-Usul Nama Dusun di Desa Notorejo
Nama Notorejo secara etimologi berasal dari kata Noto (menata/mengatur) dan Rejo (kemakmuran/ramai). Maknanya adalah wilayah rawa purba yang berhasil ditata oleh para sesepuh pelarian pasca-Perang Jawa hingga menjadi daerah yang makmur. Desa ini terbagi menjadi beberapa dusun dengan latar belakang toponimi yang unik:
1. Dusun Glonggong
Asal-Usul: Dinamai dari kata Glonggong yang berarti batang kayu atau bambu besar yang berlubang di tengahnya (kopong). Pada masa babat alas, wilayah ini dipenuhi pohon glonggong atau gelagah besar. Para perintis memotong batang-batang ini dan menjadikannya sebagai pipa irigasi darurat tradisional (talang) untuk mengalirkan genangan rawa ke parit pembuangan.
2. Dusun Karang Tengah
3. Dusun Salam
Asal-Usul: Penamaan ini merujuk pada pohon Salam (Syzygium polyanthum) raksasa yang tumbuh di dekat punden awal dusun. Pohon ini dijadikan tetenger (penanda) oleh para pengembara religius. Selain itu, kata Salam dalam tradisi santri lokal dimaknai sebagai ucapan keselamatan (keselamatan dari mara bahaya rawa dan binatang buas).
4. Dusun Sumber
5. Dusun Guyang Gajah
Asal-Usul: Istilah Guyang berarti memandikan, dan Gajah merujuk pada hewan gajah. Konon pada masa kerajaan atau era transisi, wilayah rawa yang dalam dan luas di sektor ini sering dijadikan tempat singgah serta tempat memandikan gajah-gajah tunggangan para bangsawan atau pasukan kerajaan yang sedang melintas di jalur selatan.
6. Dusun Baru Klinting
Asal-Usul: Nama ini bertalian erat dengan mitologi Jawa tentang naga Baru Klinting yang melingkari Gunung Wilis dan mencabut lidi hingga memunculkan air. Secara historis lokal, dusun ini dinamai demikian karena saat pembukaan lahan, warga menemukan benda pusaka berupa lonceng kecil (klintingan) kuno yang diyakini sebagai peninggalan era transisi Majapahit-Mataram.
7. Dusun Dempok
Asal-Usul: Kata Dempok atau Mblegrok dalam istilah dialek lokal merujuk pada kontur tanah yang datar, rendah, dan cenderung melandai amblas. Dusun ini berada di titik paling cekung, di mana endapan lumpur rawa paling tebal berada di sini, membuat tanahnya terasa empuk dan subur jika dikelola untuk pertanian.
II. Batas Wilayah, Geografi, dan Topografi
1. Batas-Batas Wilayah Administratif Desa Notorejo:
Sebelah Utara: Desa Sepatan dan Desa Gondang
Sebelah Timur: Desa Bendungan dan Kecamatan Durenan (Kabupaten Trenggalek)
Sebelah Selatan: Desa Rejosari dan Desa Blendis
Sebelah Barat: Desa Sidem dan kawasan perbukitan lereng Gunung Sidem
2. Kondisi Geografi & Topografi:
Topografi: Berada di ketinggian antara $80 \text{ hingga } 120 \text{ mdpl}$. Kontur tanahnya didominasi oleh dataran rendah aluvial yang sangat subur di bagian tengah dan timur (bekas rawa purba), serta sedikit bergelombang/melandai di sisi barat karena mendekati kaki bukit.
Geografi: Desa Notorejo dilintasi oleh jaringan parit sekunder dan anakan sungai yang bermuara ke DAS Ngasinan. Struktur tanahnya adalah tanah grumosol dan aluvial, menjadikannya sangat cocok untuk tanaman pangan seperti padi dan palawija, namun memerlukan sistem tata kelola air (drainase) yang baik agar tidak tergenang saat musim hujan intensitas tinggi.
III. Profil Masyarakat & Linimasa Sejarah
1. Era Prasasti Kamulan (1194 M) hingga Era Mataram Islam
Pada masa Raja Kertajaya (Kerajaan Kediri) mengeluarkan Prasasti Kamulan, wilayah Notorejo dan dusun-dusunnya belum berwujud pemukiman padat, melainkan berupa hutan belantara, semak gelagah, dan rawa-rawa dalam (vlakte) yang menjadi benteng alam pertahanan Katandan Kamulan.
Baru pada abad ke-19, pasca-Perang Diponegoro, gelombang pelarian prajurit dan ulama dari Jawa Tengah masuk ke wilayah barat Tulungagung. Mereka melakukan babat alas dengan membagi wilayah berdasarkan karakteristik fisik tanah (seperti yang terekam pada nama Dusun Glonggong, Sumber, dan Dempok). Masyarakat pada era ini hidup dalam corak komunal-agraris tradisional yang sangat bergantung pada musim.
2. Perkembangan Modern hingga Pemerintahan Bupati Tulungagung Saat Ini (2026)
Memasuki era modern tahun 2026 di bawah kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Tulungagung saat ini, profil masyarakat Desa Notorejo telah mengalami transformasi yang pesat:
Masyarakat Agraris Modern & Pengusaha: Mayoritas penduduk di Dusun Dempok, Glonggong, dan Karang Tengah masih mempertahankan mata pencaharian sebagai petani produktif. Namun, mereka kini telah mengadopsi mekanisasi pertanian modern (traktor roda empat, mesin panen kombi, dan sistem pemupukan berbasis suplemen). Selain itu, sektor sekunder seperti industri rumahan (pembuatan batu bata di sekitar perbatasan Tiudan/Sepatan) dan peternakan sapi perah/potong tumbuh subur di Dusun Salam dan Sumber.
Karakter Sosial (Religius-Kultural): Karakter asli masyarakat Notorejo adalah guyub rukun dengan asimilasi kultur santri dan abangan yang harmonis. Tradisi keagamaan seperti yasinan, tahlilan, dan manakiban berjalan beriringan dengan pelestarian adat budaya lokal, seperti upacara adat Bersih Desa (Nyadran) di punden dusun masing-masing sebagai simbol ruang syukur atas kesuburan tanah mereka.
Infrastruktur Modern: Keterpencilan masa lalu akibat kepungan rawa kini sudah sirna total. Seluruh dusun dari Glonggong hingga Baru Klinting telah terhubung oleh jalan beton dan aspal hotmix, serta didukung oleh digitalisasi pelayanan administrasi desa yang terintegrasi dengan program pembangunan daerah Kabupaten Tulungagung.
I. Toponimi, Karakter, dan Narasi Sinsing Dusun-Dusun di Tiudan
Desa Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, sejak era purba dikenal sebagai bentang dataran yang diapit oleh perbukitan marginal (selatan) dan luapan banjir sedimen sungai (utara). Karakteristik tanah liatnya yang melimpah membentuk jati diri sosiologis masyarakatnya sebagai penakluk tanah dan api (sentra industri bata merah dan genteng terkemuka).
Dusun-dusunnya memiliki akar toponimi dan karakteristik sosiokultural yang kuat:
Dusun Kudan: Berasal dari kata Kuda atau Pekudaan. Secara historis, wilayah ini merupakan padang rumput datar yang strategis dan digunakan sebagai tempat penambatan, pelatihan, serta peristirahatan kuda-kuda militer maupun kuda beban milik para priyayi dan prajurit kerajaan yang melintas di koridor barat Tulungagung.
Dusun Kleben: Berasal dari dialek Jawa Keleb (tergenang air/kebanjiran). Letaknya berada di titik cekungan drainase alam. Di masa lalu, wilayah ini selalu menjadi area pertama yang terendam luapan air ketika parit-parit sekunder dan sungai mengalami pendangkalan. Di era modern, karakter air ini dijinakkan melalui pembangunan infrastruktur pengairan.
Dusun Kleponan: Penamaan dusun ini bertalian erat dengan keberadaan Bukit Kleponan, sebuah bukit kecil/gundukan tanah yang bentuknya menyerupai jajan pasar tradisional klepon. Sifat tanah di sekitar bukit ini sangat wingit dan menjadi penanda batas ekologis sebelum memasuki dataran yang lebih curam.
Dusun Plenggrong: Nama ini merujuk pada kontur tanah yang memiliki banyak rongga, ceruk, atau lubang alami akibat erosi air masa lalu (melenggong/growong). Struktur tanah di Plenggrong sangat disukai oleh para pengrajin gerabah dan bata karena memiliki lapisan tanah liat (lempung) murni yang sangat tebal.
Dusun Ngampon: Berasal dari kata dasar Ampun atau Ngampung (menumpang/berlindung). Dusun ini awalnya dibuka oleh sekelompok pelarian prajurit pasca-runtuhnya stabilitas Mataram Islam yang meminta izin (ngampon) kepada sesepuh lokal untuk mendirikan gubuk pemukiman dan bertani di bawah perlindungan hukum adat Tiudan.
Dusun Siwalan: Menunjuk pada vegetasi dominan di masa lampau, yaitu rimbunan pohon Siwalan (pohon lontar). Pohon-pohon ini dahulu ditanam di sepanjang batas pekarangan sebagai penahan angin kencang (windbreaker) yang sering berembus dari arah perbukitan selatan menuju dataran rendah Gondang.
Dusun Tenggong: Berasal dari istilah Nggong atau Tenggong, yang menggambarkan kondisi wilayah yang agak terisolasi, menonjol, atau "ngetheng-gheng" di dekat kaki bukit. Masyarakatnya dikenal memiliki watak yang keras, mandiri, dan sangat protektif terhadap batas-batas wilayah komunal mereka.
Dusun Majan (Sektor Tiudan): Menjadi batas penyangga (buffer zone) yang berbatasan atau mendapat pengaruh silsilah dari perdikan Majan. Dinamai berdasarkan historis vegetasi pohon Maja yang pahit. Wilayah ini kental dengan nuansa asimilasi antara kaum santri pendatang dan abangan lokal.
Dusun Bakalan: Berasal dari kata Bakal (sesuatu yang akan diproses). Di era babat alas, dusun ini diplot sebagai pusat pengolahan material mentah pertanian dan batu alam sebelum dibawa ke pasar inti. Karakter masyarakatnya hingga kini sangat dinamis dan kental dengan jiwa kewirausahaan dagang.
Dusun Sumber: Episentrum hidrologi lokal. Dusun ini dinamai demikian karena memiliki titik retakan geografis yang memunculkan mata air alami gurih. Sumber air ini tidak pernah surut meskipun wilayah Gondang lainnya dilanda kemarau panjang, menjadikannya jantung kehidupan bagi dusun-dusun sekitarnya.
II. Kolaborasi Historis-Mitologis: Babad Tulungagung di Tanah Tiudan-Mojoarum
Jika menarik benang merah sejarah berdasarkan Babad Tulungagung, wilayah Tiudan dan tetangganya, Mojoarum, bukanlah sekadar pedesaan biasa. Sektor ini merupakan mandala spiritual sekaligus palagan taktis yang mempertemukan trah ulama, bangsawan pelarian, dan mitologi penunggu tanah Mataraman.
1. Poros Kali Song dan Syiar Syech Basyarudin
Aliran Kali Song yang meliuk di wilayah utara hingga barat merupakan urat nadi peradaban kuno Tulungagung. Di bantaran Kali Song inilah, ulama besar Syech Basyarudin (yang makamnya menjadi jangkar spiritual di Majan) melakukan syiar Islam benteng pertahanan spiritual.
Pengaruh Syech Basyarudin merembes kuat ke Dusun Majan dan Ngampon di Tiudan. Air Kali Song dicuci, didoakan, dan dialirkan melalui saluran-saluran kuno untuk mengairi persawahan Tiudan, mengubah watak keras para pelarian perang di Dusun Ngampon dan Tenggong menjadi masyarakat santri yang taat tanpa menghilangkan keahlian mereka dalam menempa tanah (batu bata).
2. Balada Lokasi Sigar Gunung dan Dam Kleben
Hubungan antara Tiudan dan Mojoarum dibatasi oleh romansa geografis yang tragis, yaitu Sigar Gunung (Gunung yang Terbelah). Konon, celah perbukitan antara Mojoarum dan Tiudan sengaja "disigar" (dibelah) secara supranatural maupun kerja bakti purba untuk mengalirkan air dari hulu pegunungan agar tidak menyumbat dan menenggelamkan wilayah bawah.
Sebagai penjinak aliran air dari celah Sigar Gunung tersebut, dibangunlah Dam Kleben di Dusun Kleben. Dam ini memiliki fungsi historis yang sangat vital:
Jika debit air dari celah Sigar Gunung meluap, Dam Kleben bertindak sebagai katup pengatur agar Dusun Kleben, Plenggrong, dan Kudan tidak terendam banjir lumpur (keleb).
Dam ini menjadi simbol perdamaian tata air (ulu-ulu banyu) antara petani Mojoarum di sisi barat dan pengrajin serta petani Tiudan di sisi timur.
3. Tumpak Gundul, Bukit Kleponan, dan Tragisme Nyi Roro Kembang Sore
Bergerak ke arah selatan, kontur tanah menanjak menuju kawasan Tumpak Gundul dan Bukit Kleponan. Kawasan gundul dan perbukitan sunyi ini dalam Babad Tulungagung merupakan jalur pelarian sekaligus persembunyian Nyi Roro Kembang Sore ketika dikejar-kejar oleh para adipati dan satria yang menginginkan kecantikannya (termasuk gejolak asmara dan politik yang menyeret Kadipaten Bedalem dan sekitarnya).
Di bukit Kleponan yang melingkar inilah, Kembang Sore konon pernah menenangkan diri, menghimpun kekuatan spiritual, sebelum akhirnya melanjutkan laku tirakatnya. Wilayah Tumpak Gundul yang gersang di masa lalu menjadi saksi bisu betapa merananya jalur gerilya spiritual sang putri dalam mempertahankan kesucian diri dan prinsipnya dari ronggongan penguasa korup.
4. Manifestasi Patung Eyang Buronggo dan Penjaga Gaib
Keberadaan makam spiritual dan jalur pelarian Kembang Sore di benteng alam Tiudan-Mojoarum ini dijaga ketat oleh kekuatan gaib yang dipersonifikasikan melalui sosok Eyang Buronggo (Eyang Samber Nyowo/Panglima Buronggo).
Manifestasi spiritual Eyang Buronggo—yang di beberapa titik divisualisasikan dalam bentuk ingatan kolektif patung atau punden penjaga—dipercaya sebagai panglima perang gaib berbaju zirah kuno yang membentengi seluruh dusun di Tiudan (mulai dari Kudan hingga Bakalan) dari serangan pagebluk, roh jahat, maupun intervensi pasukan kolonial di masa lalu. Masyarakat di Dusun Tenggong dan Siwalan meyakini bahwa aura ketegasan Eyang Buronggo inilah yang menitis pada karakter warga Tiudan yang pemberani, pekerja keras, dan tidak mudah tunduk pada tekanan ekonomi.
Profil Masyarakat Modern 2026
Memasuki tahun 2026, kolaborasi antara sejarah, mitologi, dan berkah alam tanah liat ini mewujud utuh dalam profil masyarakat Desa Tiudan yang sejahtera:
Sinkretisme yang Harmonis: Tradisi tawasan, tahlilan, dan penghormatan terhadap jalur syiar Syech Basyarudin berjalan beriringan dengan upacara adat Nyadran di punden Eyang Buronggo serta perawatan ekologis di sekitar Dam Kleben dan Bukit Kleponan.
Kemandirian Ekonomi Berbasis Api: Dusun Plenggrong, Kudan, dan Kleben kini menjadi koridor ekonomi yang sibuk. Tungku-tungku pembakaran bata merah dan genteng terus mengepulkan asap kesejahteraan, membuktikan bahwa tanah liat sisa endapan luapan Kali Song masa lalu kini telah menjelma menjadi fondasi ekonomi utama yang kokoh di Kecamatan Gondang. Warga Tiudan abad modern sukses mengawinkan kerja keras fisik penakluk tanah dengan keteduhan spiritual warisan para leluhur Babad Tulungagung.