Kamis, 18 Juni 2026

BANGUNAN BERSEJARAH DI TULUNGAGUNG

 Narasi sejarah air, beton, dan spiritualitas di Kabupaten Tulungagung adalah babak panjang perjuangan manusia Mataraman dalam menjinakkan alam rawa (Ngrowo). Poros hidrologi dan infrastruktur kuno ini membentang dari era Kolonial, penderitaan Romusha, hingga kemegahan bendungan modern.

Berikut adalah jalinan sejarah, fakta teknis, serta fragmen mistis yang melingkupinya:

1. Dari Parit Raya Kolonial Belanda ke Terowongan Niama Zaman Jepang
2. Sejarah Waduk Wonorejo dan Misteri Makam yang Tak Mau Dipindah
3. Pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung
4. Kejayaan Sungai Ngasinan, Dam Kleben, dan Dam Paingan
5. Balada Jembatan Plengkung Mangunsari Didirikan Belanda (1925)

Dahulu, daratan Tulungagung (terutama bagian selatan dan barat) merupakan cekungan rawa raksasa yang dijuluki Campurdarat. Ketika musim hujan tiba, luapan Sungai Brantas dan anakan sungainya kerap menenggelamkan ribuan hektare lahan pertanian dan pemukiman.

  • Era Kolonial Belanda (Kanalisasi Awal): Pemerintah Belanda mulai memikirkan cara membuang genangan air ini. Mereka merintis pembuatan saluran-saluran pembuangan makro yang dikenal sebagai Parit Raya (Kanal Utama). Parit Raya ini dirancang untuk memotong dan menampung aliran air dari sungai-sungai kecil di barat Kali Ngrowo. Namun, Belanda selalu membentur dinding alam yang kokoh: perbukitan karst (kapur) selatan yang membentengi daratan Tulungagung dari Samudra Hindia. Air macet dan urung terbuang ke laut.

  • Era Jepang & Lahirnya Terowongan Niama (1942–1944): Pemicu utamanya adalah banjir bandang dahsyat 17 November 1942 yang menenggelamkan 150 desa. Angkatan Perang Jepang membutuhkan pasokan padi dari Tulungagung untuk logistik Perang Pasifik. Di bawah komando militer Jepang, dikerahkanlah lebih dari 20.000 tenaga kerja paksa (Romusha) untuk membobol bukit karst tersebut. Proyek drainase brutal ini berhasil menembus bukit kapur bernama Tumpak Oyot. Karena posisinya di kaki gunung, Jepang menamainya Neyama (根山) yang berarti "Akar Gunung" (dalam lidah lokal dieja Niama atau Neyama). Ribuan Romusha gugur akibat kelaparan, malaria, dan kecelakaan kerja demi melubangi terowongan sepanjang ratusan meter ini guna menguras air rawa langsung ke Samudra Hindia.

Untuk menyempurnakan tata kelola air dan memasok kebutuhan listrik serta irigasi Jawa Timur bagian selatan, pada dekade 1990-an hingga diresmikan tahun 2001, dibangunlah Waduk Wonorejo di Kecamatan Pagerwojo. Waduk ini tercatat sebagai salah satu bendungan urugan batu tertinggi di Asia Tenggara.

  • Sisi Mistis Pembangunan: Pembangunan mega-proyek ini memakan ruang pemukiman yang sangat luas, memaksa beberapa desa dan kompleks pekuburan leluhur warga lokal digusur dan dipindahkan. Dalam proses inilah mencuat kisah tutur lisan yang sangat diyakini masyarakat dan para pekerja proyek. Konon, terdapat kompleks makam sesepuh / punden kuno di dasar lembah yang menolak dipindah.

  • Ketika alat-alat berat (eksavator dan buldozer) mencoba meratakan tanah makam tersebut, mesin-mesin tersebut mendadak mati total tanpa sebab teknis yang jelas. Beberapa operator alat berat dikabarkan bermimpi didatangi sosok gaib sepuh yang meminta agar tempat peristirahatan terakhirnya jangan diusik. Akhirnya, melalui jalan tengah supranatural dan demi kelancaran proyek, area makam sakral tersebut dibiarkan tetap utuh di posisinya, tenggelam bersama miliaran kubik air dan kini abadi berada di dasar Waduk Wonorejo.

Memasuki abad ke-21, fokus pembangunan bergeser dari penjinakan air menuju pembukaan akses ekonomi interkoneksi pulau melalui Jalur Lintas Selatan (JLS) atau Jalan Lintas Pantai Selatan (Pansela).

  • Koridor JLS di wilayah selatan Tulungagung membelah tebing-tebing kapur dan menyuguhkan pemandangan eksotis Samudra Hindia (menghubungkan rute Trenggalek–Tulungagung–Blitar).

  • Proyek ini membalikkan peta kemiskinan kawasan selatan yang dulu terisolasi. Pantai-pantai selatan Tulungagung seperti Pantai Gemah, Sine, hingga Klathak kini menjadi magnet pertumbuhan ekonomi modern yang masif, membebaskan wilayah selatan dari stigma kawasan "tertinggal" akibat kepungan benteng alam kapur.

Tata air di kawasan dataran rendah juga mengandalkan pembagian zona hidrologi yang ketat:

  • DAS Ngasinan Utara dan Selatan: Sungai Ngasinan merupakan urat nadi kuno logistik perahu. DAS Ngasinan Utara mengalirkan berkah aluvial subur bagi pertanian di wilayah Durenan hingga perbatasan Gondang timur. Sementara DAS Ngasinan Selatan bertindak sebagai pengumpul aliran yang nantinya dialirkan menuju sistem pembuangan akhir Parit Raya dan Terowongan Niama.

  • Dam Kleben (Tiudan) dan Dam Paingan: Sebagai penjinak arus deras dari celah perbukitan Sigar Gunung (batas supranatural pembelahan bukit antara Mojoarum dan Tiudan), dibangunlah infrastruktur Dam Kleben di Dusun Kleben. Dam ini sangat vital untuk membagi air irigasi pertanian (ulu-ulu banyu) agar wilayah pemukiman tidak terendam banjir lumpur sedimen tanah liat. Sementara Dam Paingan mengontrol suplai air bagi persawahan penyangga logistik pangan lintas kecamatan, memastikan pasokan air konstan sepanjang musim.

Bergerak ke pusat kota (koridor Kedungwaru-Kota), berdiri kokoh Jembatan Plengkung Mangunsari (terletak di Dusun Grobogan, Desa Mangunsari). Jembatan ini dibangun oleh arsitek Kolonial Belanda pada tahun 1925 menggunakan kombinasi beton tebal dan besi baja kualitas tinggi.

  • Desain Ikonik: Dinamai "Plengkung" karena memiliki ciri arsitektur tiga lengkungan setengah lingkaran bergaya Eropa Klasik di sisi-sisinya. Jembatan ini didirikan untuk menghubungkan akses logistik melintasi sungai pasca-pemindahan ibu kota dari Kalangbret. Di atas jembatan ini, dulunya juga dilewati jalur rel kereta tebu/logistik kuno.

  • Kisah Heroik & Mistis: Terdapat cerita tutur rakyat yang menyebutkan bahwa pada masa Agresi Militer, pejuang lokal mencoba meledakkan jembatan ini dengan bom guna memutus jalur pergerakan tentara Belanda. Namun, keajaiban terjadi; jembatan ini sama sekali tidak hancur dan hanya mengalami kerusakan minor di struktur penyangganya, membuktikan betapa digdayanya kualitas beton cor semen era kolonial tersebut. Hingga kini, Jembatan Plengkung Mangunsari dihormati sebagai struktur Cagar Budaya yang menjadi saksi bisu ketangguhan fisik kota Tulungagung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar