Jumat, 03 Juli 2026

 KELUARGA BESAR BANI WARSI TAHUN 2026

Berikut adalah pengembangan daftar nama anggota keluarga besar Bani Warsi yang telah diperluas hingga mencakup leluhur atas (orang tua) dan saudara kandung dari pihak (Alm.) Warsi maupun (Almh.) Sukidjah.

Daftar ini disusun secara runtut dari atas ke bawah berdasarkan urutan generasi (jenjang), menggunakan penomoran angka berlanjut, serta dilengkapi dengan total jumlah di setiap jenjangnya.

JENJANG LELUHUR ATAS (KAKEK & NENEK BUYUT BANI WARSI)

  • Total: 3 Orang Leluhur Atas

  1. Mbah Singoleksono (Kakek dari jalur Bapak Warsi)

  2. Mbah Kartodimejo bin Singoleksono (Kakek dari jalur Bapak Warsi)

  3. Mbah Kasan Talib (Kakek dari jalur Ibu Sukidjah)

JENJANG ORANG TUA / METUA LELUHUR UTAMA

  • Total: 5 Orang Orang Tua (Kandung & Tiri)

Pihak (Alm.) Warsi:

4. (Alm.) Mbah Kartojo bin Kartodimejo (Bapak Kandung)

5. (Almh.) Mbah Dimah (Ibu Kandung)

6. (Almh.) Mbah Sukinem (Ibu Tiri)

Pihak (Almh.) Sukidjah:

7. Mbah Sali (Bapak Kandung)

8. Mbah Atun binti Kasan Talib (Ibu Kandung)

JENJANG SAUDARA KANDUNG & IPAR LELUHUR UTAMA

  • Total: 12 Saudara Kandung, 3 Saudara Ipar (Catatan: 4 nama saudara Bapak Warsi lainnya belum terdata)

Saudara Kandung & Ipar (Alm.) Warsi:

9. Mbah Kadir (Saudara Kandung ke-1)

10. Mbah Djaenab (Saudara Kandung ke-2)

11. Mbah Kaseno (Saudara Kandung ke-3)

12. Mbah Kandung (Saudara Kandung ke-4 / Belum Terdata Namanya)

13. Mbah Kandung (Saudara Kandung ke-5 / Belum Terdata Namanya)

14. Mbah Kandung (Saudara Kandung ke-6 / Belum Terdata Namanya)

15. Mbah Kandung (Saudara Kandung ke-7 / Belum Terdata Namanya)

Saudara Kandung & Ipar (Almh.) Sukidjah:

16. Muaji (Saudara Kandung ke-1)

17. Mbah Gamah (Saudara Kandung ke-2)

18. Mbah Sinto (Saudara Kandung ke-3)

19. Mbah Senen (Saudara Kandung ke-4)

20. Mbah Kandung (Saudara Kandung ke-5 / Belum Terdata Namanya)

21. Sapangatun (Istri dari Muaji / Saudara Ipar)

22. Tohir (Suami dari Mbah Sinto / Saudara Ipar)

23. Ketun (Istri dari Mbah Senen / Saudara Ipar)

JENJANG LELUHUR UTAMA BANI WARSI

  • Total: 1 Suami, 1 Istri

  1. (Alm.) Warsi bin Kartodjo (Suami / Leluhur Utama)

  2. (Almh.) Sukidjah binti Sali (Istri / Leluhur Utama)

JENJANG GENERASI II: ANAK KANDUNG & MENANTU

  • Total: 5 Anak, 5 Menantu

Anak Kandung:

26. Musidah (Anak ke-1)

27. Muslimah (Anak ke-2)

28. Sungeb (Anak ke-3)

29. Siti Aminah (Anak ke-4)

30. Moch. Abdul Fattah / Jaenuri (Anak ke-5)

Menantu:

31. (Alm.) Saji bin Bero (Suami Ibu Musidah)

32. (Alm.) Samiaji bin Samari (Suami Ibu Muslimah)

33. Warsini (Istri Bapak Sungeb)

34. Syamsi Dukha (Suami Ibu Siti Aminah)

35. Mira Tzien (Istri Bapak Moch. Abdul Fattah)

JENJANG GENERASI III: CUCU KANDUNG & MENANTU CUCU

  • Total: 13 Cucu, 8 Menantu Cucu

Cucu Kandung:

36. Sujianah (Cucu dari Ibu Musidah)

37. Juariyah (Cucu dari Ibu Musidah)

38. Imam Safi'i (Cucu dari Ibu Musidah)

39. Rusita (Cucu dari Ibu Muslimah)

40. Dwi Rohmatullah (Cucu dari Ibu Muslimah)

41. Syamsun Nisa' (Cucu dari Bapak Sungeb)

42. Lailatus Syurur (Cucu dari Bapak Sungeb)

43. Hidayatul Muna (Cucu dari Ibu Siti Aminah)

44. Rofiqoh (Cucu dari Ibu Siti Aminah)

45. Fatimah Tri Lestari (Cucu dari Ibu Siti Aminah)

46. Fatoni Millen Anggara (Cucu dari Bapak Moch. Abdul Fattah)

47. Zamhari Mirza Saputera (Cucu dari Bapak Moch. Abdul Fattah)

48. Attila Borneo Triwardhana (Cucu dari Bapak Moch. Abdul Fattah)

Menantu Cucu:

49. Pujianto (Suami Ibu Sujianah)

50. Ismanto (Suami Ibu Juariyah)

51. Dwi Pramila Octafiana (Istri Bapak Imam Safi'i)

52. Juwariyanto (Suami Ibu Rusita)

53. Ahyar Rohman (Suami Ibu Syamsun Nisa')

54. Agus Susanto (Suami Ibu Hidayatul Muna)

55. Wahyudi Azror (Suami Ibu Rofiqoh)

56. Fani (Istri Bapak Fatoni Millen Anggara)

JENJANG GENERASI IV: CICIT KANDUNG & MENANTU CICIT

  • Total: 11 Cicit, 1 Menantu Cicit

Cicit Kandung:

57. Heru Susanto (Cicit dari jalur Ibu Sujianah)

58. Destiana Saputri (Cicit dari jalur Ibu Sujianah)

59. Mayang Ayuning Tiyas (Cicit dari jalur Ibu Juariyah)

60. Nayla Syafira Nur Fadillah (Cicit dari jalur Bapak Imam Safi'i)

61. Roidahtul Chelsea Livia Febriyanti (Cicit dari jalur Ibu Rusita)

62. Muhammad Barikh Zidan Slamet al Utomo (Cicit dari jalur Ibu Rusita)

63. Mochamad Syahrul Fahri (Cicit dari jalur Ibu Syamsun Nisa')

64. Devina Putri Rahmany (Cicit dari jalur Ibu Syamsun Nisa')

65. Vania Imroatus Zahro' (Cicit dari jalur Ibu Hidayatul Muna)

66. Dzakiya Rikzatun Nisa (Cicit dari jalur Ibu Hidayatul Muna)

67. Muhammad Patria Candra Gusna Alfarizi (Cicit dari jalur Ibu Hidayatul Muna)

68. Adiba Fitrotul Aula (Cicit dari jalur Ibu Rofiqoh)

69. Balqis Humairo Khoirunniswah (Cicit dari jalur Ibu Rofiqoh)

Menantu Cicit:

70. Yudiono (Suami dari Mayang Ayuning Tiyas)

JENJANG GENERASI V: CICIT BUYUT (CANGGAH)

  • Total: 1 Cicit Buyut

  1. Hasana Khoirunnisa Ditya Putri (Anak dari Ibu Mayang Ayuning Tiyas)

Kamis, 18 Juni 2026

BANGUNAN BERSEJARAH DI TULUNGAGUNG

 Narasi sejarah air, beton, dan spiritualitas di Kabupaten Tulungagung adalah babak panjang perjuangan manusia Mataraman dalam menjinakkan alam rawa (Ngrowo). Poros hidrologi dan infrastruktur kuno ini membentang dari era Kolonial, penderitaan Romusha, hingga kemegahan bendungan modern.

Berikut adalah jalinan sejarah, fakta teknis, serta fragmen mistis yang melingkupinya:

1. Dari Parit Raya Kolonial Belanda ke Terowongan Niama Zaman Jepang
2. Sejarah Waduk Wonorejo dan Misteri Makam yang Tak Mau Dipindah
3. Pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung
4. Kejayaan Sungai Ngasinan, Dam Kleben, dan Dam Paingan
5. Balada Jembatan Plengkung Mangunsari Didirikan Belanda (1925)

Dahulu, daratan Tulungagung (terutama bagian selatan dan barat) merupakan cekungan rawa raksasa yang dijuluki Campurdarat. Ketika musim hujan tiba, luapan Sungai Brantas dan anakan sungainya kerap menenggelamkan ribuan hektare lahan pertanian dan pemukiman.

  • Era Kolonial Belanda (Kanalisasi Awal): Pemerintah Belanda mulai memikirkan cara membuang genangan air ini. Mereka merintis pembuatan saluran-saluran pembuangan makro yang dikenal sebagai Parit Raya (Kanal Utama). Parit Raya ini dirancang untuk memotong dan menampung aliran air dari sungai-sungai kecil di barat Kali Ngrowo. Namun, Belanda selalu membentur dinding alam yang kokoh: perbukitan karst (kapur) selatan yang membentengi daratan Tulungagung dari Samudra Hindia. Air macet dan urung terbuang ke laut.

  • Era Jepang & Lahirnya Terowongan Niama (1942–1944): Pemicu utamanya adalah banjir bandang dahsyat 17 November 1942 yang menenggelamkan 150 desa. Angkatan Perang Jepang membutuhkan pasokan padi dari Tulungagung untuk logistik Perang Pasifik. Di bawah komando militer Jepang, dikerahkanlah lebih dari 20.000 tenaga kerja paksa (Romusha) untuk membobol bukit karst tersebut. Proyek drainase brutal ini berhasil menembus bukit kapur bernama Tumpak Oyot. Karena posisinya di kaki gunung, Jepang menamainya Neyama (根山) yang berarti "Akar Gunung" (dalam lidah lokal dieja Niama atau Neyama). Ribuan Romusha gugur akibat kelaparan, malaria, dan kecelakaan kerja demi melubangi terowongan sepanjang ratusan meter ini guna menguras air rawa langsung ke Samudra Hindia.

Untuk menyempurnakan tata kelola air dan memasok kebutuhan listrik serta irigasi Jawa Timur bagian selatan, pada dekade 1990-an hingga diresmikan tahun 2001, dibangunlah Waduk Wonorejo di Kecamatan Pagerwojo. Waduk ini tercatat sebagai salah satu bendungan urugan batu tertinggi di Asia Tenggara.

  • Sisi Mistis Pembangunan: Pembangunan mega-proyek ini memakan ruang pemukiman yang sangat luas, memaksa beberapa desa dan kompleks pekuburan leluhur warga lokal digusur dan dipindahkan. Dalam proses inilah mencuat kisah tutur lisan yang sangat diyakini masyarakat dan para pekerja proyek. Konon, terdapat kompleks makam sesepuh / punden kuno di dasar lembah yang menolak dipindah.

  • Ketika alat-alat berat (eksavator dan buldozer) mencoba meratakan tanah makam tersebut, mesin-mesin tersebut mendadak mati total tanpa sebab teknis yang jelas. Beberapa operator alat berat dikabarkan bermimpi didatangi sosok gaib sepuh yang meminta agar tempat peristirahatan terakhirnya jangan diusik. Akhirnya, melalui jalan tengah supranatural dan demi kelancaran proyek, area makam sakral tersebut dibiarkan tetap utuh di posisinya, tenggelam bersama miliaran kubik air dan kini abadi berada di dasar Waduk Wonorejo.

Memasuki abad ke-21, fokus pembangunan bergeser dari penjinakan air menuju pembukaan akses ekonomi interkoneksi pulau melalui Jalur Lintas Selatan (JLS) atau Jalan Lintas Pantai Selatan (Pansela).

  • Koridor JLS di wilayah selatan Tulungagung membelah tebing-tebing kapur dan menyuguhkan pemandangan eksotis Samudra Hindia (menghubungkan rute Trenggalek–Tulungagung–Blitar).

  • Proyek ini membalikkan peta kemiskinan kawasan selatan yang dulu terisolasi. Pantai-pantai selatan Tulungagung seperti Pantai Gemah, Sine, hingga Klathak kini menjadi magnet pertumbuhan ekonomi modern yang masif, membebaskan wilayah selatan dari stigma kawasan "tertinggal" akibat kepungan benteng alam kapur.

Tata air di kawasan dataran rendah juga mengandalkan pembagian zona hidrologi yang ketat:

  • DAS Ngasinan Utara dan Selatan: Sungai Ngasinan merupakan urat nadi kuno logistik perahu. DAS Ngasinan Utara mengalirkan berkah aluvial subur bagi pertanian di wilayah Durenan hingga perbatasan Gondang timur. Sementara DAS Ngasinan Selatan bertindak sebagai pengumpul aliran yang nantinya dialirkan menuju sistem pembuangan akhir Parit Raya dan Terowongan Niama.

  • Dam Kleben (Tiudan) dan Dam Paingan: Sebagai penjinak arus deras dari celah perbukitan Sigar Gunung (batas supranatural pembelahan bukit antara Mojoarum dan Tiudan), dibangunlah infrastruktur Dam Kleben di Dusun Kleben. Dam ini sangat vital untuk membagi air irigasi pertanian (ulu-ulu banyu) agar wilayah pemukiman tidak terendam banjir lumpur sedimen tanah liat. Sementara Dam Paingan mengontrol suplai air bagi persawahan penyangga logistik pangan lintas kecamatan, memastikan pasokan air konstan sepanjang musim.

Bergerak ke pusat kota (koridor Kedungwaru-Kota), berdiri kokoh Jembatan Plengkung Mangunsari (terletak di Dusun Grobogan, Desa Mangunsari). Jembatan ini dibangun oleh arsitek Kolonial Belanda pada tahun 1925 menggunakan kombinasi beton tebal dan besi baja kualitas tinggi.

  • Desain Ikonik: Dinamai "Plengkung" karena memiliki ciri arsitektur tiga lengkungan setengah lingkaran bergaya Eropa Klasik di sisi-sisinya. Jembatan ini didirikan untuk menghubungkan akses logistik melintasi sungai pasca-pemindahan ibu kota dari Kalangbret. Di atas jembatan ini, dulunya juga dilewati jalur rel kereta tebu/logistik kuno.

  • Kisah Heroik & Mistis: Terdapat cerita tutur rakyat yang menyebutkan bahwa pada masa Agresi Militer, pejuang lokal mencoba meledakkan jembatan ini dengan bom guna memutus jalur pergerakan tentara Belanda. Namun, keajaiban terjadi; jembatan ini sama sekali tidak hancur dan hanya mengalami kerusakan minor di struktur penyangganya, membuktikan betapa digdayanya kualitas beton cor semen era kolonial tersebut. Hingga kini, Jembatan Plengkung Mangunsari dihormati sebagai struktur Cagar Budaya yang menjadi saksi bisu ketangguhan fisik kota Tulungagung.

DUSUN DUSUN DI KECAMATAN GONDANG

 Berdasarkan basis data pemetaan digital Wikimapia serta artikel pembagian administratif desa di Wikipedia hingga tahun 2026, Kecamatan Gondang, Tulungagung memiliki pembagian wilayah yang sangat mendetail.

Berikut adalah daftar nama dusun-dusun (termasuk dukuh/kampung lokal yang terplot secara spasial) di wilayah Kecamatan Gondang yang telah tercatat dan terindeks di kedua platform tersebut, dikelompokkan berdasarkan desanya:

1. Desa Gondang (Pusat Kecamatan)

  • Dusun Gondang (Gondang Kota)

  • Dusun Sendung (Sektor utara Kali Telu)

  • Dusun Kates

2. Desa Sepatan

  • Dusun Sepatan

  • Dusun Senden (Senden Lor & Senden Kidul, berbatasan dengan Kali Telu)

  • Dusun Puthuk

3. Desa Tiudan (Sentra Bata & Genteng)

Desa ini memiliki plot spasial paling padat di Wikimapia karena aktivitas industrinya:

  • Dusun Kudan

  • Dusun Kleben (Tempat berlokasinya Dam Kleben)

  • Dusun Kleponan (Dekat sektor Bukit Kleponan)

  • Dusun Plenggrong

  • Dusun Ngampon

  • Dusun Siwalan

  • Dusun Tenggong

  • Dusun Majan (Sektor Tiudan Barat)

  • Dusun Bakalan

  • Dusun Sumber

4. Desa Notorejo

  • Dusun Glonggong

  • Dusun Karang Tengah

  • Dusun Salam

  • Dusun Sumber (Notorejo)

  • Dusun Guyang Gajah

  • Dusun Baru Klinting

  • Dusun Dempok

5. Desa Mojoarum

  • Dusun Mojoarum

  • Dusun Centong

  • Dusun Suren (Dekat area lereng perbukitan)

  • Dusun Gunung Cilik (Sektor bawah objek wisata Gunung Cilik Park)

6. Desa Macanbang

  • Dusun Macanbang (Pusat punden Sunan Kuning)

  • Dusun Dawung

  • Dusun Ngemplak

7. Desa Jarakan

  • Dusun Jarakan

  • Dusun Krajan

  • Dusun Puthuk Maron

8. Desa Bendungan

  • Dusun Bendungan

  • Dusun Patoman

  • Dusun Gambrengan

9. Desa Ngrendeng

  • Dusun Ngrendeng

  • Dusun Sono

  • Dusun Tanggulkundung (Sektor perbatasan parit air)

10. Desa Blendis, Sidem, Sidorejo, dan Rejosari (Sektor Selatan/Barat)

  • Dusun Blendis

  • Dusun Sidem

  • Dusun Krajan Sidorejo

  • Dusun Bedali

  • Dusun Toro (Terplot sebagai pemukiman lereng di Wikimapia)

  • Dusun Rejosari

Perbedaan Pencatatan di Kedua Platform:

  • Wikipedia: Lebih fokus pada akurasi data administratif. Nama-nama dusun di atas tercatat di dalam artikel utama desa masing-masing sebagai sub-bagian resmi dari struktur pemerintahan desa.

  • Wikimapia: Lebih kaya akan nama kampung, dukuh, atau clump pemukiman lokal karena sistemnya berbasis kontribusi pengguna (crowdsourcing). Di Wikimapia, Anda juga bisa menemukan koordinat khusus seperti "Kampung Sentra Genteng Tiudan", "Punden Sendung", hingga "Dam Air Kleben" yang ditandai dalam kotak poligon poligon peta.

TOKOH LEGENDARIS DAN MITOLOGIS DI TULUNGAGUNG

 Berdasarkan naskah Babad Tulungagung, kronik tanah Jawa, registrasi cagar budaya Disbudpar Tulungagung, serta catatan silsilah kuno yang tersimpan di Pendopo Aspirasi Kabupaten Tulungagung, sejarah wilayah ini dibentuk oleh jalinan kepemimpinan dari berbagai era.

Berikut adalah daftar nama tokoh, raja, adipati, sesepuh, syeikh, auliya, wali, dan penguasa masa lampau yang melakukan babat alas atau meletakkan fondasi kedaulatan di tanah Tulungagung (Ngrowo), dikelompokkan berdasarkan medium pengabadian sejarahnya:

1. Tokoh yang Diabadikan di Candi & Relief (Era Klasik Hindu-Buddha)

Para penguasa dan tokoh agung ini diabadikan melalui monumen batu (pendarmaan) atas peran besar mereka dalam puncak peradaban kerajaan Jawa:

  • Sri Rajapatni Gayatri (Diah Gayatri): Tokoh perempuan paling agung dalam sejarah Majapahit (istri Raden Wijaya, nenek Hayam Wuruk). Beliau adalah arsitek di balik kejayaan Majapahit. Abu jenazahnya didharmakan di Candi Gayatri (Boyolangu) dalam wujud arca Prajnaparamita.

  • Prabu Angling Dharma: Raja legendaris dari Kerajaan Malawapati. Kisah hidup, ajaran, dan heroisme beliau diabadikan secara visual melalui guratan-guratan relief indah di dinding Candi Mirigambar, Sumbergempol.

  • Raja Sri Srengga (Prabu Kertajaya / Dandang Gendhis): Raja terakhir Kerajaan Kadiri yang namanya terekam dalam pembangunan dan piagam pemuliaan tempat-tempat suci di lereng Wilis, termasuk pengaruhnya pada fase awal Candi Penampihan (Sendang).

2. Tokoh yang Tercatat di Prasasti Kamulan (1194 M) & Prasasti Lawadan (1205 M)

Nama-nama ini melekat pada piagam batu resmi kerajaan sebagai pahlawan pertahanan negara yang menjadi cikal bakal Hari Jadi Tulungagung:

  • Raja Sri Kertajaya: Mengeluarkan Prasasti Kamulan (1194 M) sebagai penghargaan kepada para Samya (kepala wilayah/sesepuh) Katandan Kamulan yang setenang batu karang membentengi raja dari serbuan musuh dari arah timur.

  • Para Samya Katandan Kamulan: Kolektif sesepuh/penguasa lokal purba (koridor Durenan-Gondang) yang memimpin pasukan rakyat penakluk rawa untuk mengamankan kedaulatan raja.

  • Prabu Srengga / Kertajaya (Kembali Tercatat): Mengeluarkan Prasasti Lawadan (18 November 1205 M) yang memberikan status hak otonom (Sima) bebas pajak kepada warga desa Lawadan karena telah berjasa menghalau musuh dari arah selatan. Tanggal prasasti ini disepakati secara administratif di Pendopo sebagai Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.

3. Tokoh Adipati & Penguasa yang Tercatat di Pendopo Kabupaten Tulungagung

Nama-nama ini merupakan jajaran birokrat, kesatria, dan Bupati awal yang memimpin transisi wilayah dari daerah rawa Ngrowo menjadi pusat pemerintahan modern:

  • Adipati Kalang (Eyang Kalang): Penguasa otonom Suku Kalang yang legendaris. Wataknya keras dan menolak tunduk pada penataan wilayah luar. Ia gugur dalam pertempuran taktis, di mana tubuhnya terkoyak (disembret-sembret), sebuah palagan berdarah yang melahirkan nama ibu kota pertama: Kalangbret.

  • Tumenggung Ngabehi Mangoendirono (Bupati Ngrowo I): Tokoh yang ditunjuk oleh Mataram Islam untuk memimpin Kadipaten Ngrowo pasca-penaklukan Kalangbret. Beliau menata sistem pemerintahan formal pertama di barat sungai.

  • Raden Tumenggung Notodiningrat: Bupati yang mencatatkan sejarah besar dengan memindahkan ibu kota pemerintahan dari Kalangbret (yang rawan banjir) menuju ke arah timur pada awal abad ke-19, yang kemudian melahirkan nama "Tulungagung" (Sumber air besar yang membawa pertolongan).

  • Kanjeng Jimat (R.M.A.R. Yoedodiningrat): Bupati Tulungagung yang sangat dicintai rakyat. Namanya harum di Pendopo karena meletakkan cetak biru modernisasi kota: membangun Masjid Jami', menata Alun-alun, Pendopo, serta memperkuat sektor pertanian rakyat.

  • KPAA Sosroningrat (Raden Tumenggung Adipati Sosrodiningrat): Bupati Tulungagung yang tercatat sebagai pemelihara agung Pusaka Tombak Kiai Upas. Makamnya diabadikan di pemakaman wingit Makam Kanjengan Giriloyo, Gunung Cilik Kamulan.

4. Syeikh, Auliya, Wali, dan Sesepuh Babat Alas (Koridor Spiritual Babad Tulungagung)

Para tokoh sufi dan penyebar agama Islam yang bertindak sebagai "penjinak" aura mistis rawa purba dan membimbing karakter masyarakat Mataraman:

  • Joko Baru / Kyai Lembu Peteng: Putra spiritual yang ditugaskan memegang kendali Tombak Kiai Upas (pusaka pemersatu dan danyang Tulungagung). Dijuluki Lembu Peteng karena kekuatannya seperti banteng (lembu) namun laku tirakatnya bergerak senyap di bawah tanah (peteng). Makamnya di Kutoanyar menjadi poros ziarah utama.

  • Syeikh Basyaruddin: Ulama besar, syeikh penakluk spiritual wilayah barat sungai, serta guru dari Bupati pertama. Beliau melakukan babat alas rohani dan mendirikan Tanah Perdikan Majan, menjadikannya pusat benteng moral santri tertua.

  • Sunan Kuning (Raden Mas Garendi / Wali Macanbang): Tokoh ulama/bangsawan pelarian yang makamnya dikeramatkan di puncak bukit Desa Macanbang, Gondang. Dijaga oleh mitologi Macan Putih dan ular gaib penanda Pendopo.

  • Ki Kasan Thalib (Ki Khasan Thalib / Mbah Wali Sendung): Ulama pengelana asal Magelang yang melakukan babat alas fisik dan spiritual di atas gundukan tanah (puthuk) rawa, yang kini menjadi Dusun Sendung Kalitelu, Gondang. Beliau menyelaraskan energi punden kuno (Danyang Kajar, Wareng, Puthuk Dowo) menjadi tradisi tawasul Islami.

  • KH. Sulaiman & Syekh Muhammad Mahmud Ikhsan: Dua wali dan kiai sepuh penegak tiang pesantren di kawasan Kamulan (Darissulaimaniyyah dan Hidayatut Thulab) yang makamnya diabadikan berdampingan dengan para bupati di puncak Gunung Cilik Kamulan.

5. Tokoh Epik / Mitologis dalam Linimasa Budaya

Tokoh-tokoh yang mewakili nilai filosofis, hukum karma, dan asal-usul toponimi wilayah Tulungagung:

  • Nyi Roro Kembang Sore: Simbol kesucian, kecantikan, dan keteguhan prinsip perempuan. Tokoh pergerakan gerilya spiritual yang melarikan diri dari intrik politik Majapahit menuju perbukitan barat (Boyolangu, Tiudan, Mojoarum) guna mempertahankan kehormatannya.

  • Ki Joko Budeg: Tokoh pemuda yang dikutuk menjadi batu di Gunung Budeg, Boyolangu karena wataknya yang tuli (budeg) terhadap nasihat spiritual orang tua akibat dibutakan asmara duniawi.

  • Baru Klinting: Tokoh naga mitologis yang lidahnya dipotong hingga menjelma menjadi bilah Tombak Kiai Upas. Kisah Baru Klinting melambangkan pengorbanan ekologis dalam menjinakkan bencana banjir rawa di bumi Tulungagung masa lampau.

Rabu, 17 Juni 2026

KISAH BABAD TULUNGAGUNG DAN BABAD SENDUNG

 Hubungan historis antara keenam candi besar di Tulungagung dengan jaringan petilasan kuno, punden danyang di sekitar Sendung Kali Telu (Gondang), serta mitologi besar (Baru Klinting, Kembang Sore, Joko Budeg, dan Prasasti Kamulan) terjalin melalui konsep Geografi Spiritual (Spiritual Geography) dan Sistem Pertahanan Mandala pada masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit.

Dalam kosmologi Jawa kuno, candi besar tidak berdiri terisolasi. Candi bertindak sebagai pusat spiritual makro (jagat gede), sedangkan punden danyang, petilasan ulama, dan makam kuno di wilayah sekitarnya (seperti koridor Sendung) bertindak sebagai benteng pengaman mikro (jagat cilik) sekaligus jalur logistik/gerilya.

Berikut adalah jalinan hubungan historis dan benang merah yang menyatukan semuanya:

1. Benang Merah Prasasti Kamulan (1194 M) dan Jaringan Danyang Purba

Prasasti Kamulan (Durenan) adalah kunci pembuka sejarah wilayah ini. Prasasti tersebut mencatat bahwa daerah Kamulan dan sekitarnya (termasuk Gondang) dijadikan tanah perdikan (Sima) karena warganya berhasil memukul mundur musuh raja dari arah timur.

  • Hubungan dengan Danyang Sendung (Wareng, Kajar, Grumbul, Puthuk Dowo): Sebelum ditata oleh para danyang dan dipeluk oleh syiar Islam, wilayah Sendung Kali Telu adalah benteng pertahanan alam berupa rawa-rawa dalam dan hutan wingit.

  • Tempat-tempat seperti Danyang Wareng, Danyang Kajar, Danyang Grumbul, Danyang Tugu Miring, dan Danyang Puthuk Dowo (gundukan tanah panjang) sebenarnya adalah pos-pos intip, batas ekologis, atau benteng pertahanan taktis pasukan kuno Katandan Kamulan. Ketika para prajurit atau tetua itu wafat, tempat mereka bertahan bertransformasi menjadi punden danyang yang dihormati masyarakat sebagai pelindung desa.

2. Transformasi Spiritual: Dari Candi Majapahit ke Ki Kasan Thalib (Mbah Wali Sendung)

Ada lompatan sejarah yang harmonis ketika era Hindu-Buddha runtuh dan digantikan oleh era Islam (Mataram Islam):

  • Jalur Penghubung Candi: Candi Sanggrahan dan Candi Gayatri di Boyolangu merupakan pusat peradaban intelektual dan keagamaan masa Majapahit. Ketika kerajaan runtuh, para resi dan keturunan ningrat menyebar ke arah barat sungai (Gondang) untuk bersembunyi di wilayah rawa.

  • Peran Ki Kasan Thalib: Memasuki abad ke-19, Ki Kasan Thalib (Mbah Wali Sendung) datang membawa lentera syiar Islam dari trah Magelang/Mataram. Beliau melakukan babat alas di Dusun Sendung. Hebatnya, Ki Kasan Thalib tidak menghancurkan punden kuno (seperti Puthuk Dowo atau Grumbul), melainkan melakukan "Islamisiasi ruang". Ritual pemujaan danyang digeser menjadi tradisi doa bersama, tahlilan, dan tawasulan, sehingga kawasan bekas benteng kuno tersebut kini selamat dan dikenal sebagai "Kampung Santri".

3. Mitologi Baru Klinting, Kembang Sore, Joko Budeg, dan Kaitannya dengan Candi

Kisah-kisah mistis yang Anda sebutkan sebenarnya adalah alegori sosiologis yang memotret pergeseran kekuasaan di sekitar candi-candi Tulungagung:

    [ MANDALA UTAMA / PUSAT ]
  - Candi Gayatri (Sri Rajapatni)
  - Candi Sanggrahan (Buddha)
             |
             | (Jalur Pelarian / Gerilya)
             v
    [ MANDALA BARAT: GONDANG ]             [ MANDALA SELATAN: BOYOLANGU ]
  - Punden Sendung (Danyang Kajar/Wareng)  - Gunung Budeg (Ki Joko Budeg)
  - Penjaga: Ular Baru Klinting            - Makam Nyi Roro Kembang Sore
  • Nyi Roro Kembang Sore & Candi Gayatri: Dalam Babad, Kembang Sore digambarkan sebagai sosok wanita suci, jelita, dan dikejar-kejar banyak lelaki karena memegang berkah wilayah. Secara historis, sosok Kembang Sore adalah visualisasi rakyat terhadap Sri Rajapatni Gayatri (Candi Gayatri) atau keturunannya yang harus melarikan diri ke wilayah barat sungai (termasuk bersembunyi di sekitar perbukitan Tiudan, Mojoarum, dan Sendung) demi menghindari perang saudara Majapahit.

  • Ki Joko Budeg (Boyolangu): Gunung Budeg tegak lurus mengawasi kompleks Candi Gayatri dan Candi Dadi. Tokoh Joko Budeg yang menjadi batu melambangkan kegagalan para kesatria lokal yang tidak mampu mengontrol nafsu duniawi untuk merebut kesucian spiritual Mandala Boyolangu.

CANDI YANG BERADA DI TULUNGAGUNG

 Berdasarkan data resmi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung serta registrasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), terdapat 6 candi utama peninggalan era klasik (Hindu-Buddha) yang tercatat sebagai situs cagar budaya penting di wilayah Kabupaten Tulungagung:

1. Candi Gayatri (Candi Boyolangu)

  • Lokasi: Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu.

  • Profil: Candi ini sangat ikonik karena merupakan tempat pendharmaan (persemayaman abu jenazah) Sri Rajapatni Gayatri, istri dari pendiri Majapahit (Raden Wijaya) sekaligus nenek dari Prabu Hayam Wuruk. Di situs ini terdapat arca wanita berukuran besar (Bodhisattwadewi Prajnaparamita) yang memancarkan aura keanggunan Majapahit.

  • Koordinat Maps: Maps untuk Candi Gayatri (Boyolangu).

2. Candi Dadi

  • Lokasi: Puncak perbukitan Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu (berbatasan dengan Kalidawir).

  • Profil: Candi ini sangat unik dan magis karena berdiri tegak sendirian di puncak bukit kapur tanpa memiliki tangga naik, relief, ataupun ornamen ukiran rumit. Pada tahun 2025, Candi Dadi secara resmi telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Di sekitarnya juga terdapat reruntuhan struktur purba lain seperti Candi Urung dan Candi Bhuto.

  • Koordinat Maps: Maps untuk Candi Dadi Tulungagung.

3. Candi Sanggrahan (Candi Cungkup)

  • Lokasi: Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu.

  • Profil: Merupakan kompleks candi bercorak Buddha peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibangun sekitar abad ke-14. Struktur kakinya cukup luas dan tinggi, terbuat dari kombinasi batu andesit dan bata merah. Konon, tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat peristirahatan rombongan pembawa jenazah Sri Rajapatni Gayatri sebelum didharmakan di Boyolangu.

  • Koordinat Maps: Maps untuk Candi Sanggrahan Tulungagung.

4. Candi Mirigambar

  • Lokasi: Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol.

  • Profil: Candi berbahan dasar bata merah ini sangat terkenal dengan guratan reliefnya yang sangat detail dan unik di sepanjang dindingnya. Relief tersebut menceritakan potongan-potongan legenda Angling Dharma, sebuah khazanah sastra dan kebudayaan Jawa Timur kuno.

  • Koordinat Maps: Maps untuk Candi Mirigambar.

5. Candi Penampihan (Candi Penampian)

  • Lokasi: Lereng Gunung Wilis, Desa Geger, Kecamatan Sendang.

  • Profil: Berada di kawasan pegunungan yang sejuk, Candi Penampihan merupakan candi berundak bercorak Hindu. Situs ini menyimpan rekam jejak linimasa sejarah yang sangat panjang, dibuktikan dengan keberadaan dua prasasti kuno berbeda era, yakni peninggalan abad ke-9 (era Mataram Kuno) dan abad ke-13 (era Kadiri/Singasari).

  • Koordinat Maps: Maps untuk Candi Penampihan Sendung/Sendang.

6. Candi Ampel (Candi Ngampel)

  • Lokasi: Desa Joho, Kecamatan Kalidawir (beberapa catatan menyebut perbatasan Kauman/Kalidawir, dikelola di bawah lingkup situs selatan).

  • Profil: Candi ini berukuran relatif kecil dibandingkan candi lainnya dan terbuat dari batu andesit. Letak situsnya yang berada di tengah kawasan pedesaan yang tenang memberikan nuansa spiritual dan historis yang kental bagi penelusuran sejarah peradaban Hindu di Tulungagung bagian selatan.

  • Koordinat Maps: Maps untuk Candi Ampel Tulungagung.

Keenam candi di atas dilindungi penuh oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan menjadi pilar penting penyokong status kebudayaan sejarah Mataraman di bawah pengelolaan Disbudpar Tulungagung.

BABAD TULUNGAGUNG DISEPUTARAN GONDANG DAN KALANGBRET

Buku Babad Tulungagung dan sejarah lisan Mataraman menyimpan rincian hubungan historis, spritual, serta tragis bagi deretan tokoh, situs keramat, dan kawasan perdikan yang Anda sebutkan.

Berikut adalah hubungan naratif yang mengikat tokoh-tokoh tersebut dalam benang merah sejarah Tulungagung:

1. Koridor Boyolangu: Mitologi Ki Joko Budeg dan Candi Gayatri

  • Ki Joko Budeg (Patung Budeg di Gunung Budeg): Berdasarkan legenda rakyat, Ki Joko Budeg adalah seorang pemuda tampan yang jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan (Roro Kembang Sore). Namun, karena wataknya yang keras kepala dan mengabaikan nasihat (seperti orang tuli/budeg), ia dikutuk oleh laku spiritual ibu sang putri menjadi batu. Patung batu Joko Budeg ini bertengger di puncak Gunung Budeg sebagai lambang keteguhan yang salah arah.

  • Candi Gayatri: Masih berada di wilayah Kecamatan Boyolangu, situs ini merupakan peninggalan monumental Kerajaan Majapahit. Candi ini dibangun sebagai tempat pendarmaan (penyimpanan abu jenazah) Sri Rajapatni Gayatri, istri Raden Wijaya sekaligus nenek dari Raja Hayam Wuruk. Keberadaan Candi Gayatri menetapkan Boyolangu sebagai kawasan sakral Mandala Suci sejak zaman kuno.

2. Poros Tanah Perdikan Kuno: Majan, Mangunsari, dan Winong

Ketiga desa ini dalam babad merupakan Poros Keagamaan Islam yang memiliki hak istimewa bebas pajak (Sima/Perdikan) dari Kerajaan Mataram Islam:

  • Tanah Perdikan Majan: Dirintis oleh Syech Basyaruddin (ulama besar dari Ponorogo yang juga guru spiritual Bupati Pertama Ngrowo, Tumenggung Ngabehi Mangoendirono). Majan diberikan status perdikan karena jasa Syech Basyaruddin dalam syiar Islam dan membentengi kerajaan.

  • Mangunsari dan Winong: Dua wilayah ini berkembang beriringan dengan Majan sebagai kantong santri kuno yang mengitari ibu kota awal di Kalangbret. Winong dan Mangunsari merupakan pusat pertahanan moral dan spiritual masyarakat Mataraman barat dari pengaruh buruk atau konflik luar.

3. Tragedi Berdarah: Adipati Kalang dan Konflik Pangeran Lembu Peteng

Ini adalah salah satu babak paling kelam sekaligus heroik dalam Babad Tulungagung:

  • Adipati Kalang: Penguasa otonom Suku Kalang yang terkenal sakti namun angkuh dan menolak tunduk pada tatanan baru penataan wilayah rawa. Dalam perang besar penaklukan wilayah barat, pertahanan Adipati Kalang berhasil ditembus dan ia tewas mengenaskan dengan tubuh yang "disembret-sembret" (dikoyak-koyak) oleh pasukan musuh. Peristiwa tragis ini yang melahirkan nama wilayah Kalangbret.

  • Konflik Pangeran Lembu Peteng (Joko Baru): Sebagai pemegang amanah pusaka suci Tombak Kiai Upas, Lembu Peteng terlibat dalam intrik politik dan spiritual yang tajam untuk merebut kedaulatan tanah Ngrowo. Saking sengitnya pertempuran bawah tanah tersebut, gugurlah tokoh-tokoh penting yang kepalanya dipotong dan dibuang ke aliran Sungai Parit Raya sebagai simbol pemutus kutukan wilayah rawa.

4. Misteri Cuiri, Kali Song, dan Makam Sunan Kuning (Macanbang)

  • Kisah Cuiri dan Kali Song: Aliran Kali Song adalah jalur hidrologi purba yang membelah wilayah Gondang-Kauman. Di dekat aliran ini, terdapat wilayah Cuiri yang dikenal wingit. Kawasan ini merupakan titik taktis tempat persembunyian gerilya, penataan irigasi purba, dan sering dikaitkan dengan legenda penjelmaan danyang ular penjaga air Tulungagung.

  • Makam Sunan Kuning (Desa Macanbang, Gondang): Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) atau tokoh wali lokal dengan nama serupa dikebumikan di puncak bukit kecil Macanbang. Pintu masuk makam ini sengaja dibuat sangat kecil agar peziarah merunduk sebagai tanda adab. Tempat ini dijaga oleh mitologi Macan Putih (yang memberikan nama Desa Macan-bang) serta ular gaib yang dipercaya sewaktu-waktu bertengger di Pendopo Kabupaten Tulungagung.

5. Babat Alas Sendung: Ki Kasan Talib

  • Ki Kasan Talib (Ki Khasan Thalib): Beliau adalah tokoh sufi pembuka lahan (babat alas) utama di wilayah Dusun Sendung (Desa Gondang). Berasal dari garis pengembara Magelang, Ki Kasan Talib memimpin pembersihan semak gelagah di atas puthuk (tanah tinggi) di tepi Kali Telu yang kala itu dikepung oleh rawa-rawa dalam. Perintisan religius beliau dilanjutkan oleh Mbah Sali (Kyai Abdul Shomad), yang kemudian berhasil merubah Sendung menjadi pusat syiar Islam (Kampung Santri) tertua di kawasan Gondang timur.

Kesimpulan

Secara historis-mitologis, jalinan kisah ini memperlihatkan bahwa Tulungagung dibentuk oleh dua kekuatan besar: Kekuatan supranatural/ningrat (Joko Budeg, Candi Gayatri, Lembu Peteng, Sunan Kuning) dan Kekuatan Syiar Ulama Penakluk Rawa (Syech Basyaruddin di Majan, serta Ki Kasan Talib di Sendung). Semuanya bermuara pada terbentuknya karakter masyarakat Mataraman yang religius namun tetap memegang teguh akar mistis tanah kelahiran mereka.