Rabu, 17 Juni 2026

ADA APA DI DESA NOTOREJO DAN DESA TIUDAN, GONDANG ?

 Berdasarkan catatan kronik babat tanah perdikan Mataraman, arsip registrasi desa di kawasan barat Tulungagung, serta kaitannya dengan lansekap sejarah purba sejak era Kediri, berikut adalah narasi lengkap mengenai asal-usul dusun-dusun di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, beserta batas wilayah, kondisi fisik, dan profil masyarakatnya hingga tahun 2026:

I. Asal-Usul Nama Dusun di Desa Notorejo

Nama Notorejo secara etimologi berasal dari kata Noto (menata/mengatur) dan Rejo (kemakmuran/ramai). Maknanya adalah wilayah rawa purba yang berhasil ditata oleh para sesepuh pelarian pasca-Perang Jawa hingga menjadi daerah yang makmur. Desa ini terbagi menjadi beberapa dusun dengan latar belakang toponimi yang unik:

1. Dusun Glonggong

  • Asal-Usul: Dinamai dari kata Glonggong yang berarti batang kayu atau bambu besar yang berlubang di tengahnya (kopong). Pada masa babat alas, wilayah ini dipenuhi pohon glonggong atau gelagah besar. Para perintis memotong batang-batang ini dan menjadikannya sebagai pipa irigasi darurat tradisional (talang) untuk mengalirkan genangan rawa ke parit pembuangan.

2. Dusun Karang Tengah

  • Asal-Usul: Berasal dari kata Karang (pekarangan/pemukiman) dan Tengah. Dusun ini didirikan di atas gundukan tanah (puthuk) yang posisinya tepat berada di tengah-tengah bentangan rawa antara wilayah utara (Sepatan/Gondang) dan wilayah selatan (Notorejo bagian dalam). Dusun ini sejak dulu diplot sebagai pusat pemukiman karena letaknya yang paling aman dari kepungan banjir.

3. Dusun Salam

  • Asal-Usul: Penamaan ini merujuk pada pohon Salam (Syzygium polyanthum) raksasa yang tumbuh di dekat punden awal dusun. Pohon ini dijadikan tetenger (penanda) oleh para pengembara religius. Selain itu, kata Salam dalam tradisi santri lokal dimaknai sebagai ucapan keselamatan (keselamatan dari mara bahaya rawa dan binatang buas).

4. Dusun Sumber

  • Asal-Usul: Sesuai namanya, di dusun ini dulunya terdapat mata air (belik/sumber) alami yang sangat jernih di tengah kepungan air rawa yang keruh. Mata air ini menjadi tumpuan utama masyarakat purba Notorejo untuk mendapatkan air minum bersih sebelum adanya sumur bor modern.

5. Dusun Guyang Gajah

  • Asal-Usul: Istilah Guyang berarti memandikan, dan Gajah merujuk pada hewan gajah. Konon pada masa kerajaan atau era transisi, wilayah rawa yang dalam dan luas di sektor ini sering dijadikan tempat singgah serta tempat memandikan gajah-gajah tunggangan para bangsawan atau pasukan kerajaan yang sedang melintas di jalur selatan.

6. Dusun Baru Klinting

  • Asal-Usul: Nama ini bertalian erat dengan mitologi Jawa tentang naga Baru Klinting yang melingkari Gunung Wilis dan mencabut lidi hingga memunculkan air. Secara historis lokal, dusun ini dinamai demikian karena saat pembukaan lahan, warga menemukan benda pusaka berupa lonceng kecil (klintingan) kuno yang diyakini sebagai peninggalan era transisi Majapahit-Mataram.

7. Dusun Dempok

  • Asal-Usul: Kata Dempok atau Mblegrok dalam istilah dialek lokal merujuk pada kontur tanah yang datar, rendah, dan cenderung melandai amblas. Dusun ini berada di titik paling cekung, di mana endapan lumpur rawa paling tebal berada di sini, membuat tanahnya terasa empuk dan subur jika dikelola untuk pertanian.

II. Batas Wilayah, Geografi, dan Topografi

1. Batas-Batas Wilayah Administratif Desa Notorejo:

  • Sebelah Utara: Desa Sepatan dan Desa Gondang

  • Sebelah Timur: Desa Bendungan dan Kecamatan Durenan (Kabupaten Trenggalek)

  • Sebelah Selatan: Desa Rejosari dan Desa Blendis

  • Sebelah Barat: Desa Sidem dan kawasan perbukitan lereng Gunung Sidem

2. Kondisi Geografi & Topografi:

  • Topografi: Berada di ketinggian antara $80 \text{ hingga } 120 \text{ mdpl}$. Kontur tanahnya didominasi oleh dataran rendah aluvial yang sangat subur di bagian tengah dan timur (bekas rawa purba), serta sedikit bergelombang/melandai di sisi barat karena mendekati kaki bukit.

  • Geografi: Desa Notorejo dilintasi oleh jaringan parit sekunder dan anakan sungai yang bermuara ke DAS Ngasinan. Struktur tanahnya adalah tanah grumosol dan aluvial, menjadikannya sangat cocok untuk tanaman pangan seperti padi dan palawija, namun memerlukan sistem tata kelola air (drainase) yang baik agar tidak tergenang saat musim hujan intensitas tinggi.

III. Profil Masyarakat & Linimasa Sejarah

1. Era Prasasti Kamulan (1194 M) hingga Era Mataram Islam

Pada masa Raja Kertajaya (Kerajaan Kediri) mengeluarkan Prasasti Kamulan, wilayah Notorejo dan dusun-dusunnya belum berwujud pemukiman padat, melainkan berupa hutan belantara, semak gelagah, dan rawa-rawa dalam (vlakte) yang menjadi benteng alam pertahanan Katandan Kamulan.

Baru pada abad ke-19, pasca-Perang Diponegoro, gelombang pelarian prajurit dan ulama dari Jawa Tengah masuk ke wilayah barat Tulungagung. Mereka melakukan babat alas dengan membagi wilayah berdasarkan karakteristik fisik tanah (seperti yang terekam pada nama Dusun Glonggong, Sumber, dan Dempok). Masyarakat pada era ini hidup dalam corak komunal-agraris tradisional yang sangat bergantung pada musim.

2. Perkembangan Modern hingga Pemerintahan Bupati Tulungagung Saat Ini (2026)

Memasuki era modern tahun 2026 di bawah kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Tulungagung saat ini, profil masyarakat Desa Notorejo telah mengalami transformasi yang pesat:

  • Masyarakat Agraris Modern & Pengusaha: Mayoritas penduduk di Dusun Dempok, Glonggong, dan Karang Tengah masih mempertahankan mata pencaharian sebagai petani produktif. Namun, mereka kini telah mengadopsi mekanisasi pertanian modern (traktor roda empat, mesin panen kombi, dan sistem pemupukan berbasis suplemen). Selain itu, sektor sekunder seperti industri rumahan (pembuatan batu bata di sekitar perbatasan Tiudan/Sepatan) dan peternakan sapi perah/potong tumbuh subur di Dusun Salam dan Sumber.

  • Karakter Sosial (Religius-Kultural): Karakter asli masyarakat Notorejo adalah guyub rukun dengan asimilasi kultur santri dan abangan yang harmonis. Tradisi keagamaan seperti yasinan, tahlilan, dan manakiban berjalan beriringan dengan pelestarian adat budaya lokal, seperti upacara adat Bersih Desa (Nyadran) di punden dusun masing-masing sebagai simbol ruang syukur atas kesuburan tanah mereka.

  • Infrastruktur Modern: Keterpencilan masa lalu akibat kepungan rawa kini sudah sirna total. Seluruh dusun dari Glonggong hingga Baru Klinting telah terhubung oleh jalan beton dan aspal hotmix, serta didukung oleh digitalisasi pelayanan administrasi desa yang terintegrasi dengan program pembangunan daerah Kabupaten Tulungagung.

I. Toponimi, Karakter, dan Narasi Sinsing Dusun-Dusun di Tiudan

Desa Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, sejak era purba dikenal sebagai bentang dataran yang diapit oleh perbukitan marginal (selatan) dan luapan banjir sedimen sungai (utara). Karakteristik tanah liatnya yang melimpah membentuk jati diri sosiologis masyarakatnya sebagai penakluk tanah dan api (sentra industri bata merah dan genteng terkemuka).

Dusun-dusunnya memiliki akar toponimi dan karakteristik sosiokultural yang kuat:

  • Dusun Kudan: Berasal dari kata Kuda atau Pekudaan. Secara historis, wilayah ini merupakan padang rumput datar yang strategis dan digunakan sebagai tempat penambatan, pelatihan, serta peristirahatan kuda-kuda militer maupun kuda beban milik para priyayi dan prajurit kerajaan yang melintas di koridor barat Tulungagung.

  • Dusun Kleben: Berasal dari dialek Jawa Keleb (tergenang air/kebanjiran). Letaknya berada di titik cekungan drainase alam. Di masa lalu, wilayah ini selalu menjadi area pertama yang terendam luapan air ketika parit-parit sekunder dan sungai mengalami pendangkalan. Di era modern, karakter air ini dijinakkan melalui pembangunan infrastruktur pengairan.

  • Dusun Kleponan: Penamaan dusun ini bertalian erat dengan keberadaan Bukit Kleponan, sebuah bukit kecil/gundukan tanah yang bentuknya menyerupai jajan pasar tradisional klepon. Sifat tanah di sekitar bukit ini sangat wingit dan menjadi penanda batas ekologis sebelum memasuki dataran yang lebih curam.

  • Dusun Plenggrong: Nama ini merujuk pada kontur tanah yang memiliki banyak rongga, ceruk, atau lubang alami akibat erosi air masa lalu (melenggong/growong). Struktur tanah di Plenggrong sangat disukai oleh para pengrajin gerabah dan bata karena memiliki lapisan tanah liat (lempung) murni yang sangat tebal.

  • Dusun Ngampon: Berasal dari kata dasar Ampun atau Ngampung (menumpang/berlindung). Dusun ini awalnya dibuka oleh sekelompok pelarian prajurit pasca-runtuhnya stabilitas Mataram Islam yang meminta izin (ngampon) kepada sesepuh lokal untuk mendirikan gubuk pemukiman dan bertani di bawah perlindungan hukum adat Tiudan.

  • Dusun Siwalan: Menunjuk pada vegetasi dominan di masa lampau, yaitu rimbunan pohon Siwalan (pohon lontar). Pohon-pohon ini dahulu ditanam di sepanjang batas pekarangan sebagai penahan angin kencang (windbreaker) yang sering berembus dari arah perbukitan selatan menuju dataran rendah Gondang.

  • Dusun Tenggong: Berasal dari istilah Nggong atau Tenggong, yang menggambarkan kondisi wilayah yang agak terisolasi, menonjol, atau "ngetheng-gheng" di dekat kaki bukit. Masyarakatnya dikenal memiliki watak yang keras, mandiri, dan sangat protektif terhadap batas-batas wilayah komunal mereka.

  • Dusun Majan (Sektor Tiudan): Menjadi batas penyangga (buffer zone) yang berbatasan atau mendapat pengaruh silsilah dari perdikan Majan. Dinamai berdasarkan historis vegetasi pohon Maja yang pahit. Wilayah ini kental dengan nuansa asimilasi antara kaum santri pendatang dan abangan lokal.

  • Dusun Bakalan: Berasal dari kata Bakal (sesuatu yang akan diproses). Di era babat alas, dusun ini diplot sebagai pusat pengolahan material mentah pertanian dan batu alam sebelum dibawa ke pasar inti. Karakter masyarakatnya hingga kini sangat dinamis dan kental dengan jiwa kewirausahaan dagang.

  • Dusun Sumber: Episentrum hidrologi lokal. Dusun ini dinamai demikian karena memiliki titik retakan geografis yang memunculkan mata air alami gurih. Sumber air ini tidak pernah surut meskipun wilayah Gondang lainnya dilanda kemarau panjang, menjadikannya jantung kehidupan bagi dusun-dusun sekitarnya.

II. Kolaborasi Historis-Mitologis: Babad Tulungagung di Tanah Tiudan-Mojoarum

Jika menarik benang merah sejarah berdasarkan Babad Tulungagung, wilayah Tiudan dan tetangganya, Mojoarum, bukanlah sekadar pedesaan biasa. Sektor ini merupakan mandala spiritual sekaligus palagan taktis yang mempertemukan trah ulama, bangsawan pelarian, dan mitologi penunggu tanah Mataraman.

                  [ UTARA: Kali Song / Syech Basyarudin ]
                                     |
                                     | (Koridor Aliran Air)
                                     v
[ BARAT: Mojoarum ] --------> [ DAM KLEBEN ] <-------- [ TIMUR: Tiudan ]
        |                            |                         |
  (Sigar Gunung)                     |                 (Bukit Kleponan)
        |                            v                         |
        +------------------> [ TUMPAK GUNDUL ] <---------------+
                                     ^
                                     | (Poros Mistis)
                  [ SELATAN: Nyi Roro Kembang Sore & Buronggo ]

1. Poros Kali Song dan Syiar Syech Basyarudin

Aliran Kali Song yang meliuk di wilayah utara hingga barat merupakan urat nadi peradaban kuno Tulungagung. Di bantaran Kali Song inilah, ulama besar Syech Basyarudin (yang makamnya menjadi jangkar spiritual di Majan) melakukan syiar Islam benteng pertahanan spiritual.

Pengaruh Syech Basyarudin merembes kuat ke Dusun Majan dan Ngampon di Tiudan. Air Kali Song dicuci, didoakan, dan dialirkan melalui saluran-saluran kuno untuk mengairi persawahan Tiudan, mengubah watak keras para pelarian perang di Dusun Ngampon dan Tenggong menjadi masyarakat santri yang taat tanpa menghilangkan keahlian mereka dalam menempa tanah (batu bata).

2. Balada Lokasi Sigar Gunung dan Dam Kleben

Hubungan antara Tiudan dan Mojoarum dibatasi oleh romansa geografis yang tragis, yaitu Sigar Gunung (Gunung yang Terbelah). Konon, celah perbukitan antara Mojoarum dan Tiudan sengaja "disigar" (dibelah) secara supranatural maupun kerja bakti purba untuk mengalirkan air dari hulu pegunungan agar tidak menyumbat dan menenggelamkan wilayah bawah.

Sebagai penjinak aliran air dari celah Sigar Gunung tersebut, dibangunlah Dam Kleben di Dusun Kleben. Dam ini memiliki fungsi historis yang sangat vital:

  • Jika debit air dari celah Sigar Gunung meluap, Dam Kleben bertindak sebagai katup pengatur agar Dusun Kleben, Plenggrong, dan Kudan tidak terendam banjir lumpur (keleb).

  • Dam ini menjadi simbol perdamaian tata air (ulu-ulu banyu) antara petani Mojoarum di sisi barat dan pengrajin serta petani Tiudan di sisi timur.

3. Tumpak Gundul, Bukit Kleponan, dan Tragisme Nyi Roro Kembang Sore

Bergerak ke arah selatan, kontur tanah menanjak menuju kawasan Tumpak Gundul dan Bukit Kleponan. Kawasan gundul dan perbukitan sunyi ini dalam Babad Tulungagung merupakan jalur pelarian sekaligus persembunyian Nyi Roro Kembang Sore ketika dikejar-kejar oleh para adipati dan satria yang menginginkan kecantikannya (termasuk gejolak asmara dan politik yang menyeret Kadipaten Bedalem dan sekitarnya).

Di bukit Kleponan yang melingkar inilah, Kembang Sore konon pernah menenangkan diri, menghimpun kekuatan spiritual, sebelum akhirnya melanjutkan laku tirakatnya. Wilayah Tumpak Gundul yang gersang di masa lalu menjadi saksi bisu betapa merananya jalur gerilya spiritual sang putri dalam mempertahankan kesucian diri dan prinsipnya dari ronggongan penguasa korup.

4. Manifestasi Patung Eyang Buronggo dan Penjaga Gaib

Keberadaan makam spiritual dan jalur pelarian Kembang Sore di benteng alam Tiudan-Mojoarum ini dijaga ketat oleh kekuatan gaib yang dipersonifikasikan melalui sosok Eyang Buronggo (Eyang Samber Nyowo/Panglima Buronggo).

Manifestasi spiritual Eyang Buronggo—yang di beberapa titik divisualisasikan dalam bentuk ingatan kolektif patung atau punden penjaga—dipercaya sebagai panglima perang gaib berbaju zirah kuno yang membentengi seluruh dusun di Tiudan (mulai dari Kudan hingga Bakalan) dari serangan pagebluk, roh jahat, maupun intervensi pasukan kolonial di masa lalu. Masyarakat di Dusun Tenggong dan Siwalan meyakini bahwa aura ketegasan Eyang Buronggo inilah yang menitis pada karakter warga Tiudan yang pemberani, pekerja keras, dan tidak mudah tunduk pada tekanan ekonomi.

Profil Masyarakat Modern 2026

Memasuki tahun 2026, kolaborasi antara sejarah, mitologi, dan berkah alam tanah liat ini mewujud utuh dalam profil masyarakat Desa Tiudan yang sejahtera:

  • Sinkretisme yang Harmonis: Tradisi tawasan, tahlilan, dan penghormatan terhadap jalur syiar Syech Basyarudin berjalan beriringan dengan upacara adat Nyadran di punden Eyang Buronggo serta perawatan ekologis di sekitar Dam Kleben dan Bukit Kleponan.

  • Kemandirian Ekonomi Berbasis Api: Dusun Plenggrong, Kudan, dan Kleben kini menjadi koridor ekonomi yang sibuk. Tungku-tungku pembakaran bata merah dan genteng terus mengepulkan asap kesejahteraan, membuktikan bahwa tanah liat sisa endapan luapan Kali Song masa lalu kini telah menjelma menjadi fondasi ekonomi utama yang kokoh di Kecamatan Gondang. Warga Tiudan abad modern sukses mengawinkan kerja keras fisik penakluk tanah dengan keteduhan spiritual warisan para leluhur Babad Tulungagung.

HISTORIKAL MASYARAKAN DUSUN SENDEN DAN DUSUN SENDUNG

 Berdasarkan kompilasi catatan sejarah dan kronik lokal mengenai pembagian wilayah Puthuk Kali Telu, hubungan historis antara Dusun Sendung (Desa Gondang) dan Dusun Senden (Desa Sepatan) adalah hubungan "Dua Saudara yang Terbelah Air".

Kedua dusun ini pada mulanya lahir dari satu rahim geografis dan spiritual yang sama sebelum akhirnya dipisahkan oleh batas administratif desa. Berikut adalah rekonstruksi hubungan historis keduanya berdasarkan catatan sejarah lokal:

1. Satu Rahim Geografis: Hamparan Puthuk Purba

Pada masa awal pembukaan lahan (babat alas), wilayah Sendung dan Senden merupakan satu kesatuan gundukan tanah (puthuk) seluas kurang lebih $1.500 \text{ m}^2$ yang mencuat di tengah hamparan rawa-rawa liar Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan Utara.

  • Wilayah puthuk tunggal ini dialiri dan kemudian terbelah oleh pertemuan tiga aliran air dari lereng pegunungan selatan yang disebut Kali Telu.

  • Aliran Kali Telu inilah yang membelah puthuk menjadi dua: bagian utara sungai menjadi Dusun Sendung (ikut Desa Gondang), sedangkan bagian selatan sungai menjadi Dusun Senden/Senden Kidul (ikut Desa Sepatan).

2. Hubungan Silsilah: Garis Trah Mataram & Magelang

Secara genealogi atau silsilah keluarga, masyarakat purba di Sendung dan Senden memiliki ikatan darah yang sangat kental.

  • Pembukaan wilayah ini dipelopori oleh pengembara asal Magelang, Ki Khasan Thalib, dan dilanjutkan secara masif oleh Mbah Sali (Kyai Abdul Shomad/Mbah Dul) di sisi utara (Sendung).

  • Sementara itu, di sisi selatan sungai (Senden), tokoh perintis utama yang membabat alas adalah Mbah Topo (ulama sakral yang berakar dari trah Bendungan). Garis keturunan Mbah Topo dan kerabat dari trah Mbah Sali ini saling berbesan, menikah, dan meluas menembus batas Kali Telu. Oleh karena itu, dalam struktur keluarga besar, orang Senden dan orang Sendung sejatinya adalah satu keluarga besar (trah) yang sama.

3. Sinkronisasi Syiar Islam dan Pendirian Langgar (1943–1946)

Catatan linimasa spiritual kedua dusun ini berjalan beriringan dan saling menguatkan, terutama pada dekade 1940-an menjelang kemerdekaan:

  • Tahun 1943: Di bawah rintisan Mbah Topo, didirikan sebuah langgar panggung sederhana di Dusun Senden Kidul sebagai benteng spiritual awal warga selatan sungai.

  • Tahun 1946: Hanya berselang tiga tahun, syiar Islam meluas ke bagian tengah-utara. Mbah Syukur mendirikan Langgar Senden Lor, yang gerakannya beresonansi langsung dengan pembangunan basis santri di Sendung Utara oleh keturunan Mbah Sali.

    Kedua kantong religius ini saling mendukung dalam mengirim santri dan guru mengaji melintasi Kali Telu.

4. Transformasi Modern dan Batas Administratif

Ketika pemerintah mulai menata administrasi desa pasca-kemerdekaan, wilayah puthuk utara secara resmi bernaung di bawah Desa Gondang, sedangkan wilayah puthuk selatan bernaung di bawah Desa Sepatan.

Meskipun secara hukum administrasi negara mereka terpisah desa, hubungan kulturalnya tidak pernah putus. Pembangunan jembatan modern di atas Kali Telu mengukuhkan kembali hubungan erat tersebut. Hingga era modern saat ini, metamorfosis Sendung menjadi "Dusun Santri" dengan kemegahan Masjid Jami' An-Nuur dan gedung TPA-nya selalu menjadi episentrum kegiatan keagamaan yang juga diikuti dan didukung penuh oleh warga Dusun Senden, Sepatan. Keduanya tetap hidup guyub rukun sebagai saksi sejarah ketangguhan masyarakat penakluk rawa purba.

HUBUNGAN HISTORIS GUNUNG CILIK KAMULAN DAN GUNUNG CILIK MOJOARUM GONDANG

 Hubungan historis antara Gunung Cilik Kamulan (Durenan, Trenggalek) dan Gunung Cilik Mojoarum (Gondang, Tulungagung) terjalin sangat erat melalui benang merah kosmologi mitologis, bentang alam geologis purba, serta peran strategisnya dalam sejarah pertahanan serta spiritualitas wilayah Mataraman.

Secara geografis, kedua gundukan bukit (puthuk) ini berada di koridor perbatasan yang sangat dekat antara Tulungagung barat dan Trenggalek timur. Hubungan historis dan kultural keduanya dapat dirinci ke dalam tiga pilar utama berikut:

1. Ikatan Kosmologi Purba: "Ceceran" Puncak Gunung Semeru
2. Pembagian Peran: Poros Makam Kanjengan (Kamulan) dan Benteng Pertahanan (Mojoarum)
3. Saksi Bisu Pergolakan Gestok 1965
Profil dan Kondisi Modern saat Ini

Hubungan paling mendasar yang mengakar dalam memori kolektif dan tradisi lisan (folklore) masyarakat setempat adalah asal-usul gaib kedua bukit ini.

  • Berdasarkan legenda, Gunung Cilik Kamulan terbentuk dari bongkahan puncak Gunung Semeru yang terhempas setelah ditendang oleh tokoh sakti Bhatara Anoman.

  • Saat puncak Semeru itu melesat dan jatuh menghantam bumi di kawasan Kamulan, batuan dan material tanahnya tidak jatuh di satu titik saja, melainkan tercecer (terserak) di sepanjang koridor wilayah sekitarnya. Salah satu serpihan tanah purba yang ikut terhempas dan membentuk gundukan bukit kecil di sisi timur adalah wilayah yang kini menjadi Gunung Cilik di Desa Mojoarum, Gondang.

  • Secara mistis-kosmologis, masyarakat kuno menganggap Gunung Cilik Kamulan dan Gunung Cilik Mojoarum adalah "saudara kandung" yang lahir dari satu sumber yang sama, yaitu kesaktian Anoman dan kesucian Gunung Semeru.

Dalam catatan sejarah perkembangan wilayah dari era kerajaan (pasca-Prasasti Kamulan 1194 M) hingga era kolonial dan kemerdekaan, kedua bukit kecil ini memiliki pembagian fungsi geopolitik dan spiritual yang saling melengkapi:

  • Gunung Cilik Kamulan (Poros Agung Jemaah & Ningrat): Difungsikan sebagai poros spiritual sakral (Makam Girilaya/Kanjengan). Tempat ini merupakan Zero Area pekuburan agung untuk para penguasa tertinggi lintas kabupaten (seperti trah Bupati Tulungagung pemilik pusaka Kiai Upas, Adipati Trenggalek, hingga Bupati Ponorogo) serta para ulama sepuh kharismatik.

  • Gunung Cilik Mojoarum (Poros Benteng & Shelter Strategis): Berbeda dengan Kamulan yang murni menjadi pekuburan ningrat yang penuh aturan wingit, Gunung Cilik Mojoarum dalam sejarah lokal difungsikan sebagai benteng pertahanan alam dan tempat perlindungan (shelter). Karena konturnya yang berupa gundukan di tengah hamparan datar/sawah dataran rendah Gondang, bukit Mojoarum ini menjadi pos intip dan tempat persembunyian strategis prajurit pelarian anti-VOC serta para pejuang lokal saat terjadi pergolakan politik.

Hubungan historis modern kedua bukit ini kembali bertaut secara tragis pada masa pergolakan G30S/PKI (Gestok) tahun 1965. Koridor perbatasan Durenan (Kamulan) dan Gondang (Mojoarum) menjadi zona merah ketegangan horizontal yang sangat mencekam kala itu.

  • Kawasan sekitar lereng Gunung Cilik Kamulan dan area terbuka di seputaran bukit Gunung Cilik Mojoarum menjadi saksi bisu pembersihan, eksekusi, serta pelarian massa dari kedua belah pihak yang bertikai.

  • Setelah masa-masa kelam itu berlalu, ingatan masyarakat terhadap kedua wilayah ini bertransisi menjadi ruang kontemplasi, di mana masyarakat sekitar lereng kedua bukit memperkuat kegiatan keagamaan (tahlilan, yasinan, dan syiar pesantren) guna menetralisir aura negatif sisa konflik masa lalu.

Memasuki era modern, jejak hubungan "saudara" dari serpihan Semeru ini mewujud dalam pemanfaatan wilayah yang selaras:

  • Gunung Cilik Kamulan dilindungi ketat oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sebagai situs makam religi Kanjengan yang sangat dihormati dan menjadi lokasi ziarah tahunan wajib bagi jajaran pemerintahan daerah.

  • Gunung Cilik Mojoarum Gondang kini bersolek menjadi destinasi wisata alam dan tempat rekreasi pedesaan (Gunung Cilik Park/GCP) yang menawarkan pemandangan hamparan sawah hijau aluvial bekas rawa purba Gondang bagi masyarakat sekitar.

Melalui legenda tendangan Anoman, kedua Gunung Cilik ini meletakkan pondasi filosofis bagi masyarakat perbatasan Durenan-Gondang: bahwa alam, sejarah ningrat, perjuangan fisik, dan spiritualitas adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan di tanah Mataraman.

ASAL USUL DUSUN - DUSUN DI WILAYAH DESA GONDANG

 Menelusuri sejarah dusun-dusun di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, kita akan menemukan pola babat alas (pembukaan lahan) yang sangat khas wilayah Jawa bagian selatan. Nama-nama dusun ini tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari karakteristik alam masa lalu (topografi rawa, sungai, dan vegetasi pohon) serta kisah para tokoh pembuka daerah tersebut.

Berikut adalah narasi sejarah dan asal-usul dari dusun-dusun di Desa Gondang (Sendung, Babadan, Genegan, Ngebrak, Loparen, dan Laban) berdasarkan pendekatan toponimi (asal-usul nama tempat) dan tradisi lisan (folklore) masyarakat lokal:

1. Dusun Sendung (Kalitelu)

Seperti yang telah diulas mendalam sebelumnya, Sendung berawal dari sebuah puthuk (gundukan tanah bersemak) di tengah rawa-rawa Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan Utara, tempat bertemunya tiga aliran air yang disebut Kali Telu.

  • Asal-Usul Nama: Diambil dari kisah pengembara asal Magelang, Ki Khasan Thalib, yang terdampar saat mencari ikan. Setelah tertidur dan bersandar (Senden) di sebuah batu condong, ia terbangun dalam kondisi cuaca berawan (Mendung). Tempat ini kemudian dinamai "Sendung".

  • Karakteristik: Dahulu merupakan wilayah "banjir abadi" yang terisolir di tapal batas 4 desa. Dusun ini mengalami transformasi total menjadi "Dusun Santri" yang padat lewat perintisan keagamaan dari garis keturunan Mbah Sali (Mbah Dul Somad) hingga era keemasan Kyai Syamsi Dukha di Masjid An-Nuur.

2. Dusun Babadan

Dalam istilah bahasa Jawa, kata Babadan berasal dari kata dasar "Babad" yang berarti menebang pohon, merambah semak belukar, atau membuka lahan baru (babat alas).

  • Asal-Usul Nama: Wilayah ini dinamai Dusun Babadan karena pada masa lampau, area inilah yang menjadi titik sentral atau tempat pertama kali dilakukannya pembersihan hutan/semak belukar berskala besar oleh para sesepuh untuk dijadikan pemukiman warga di Desa Gondang.

  • Karakteristik: Nama Babadan menandai awal mula peradaban transisi dari wilayah hutan liar/rawa menjadi wilayah yang layak dihuni secara komunal.

3. Dusun Genegan

Nama Genegan memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan kondisi geografis wilayah Gondang masa lalu yang didominasi oleh perairan dan rawa.

  • Asal-Usul Nama: Kata Genegan diduga kuat berakar dari kata "Genangan" atau "Kegeneng" (tergenang air). Karena posisinya yang berada di dataran rendah dekat aliran sungai, wilayah dusun ini pada musim penghujan selalu menjadi kantong air tempat berkumpulnya luapan air sungai yang menggenang dalam waktu lama.

  • Karakteristik: Sama seperti Sendung, ketangguhan masyarakat Genegan diuji oleh alam, hingga akhirnya sistem kanalisasi dan tanggul modern berhasil mengubah wilayah basah ini menjadi pemukiman dan lahan pertanian yang sangat subur.

4. Dusun Ngebrak

Kata Ngebrak dalam toponimi Jawa sering kali dikaitkan dengan aktivitas atau keberadaan hewan, atau juga tanaman pembatas wilayah.

  • Asal-Usul Nama: Ada dua versi lisan yang populer mengenai nama ini. Versi pertama menyebutkan Ngebrak berasal dari kata "Brak" atau "Krak", yang merujuk pada tempat singgah, kandang besar, atau pos tempat beristirahatnya para pekerja pembuka lahan dan hewan ternak mereka pada masa lampau. Versi kedua mengaitkannya dengan suara dahan-dahan pohon besar yang tumbang berserakan (ngrak/ngebrak) saat proses babat alas.

  • Karakteristik: Dusun ini berkembang sebagai area pemukiman yang strategis karena menjadi simpul penghubung aktivitas warga antardusun.

5. Dusun Loparen

Nama Loparen memiliki keunikan tersendiri dan sangat kental dengan nuansa vegetasi alam kuno.

  • Asal-Usul Nama: Secara bahasa, Loparen diyakini berasal dari perpaduan atau pergeseran kata yang merujuk pada jenis tanaman atau pepohonan khas rawa/sungai yang dahulu banyak tumbuh subur di wilayah tersebut (kemungkinan jenis pohon Lo atau tanaman rambat tertentu). Masyarakat terdahulu sering kali menandai suatu daerah baru berdasarkan tanaman penciri yang paling mendominasi di tempat mereka tinggal.

  • Karakteristik: Dusun Loparen dikenal sebagai wilayah yang ayem, subur, dan memiliki ikatan kekeluargaan yang erat di antara warganya.

6. Dusun Laban

Sama seperti Loparen, Dusun Laban mengadopsi namanya langsung dari kekayaan botani atau vegetasi lokal.

  • Asal-Usul Nama: Nama dusun ini diambil dari nama Pohon Laban (Vitex cofassus), sejenis pohon kayu keras yang pada masa pembukaan lahan purba banyak tumbuh di area tersebut. Pohon Laban dikenal memiliki kayu yang sangat kuat, tahan rayap, dan sering digunakan oleh para sesepuh zaman dulu untuk tiang fondasi rumah atau langgar. Karena wilayah ini ditandai dengan tumbuhnya pohon Laban yang besar/keramat, maka dipilihlah nama Laban sebagai identitas dusun.

  • Karakteristik: Penamaan berbasis pohon ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat yang sangat menghormati alam sekitar sebagai penanda ruang hidup mereka.

Hubungan Kultural Antardusun

Secara sosiologis, dusun-dusun ini diikat oleh satu tradisi besar yang sama, yaitu Bersih Desa (Nyadran) Kecamatan Gondang. Meskipun masing-masing dusun memiliki punden atau danyang pelindungnya sendiri (seperti punden di Sendung, Laban, dll.), pada hari-hari sakral adat, seluruh warga dari dusun-dusun ini akan menyatu untuk mensyukuri berkah kesuburan tanah yang telah dianugerahkan sejak zaman Ki Khasan Thalib dan para sesepuh lainnya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Gondang.

SITUS PEMAKAMAN GIRILOYO GUNUNG CILIK KAMULAN, DORENAN

 Situs Pemakaman Gunung Cilik (Giriloyo) Kamulan tidak hanya menjadi situs arkeologi, melainkan sebuah ruang kosmologi Jawa yang menyatukan fakta sejarah, silsilah ningrat (trah bupati), figur ulama, hingga legenda mistis yang memengaruhi kebijakan modern (seperti wacana bandara).

Mari kita bedah dan rapikan catatan sejarah serta profil komprehensif Gunung Cilik Kamulan berdasarkan data luar biasa yang Anda berikan, valid hingga era modern 2026:

1. Asal-Usul Mitologis: Kosmologi Gunung Semeru & Anoman

Secara toponimi kuno dan folklore, bukit Gunung Cilik di Kamulan dipercaya masyarakat sebagai bagian dari puncak Gunung Semeru yang terlempar akibat tendangan satria legendaris Bhatara Anoman.

  • Serpihan puncak Semeru tersebut terhempas dan sebagian besar jatuh membentuk bukit kecil di Desa Kamulan.

  • Sisa reruntuhan batuannya tercecer hingga menjadi gugusan perbukitan di wilayah Kecamatan Gondang, Tulungagung. Hal ini menjelaskan secara mistis mengapa kontur alam Gondang dan Durenan-Kamulan memiliki keterikatan geografis.

2. Kompleks Makam Kanjengan: Persemayaman para Penguasa Mataraman

Giriloyo Kamulan adalah tempat peristirahatan terakhir (Zero Area) bagi para penguasa tertinggi lintas kabupaten (Trenggalek, Tulungagung, Ponorogo, hingga Gresik). Berdasarkan catatan Cagar Budaya (UU No. 11 Tahun 2010), berikut adalah tokoh-tokoh agung yang dimakamkan di sana:

Tokoh Ningrat & Birokrasi Kerajaan:

  • Kanjeng Jimat: Adipati legendaris Trenggalek.

  • KPAA Sosroningrat (Raden Tumenggung Adipati Sosrodiningrat): Bupati Tulungagung, yang juga tercatat secara historis sebagai salah satu pemilik/pemelihara Pusaka Tombak Kiai Upas yang legendaris.

  • KRTAA Sosroprawiro (Raden Tumenggung Sosroprawiro): Bupati Ponorogo, beserta istrinya Raden Ayu Sosroprawiro.

  • KRA Musono: Bupati Gresik (yang membawahi wilayah Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo).

  • Aparatur Kabupaten: Raden Sosroprawiro (Patih Trenggalek), Raden Mangun Moestopo (Penghulu Kab. Trenggalek), Kanjeng Prawiro, Raden Ngabehi Kertowikromo, Raden Ayu Moekadi Sosrodipoero, Raden Hadi Prawiro, Raden Ngabehi Haji Soemojoedo, Raden Haji Soemoyudo, Raden Ronodipoero, dan Raden Sosrojudo.

Tokoh Ulama dan Kiai Sepuh Kamulan:

Selain kaum bangsawan, bukit ini menjadi saksi harmonisasi ulama dan umara. Di antaranya yang dimakamkan di sini:

  • KH. Sulaiman: Pendiri Pondok Pesantren Darissulaimaniyyah.

  • Syekh Muhammad Mahmud Ikhsan: Ulama dan kiai kharismatik dari Pondok Pesantren Hidayatut Thulab, Kamulan.

3. Khazanah Mistis dan Penjaga Gaib Makam Kanjengan

Keagungan para bupati di tempat ini melahirkan berbagai kisah wingit dan fenomena gaib yang diyakini masyarakat secara turun-temurun:

  • Jelmaan Burung Perkutut: Roh KPAA Sosroningrat (Bupati Tulungagung) dipercaya sewaktu-waktu menjelma menjadi burung perkutut gaib. Suaranya terdengar jelas, namun wujudnya akan lenyap seketika saat dicari.

  • Macan Putih & Bidadari: Sosok berwujud macan putih kuno dan gadis jelita bak bidadari dipercaya masyarakat sebagai danyang/penjaga utama Makam Kanjengan.

  • Ular Bertengger & Manifestasi di Pendopo: Kompleks ini dijaga oleh ular-ular kecil. Pada hari-hari sakral tertentu, ular ini menghilang dari Kamulan dan muncul di Pendopo Kabupaten Tulungagung serta Perempatan Kepatihan dalam wujud ular raksasa yang bertengger.

  • Anomali Penerbangan (Zona Larangan Terbang): Berdasarkan kepercayaan mistik lokal, area Makam Kanjengan adalah area zero. Kompas atau instrumen pesawat yang melintas di atasnya dipercaya akan kehilangan kendali dan jatuh. Mitos kuat inilah yang secara historis mewarnai tarik-ulur dan pembatalan rencana pembangunan bandara di wilayah Trenggalek sejak zaman dulu.

4. Etika Peziarah: Hukum Karma Instan

Catatan Anda menegaskan aturan tak tertulis yang sangat ketat di Gunung Cilik: Kekuatan mistis dan spiritual hanya berlaku di Makam Kanjengan atas, tidak di makam umum bawah. Peziarah wajib meluruskan niat (bertawasul dan mendoakan para wali serta bupati).

Masyarakat setempat memiliki bukti lisan tentang "kualat" atau karma instan bagi orang berniat buruk atau tidak mantap. Seperti kisah nyata masa lalu tentang seorang peziarah yang membelokkan niatnya dari ziarah wali menjadi mencari nomor togel. Walhasil, ia langsung kesurupan, mengeram, dan mencakar lantai layaknya seekor macan putih sebelum akhirnya dinetralkan oleh warga dan dipaksa meminta maaf kepada leluhur.

Profil Situs di Era Modern 2026

Hingga tahun 2026 ini, berkat perlindungan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Situs Gunung Cilik Kamulan tetap lestari. Situs ini menjadi perpaduan sempurna antara wisata sejarah (pemujaan trah bupati Mataraman dan bukti otentik peradaban pasca-Prasasti Kamulan) serta wisata religi tempat bertemunya para santri dan abangan untuk mencari ketenangan batin. Catatan tambahan dari Anda ini menyempurnakan narasi bahwa hilangnya bandara di Trenggalek adalah babak sejarah yang ditulis oleh kekuatan tradisi dan spiritualitas masyarakatnya.

SESEPUH DAN LELUHUR DESA DI WILAYAH KEC. GONDANG TULUNGAGUNG

 Menelusuri figur leluhur (babat alas, danyang, atau punden) di desa-desa Kecamatan Gondang, Tulungagung, membawa kita pada jalinan sejarah lisan (folklore) yang sangat kuat. Tokoh-tokoh ini umumnya merupakan bangsawan atau prajurit Kerajaan Mataram Islam yang melakukan eksodus pasca-Perang Diponegoro (1825–1830), para Auliya/Ulama penyebar Islam, serta para Sesepuh Sakti yang membuka wilayah hutan dan rawa.

Berikut adalah daftar tokoh sejarah dan sesepuh yang dihormati sebagai leluhur di desa-desa Kecamatan Gondang (termasuk tambahan Desa Dukuh):

1. Desa Gondang

  • Tokoh Leluhur: Ki Khasan Thalib (penemu awal Dusun Sendung) serta Mbah Sali dan keturunannya, Kyai Abdul Shomad (Mbah Dul).

  • Kisah: Ki Khasan Thalib (pengembara asal Magelang) adalah penemu Dusun Sendung yang menancapkan tetenger setelah bersandar saat mendung. Sementara trah Mbah Sali dan Mbah Dul dihormati sebagai perintis tatanan sosial, hukum, dan syiar Islam purba yang merubah kawasan rawa menjadi pemukiman padat dan islami.

2. Desa Dukuh

  • Tokoh Leluhur: Mbah Gati (Ki Ageng Gati) atau dikenal juga dengan Mbah Dukuh.

  • Kisah: Istilah Dukuh dalam bahasa Jawa berarti pemukiman baru yang terpisah dari desa induk. Mbah Gati adalah sosok yang pertama kali mendirikan padepokan atau hunian kecil di wilayah ini. Makam atau petilasannya dihormati sebagai tiang spiritual desa yang membuat wilayah Dukuh berkembang menjadi salah satu pusat pemukiman agraris yang mapan.

3. Desa Macanbang

  • Tokoh Leluhur: Mbah Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) atau dikenal juga dengan nama Singo Barong.

  • Kisah: Ini adalah salah satu desa bersejarah paling tua dan dikeramatkan di Gondang. Makam Sunan Kuning di Macanbang merupakan tokoh bangsawan Mataram yang terlibat dalam Geger Pacinan melawan VOC. Tempat ini menjadi poros spiritual penting di Tulungagung barat.

4. Desa Tiudan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Bodho dan Mbah Demang.

  • Kisah: Tiudan sangat terkenal dengan industri bata merah dan gentengnya. Leluhur desa ini, Mbah Bodho, konon adalah sosok ksatria yang menyembunyikan kesaktiannya di balik perilaku yang tampak bersahaja (bodho), yang membuka lahan di dekat bukit/gumuk Tiudan.

5. Desa Sidem

  • Tokoh Leluhur: Mbah Sentono (atau Ki Ageng Sidem).

  • Kisah: Terletak di kawasan perbukitan yang memiliki Gunung Sidem. Nama Sidem berasal dari kata "Sari" atau "Ayem/Sidem" (tenang). Mbah Sentono dihormati sebagai tokoh yang menenangkan daerah lereng ini agar tidak longsor dan aman ditinggali.

6. Desa Bendungan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Topo dan Mbah Joko.

  • Kisah: Mbah Topo adalah tokoh yang terkenal membangun fondasi spiritual dan fisik (termasuk tata kelola air prasejarah/bendungan) di wilayah perbatasan selatan. Keturunannya meluas hingga ke area Dusun Senden Kidul.

7. Desa Kendal

  • Tokoh Leluhur: Mbah Wali Kurdi (atau Eyang Kurdi).

  • Kisah: Desa Kendal sangat kental dengan nuansa religiusitas kuno. Mbah Wali Kurdi dihormati sebagai ulama pengelana yang menancapkan tonggak syiar Islam pertama di Kendal, berbatasan langsung dengan wilayah Kauman (Kalangbret).

8. Desa Sidomulyo

  • Tokoh Leluhur: Mbah Buyut Kajar dan Ki Ageng Sidomulyo.

  • Kisah: Membawahi Dusun Gambrengan dan sekitarnya. Tokoh pembuka desa ini adalah para pengikut prajurit diponegoro yang menata lahan pertanian rawa menjadi daerah yang "Sido" (terlaksana) "Mulyo" (mulia/makmur).

9. Desa Wonokromo

  • Tokoh Leluhur: Kyahi / Mbah Wonokromo.

  • Kisah: Nama desa ini berarti "Hutan yang Ditata Baik" (Wono = Hutan, Kromo = Tata krama/Aturan). Mbah Wonokromo adalah seorang tokoh bangsawan sekaligus ulama yang merambah hutan liar di daerah tersebut menjadi kawasan agraris yang tertib.

10. Desa Ngrendeng

  • Tokoh Leluhur: Mbah Rendeng (Ki Ageng Rendeng).

  • Kisah: Sesuai kondisi geografis masa lalu, wilayah ini dulunya adalah pusat luapan air di musim hujan (Rendeng). Mbah Rendeng adalah tokoh yang memiliki kesaktian boto putih yang mampu menjinakkan aliran air parah sehingga wilayah ini bisa kering dan dijadikan pemukiman.

11. Desa Gondosuli

  • Tokoh Leluhur: Eyang Suli (atau Mbah Gondo).

  • Kisah: Nama desa diambil dari penanda alam berupa Pohon/Bunga Gondosuli yang mengeluarkan bau harum (Gondo = Bau/Harum). Eyang Suli adalah sesepuh yang pertama kali menanam atau merawat pohon keramat tersebut di punden desa.

12. Desa Notorejo

  • Tokoh Leluhur: Mbah Noto (Ki Ageng Notorejo).

  • Kisah: Memiliki arti nama "Menata Kemakmuran Wilayah". Mbah Noto adalah seorang tokoh perencana (arsitek tradisional kuno) yang membagi batas-batas tanah persawahan di Notorejo bagian selatan agar adil bagi para pendatang.

13. Desa Sepatan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Sepat (Ki Ageng Sepatan).

  • Kisah: Berbatasan langsung dengan Dusun Senden (Sepatan bagian timur). Nama Sepatan diyakini bertalian dengan banyaknya rawa terisolir yang penuh dengan ikan Sepat pada zaman dulu, yang dipimpin pembukaannya oleh seorang ksatria pelarian yang dipanggil Mbah Sepat.

14. Desa Kiping

  • Tokoh Leluhur: Mbah Kiping (Eyang Singo Kiping).

  • Kisah: Menurut cerita rakyat, nama Kiping dikaitkan dengan taktik mengintip atau bertahan (kiping/tebing) para prajurit pejuang anti-VOC yang bersembunyi di rimbunnya hutan bambu wilayah tersebut.

15. Desa Blendis

  • Tokoh Leluhur: Mbah Blendis.

  • Kisah: Terletak di daerah yang berbatasan dengan kontur perbukitan. Nama Blendis secara lisan sering dikaitkan dengan istilah "Mblendis" (gundukan tanah atau getah pohon hutan purba) yang dibersihkan oleh sesepuh desa untuk jalur perlintasan kuda pada zaman kerajaan.

16. Desa Tawing

  • Tokoh Leluhur: Mbah Joko Tawing.

  • Kisah: Dalam bahasa Jawa kuno, Tawing berarti tabir, penghalang, atau tebing pelindung. Mbah Joko Tawing dihormati sebagai danyang penjaga benteng pertahanan alam (perbukitan) agar desa terlindung dari serangan musuh luar maupun angin kencang.

17. Desa Jarakan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Jarak (Ki Ageng Jarak).

  • Kisah: Dinamai Jarakan karena pada mulanya wilayah ini dipenuhi oleh perkebunan pohon Jarak (yang di kemudian hari pada era penjajahan Jepang sempat dijadikan minyak). Mbah Jarak adalah pelopor agraris di wilayah ini.

18. Desa Rejosari & 19. Desa Bendo

  • Tokoh Leluhur: Mbah Bendo dan Ki Ageng Rejo.

  • Kisah: Desa Bendo merujuk pada banyaknya Pohon Bendo (Artocarpus elasticus) yang kayunya besar dan digunakan oleh danyang pertama untuk membuat tempat berkumpul, sedangkan Rejosari adalah nama pengharapan dari Ki Ageng Rejo agar tanah pemukiman baru tersebut senantiasa ramai (Rejo) dan asri (Sari).

Selasa, 16 Juni 2026

SEJARAH DAN ASAL-USUL DUSUN SENDUNG KALITELU

Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung

1. Letak Geografis: Puthuk di Tengah Rawa "Banjir Abadi"

Pada masa lampau, Dusun Sendung hanyalah sebuah Puthuk—gundukan tanah berupa gerumbul (semak belukar) seluas kurang lebih $1.500 \text{ m}^2$—yang berdiri di tengah-tengah hamparan rawa-rawa yang luas.

Secara geografis, puthuk ini berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan Utara. Aliran anak sungai yang berhulu di Gunung Sidem inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai "Kali Telu". Aliran Kali Telu membelah puthuk ini menjadi dua bagian (utara dan selatan) yang kelak secara administratif bergabung ke desa yang berbeda:

  • Bagian Utara (Dusun Sendung): Bergabung dengan Desa Gondang.

  • Bagian Selatan (Dusun Senden): Bergabung dengan Desa Sepatan.

Karena letaknya yang berada di ujung luar, puthuk ini menjadi tapal batas bagi 4 wilayah desa:

  • Utara: Desa Gondang

  • Barat: Desa Bendungan

  • Timur: Desa Sepatan

  • Selatan: Desa Notorejo

2. Masa Keterpencilan dan Isolasi

Lengkap sudah penderitaan wilayah ini pada masa lalu. Berada di tapal batas empat desa membuat kawasan ini sangat terpencil dan jauh dari pusat keramaian. Jangankan orang luar, warga Desa Gondang sendiri pun dulu banyak yang memandang sebelah mata.

Sebelum tahun 1980, wilayah ini dijuluki sebagai "Wilayah Banjir Abadi" di kawasan Gondang karena selalu tenggelam setiap musim penghujan (rendeng). Saking terisolirnya, masyarakat Sendung baru bisa menikmati dan merasakan nyala lampu listrik pada tahun 1996.

3. Asal-Usul Nama "Sendung" (Legenda Ki Khasan Thalib)

Kisah bermula dari seorang pengembara asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah bernama Ki Khasan Thalib. Suatu hari, ia terdampar di puthuk gerumbul tersebut saat sedang mencari ikan di rawa-rawa Kali Telu. Karena kelelahan, ia menyandarkan badannya ke sebuah batu condong hingga tertidur pulas.

Saat terbangun, hari sudah gelap dan cuaca berubah mendung pertanda hujan akan turun. Di momen itulah Ki Khasan Thalib menancapkan sebuah tetenger (tongkat kayu) sebagai tanda bahwa wilayah itu akan didiaminya kelak. Peristiwa habis bersandar (Senden) di saat cuaca berawan (Mendung) inilah yang membuat beliau menamai tempat tersebut sebagai "SENDUNG".

4. Sejarah Perkembangan Spiritual dan Strategi Gestok (1943 - 1965)

Seiring waktu, puthuk yang awalnya sepi mulai berkembang menjadi pemukiman dan terbagi menjadi tiga wilayah syiar Islam:

  • Wilayah Selatan (Dusun Senden Kidul - 1943): Mayoritas dihuni oleh keturunan Mbah Topo. Beliau mendirikan langgar pertama di wilayah selatan pada tahun 1943.

  • Wilayah Tengah (Langgar Senden Lor - 1946): Didirikan oleh Mbah Syukur tak lama setelah kemerdekaan.

  • Wilayah Utara (Dusun Sendung - 1965): Dikuasai oleh keturunan Mbah Sali tepat pada tahun terjadinya peristiwa GESTOK (G30S/PKI).

📌 Catatan Sejarah Penting: Pendirian titik komunitas muslim di Sendung Utara pada tahun 1965 merupakan sebuah strategi jenius dari sesepuh. Hal ini dilakukan guna mensiasati agar masyarakat Sendung tidak ikut dibantai oleh Sakerah, seperti tragedi pembantaian massal yang menimpa warga Gondang lainnya yang dikubur di Pemakaman Gunung Cilik.

5. Cikal Bakal Masjid An-Nuur: Perjuangan Mbah Dul hingga Kyai Tohir

Anak pertama Mbah Sali yang bernama Kyai Abdul Shomad (Mbah Dul) menjadi tokoh utama perintis Islam di Sendung Utara. Beliau menyulap sebuah gotha'an (kamar kecil) di dalam rumahnya sebagai tempat salat berjamaah dan mengaji.

Setelah tahun 1970, langgar rintisan Mbah Dul ini dipindahkan ke area Sendung Utara. Estafet perjuangan dan keimaman langgar kuno ini kemudian diteruskan oleh Kyai Tohir.

6. Era Metamorfosis: Menjadi "Dusun Santri" yang Megah (2006)

Di bawah kepemimpinan Bapak Kyai Syamsi Dukha (seorang ulama jebolan Pesantren Pondok Tengah Kamulan, Trenggalek) sebagai Imam Sendung I, wilayah ini mengalami transformasi total:

  • Masjid Jami' An-Nuur: Langgar kuno dirombak menjadi masjid yang sangat megah dan lux untuk ukuran Kecamatan Gondang, dengan biaya pembangunan menelan lebih dari Rp 500.000.000,-.

  • Gedung TPA / Pesantren An-Nuur: Pada 12 April 2006, didirikan gedung TPA berlantai 2 yang megah dengan fasilitas lengkap senilai Rp 850.000.000,-. Gedung ini diresmikan langsung oleh Bupati Tulungagung, Bapak Ir. Heru Tjahjono, M.M., dengan struktur pengurus Kyai Syamsi Dukha (Kepala Sekolah) dan Bapak Badrodin (Ketua Yayasan).

Kesimpulan Akhir

Siapa yang menyangka, gundukan tanah (puthuk) rawa terisolir seluas $1.500 \text{ m}^2$ itu kini telah bermetamorfosis menjadi pemukiman padat yang dihuni sekitar 600 jiwa. Kompleks Masjid An-Nuur dan Gedung TPA kini berdiri tegak menjadi "ICON" kebanggaan.

Selamat tinggal Dusun Sendung yang banjir dan terisolir! Selamat datang era baru "SENDUNG KALITELU" sebagai Dusun Santri yang sejuk, makmur, dan damai di bawah bimbingan Romo Kyai Syamsi Dukha.