Rabu, 17 Juni 2026

ASAL USUL DUSUN - DUSUN DI WILAYAH DESA GONDANG

 Menelusuri sejarah dusun-dusun di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, kita akan menemukan pola babat alas (pembukaan lahan) yang sangat khas wilayah Jawa bagian selatan. Nama-nama dusun ini tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari karakteristik alam masa lalu (topografi rawa, sungai, dan vegetasi pohon) serta kisah para tokoh pembuka daerah tersebut.

Berikut adalah narasi sejarah dan asal-usul dari dusun-dusun di Desa Gondang (Sendung, Babadan, Genegan, Ngebrak, Loparen, dan Laban) berdasarkan pendekatan toponimi (asal-usul nama tempat) dan tradisi lisan (folklore) masyarakat lokal:

1. Dusun Sendung (Kalitelu)

Seperti yang telah diulas mendalam sebelumnya, Sendung berawal dari sebuah puthuk (gundukan tanah bersemak) di tengah rawa-rawa Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan Utara, tempat bertemunya tiga aliran air yang disebut Kali Telu.

  • Asal-Usul Nama: Diambil dari kisah pengembara asal Magelang, Ki Khasan Thalib, yang terdampar saat mencari ikan. Setelah tertidur dan bersandar (Senden) di sebuah batu condong, ia terbangun dalam kondisi cuaca berawan (Mendung). Tempat ini kemudian dinamai "Sendung".

  • Karakteristik: Dahulu merupakan wilayah "banjir abadi" yang terisolir di tapal batas 4 desa. Dusun ini mengalami transformasi total menjadi "Dusun Santri" yang padat lewat perintisan keagamaan dari garis keturunan Mbah Sali (Mbah Dul Somad) hingga era keemasan Kyai Syamsi Dukha di Masjid An-Nuur.

2. Dusun Babadan

Dalam istilah bahasa Jawa, kata Babadan berasal dari kata dasar "Babad" yang berarti menebang pohon, merambah semak belukar, atau membuka lahan baru (babat alas).

  • Asal-Usul Nama: Wilayah ini dinamai Dusun Babadan karena pada masa lampau, area inilah yang menjadi titik sentral atau tempat pertama kali dilakukannya pembersihan hutan/semak belukar berskala besar oleh para sesepuh untuk dijadikan pemukiman warga di Desa Gondang.

  • Karakteristik: Nama Babadan menandai awal mula peradaban transisi dari wilayah hutan liar/rawa menjadi wilayah yang layak dihuni secara komunal.

3. Dusun Genegan

Nama Genegan memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan kondisi geografis wilayah Gondang masa lalu yang didominasi oleh perairan dan rawa.

  • Asal-Usul Nama: Kata Genegan diduga kuat berakar dari kata "Genangan" atau "Kegeneng" (tergenang air). Karena posisinya yang berada di dataran rendah dekat aliran sungai, wilayah dusun ini pada musim penghujan selalu menjadi kantong air tempat berkumpulnya luapan air sungai yang menggenang dalam waktu lama.

  • Karakteristik: Sama seperti Sendung, ketangguhan masyarakat Genegan diuji oleh alam, hingga akhirnya sistem kanalisasi dan tanggul modern berhasil mengubah wilayah basah ini menjadi pemukiman dan lahan pertanian yang sangat subur.

4. Dusun Ngebrak

Kata Ngebrak dalam toponimi Jawa sering kali dikaitkan dengan aktivitas atau keberadaan hewan, atau juga tanaman pembatas wilayah.

  • Asal-Usul Nama: Ada dua versi lisan yang populer mengenai nama ini. Versi pertama menyebutkan Ngebrak berasal dari kata "Brak" atau "Krak", yang merujuk pada tempat singgah, kandang besar, atau pos tempat beristirahatnya para pekerja pembuka lahan dan hewan ternak mereka pada masa lampau. Versi kedua mengaitkannya dengan suara dahan-dahan pohon besar yang tumbang berserakan (ngrak/ngebrak) saat proses babat alas.

  • Karakteristik: Dusun ini berkembang sebagai area pemukiman yang strategis karena menjadi simpul penghubung aktivitas warga antardusun.

5. Dusun Loparen

Nama Loparen memiliki keunikan tersendiri dan sangat kental dengan nuansa vegetasi alam kuno.

  • Asal-Usul Nama: Secara bahasa, Loparen diyakini berasal dari perpaduan atau pergeseran kata yang merujuk pada jenis tanaman atau pepohonan khas rawa/sungai yang dahulu banyak tumbuh subur di wilayah tersebut (kemungkinan jenis pohon Lo atau tanaman rambat tertentu). Masyarakat terdahulu sering kali menandai suatu daerah baru berdasarkan tanaman penciri yang paling mendominasi di tempat mereka tinggal.

  • Karakteristik: Dusun Loparen dikenal sebagai wilayah yang ayem, subur, dan memiliki ikatan kekeluargaan yang erat di antara warganya.

6. Dusun Laban

Sama seperti Loparen, Dusun Laban mengadopsi namanya langsung dari kekayaan botani atau vegetasi lokal.

  • Asal-Usul Nama: Nama dusun ini diambil dari nama Pohon Laban (Vitex cofassus), sejenis pohon kayu keras yang pada masa pembukaan lahan purba banyak tumbuh di area tersebut. Pohon Laban dikenal memiliki kayu yang sangat kuat, tahan rayap, dan sering digunakan oleh para sesepuh zaman dulu untuk tiang fondasi rumah atau langgar. Karena wilayah ini ditandai dengan tumbuhnya pohon Laban yang besar/keramat, maka dipilihlah nama Laban sebagai identitas dusun.

  • Karakteristik: Penamaan berbasis pohon ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat yang sangat menghormati alam sekitar sebagai penanda ruang hidup mereka.

Hubungan Kultural Antardusun

Secara sosiologis, dusun-dusun ini diikat oleh satu tradisi besar yang sama, yaitu Bersih Desa (Nyadran) Kecamatan Gondang. Meskipun masing-masing dusun memiliki punden atau danyang pelindungnya sendiri (seperti punden di Sendung, Laban, dll.), pada hari-hari sakral adat, seluruh warga dari dusun-dusun ini akan menyatu untuk mensyukuri berkah kesuburan tanah yang telah dianugerahkan sejak zaman Ki Khasan Thalib dan para sesepuh lainnya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Gondang.

SITUS PEMAKAMAN GIRILOYO GUNUNG CILIK KAMULAN, DORENAN

 Situs Pemakaman Gunung Cilik (Giriloyo) Kamulan tidak hanya menjadi situs arkeologi, melainkan sebuah ruang kosmologi Jawa yang menyatukan fakta sejarah, silsilah ningrat (trah bupati), figur ulama, hingga legenda mistis yang memengaruhi kebijakan modern (seperti wacana bandara).

Mari kita bedah dan rapikan catatan sejarah serta profil komprehensif Gunung Cilik Kamulan berdasarkan data luar biasa yang Anda berikan, valid hingga era modern 2026:

1. Asal-Usul Mitologis: Kosmologi Gunung Semeru & Anoman

Secara toponimi kuno dan folklore, bukit Gunung Cilik di Kamulan dipercaya masyarakat sebagai bagian dari puncak Gunung Semeru yang terlempar akibat tendangan satria legendaris Bhatara Anoman.

  • Serpihan puncak Semeru tersebut terhempas dan sebagian besar jatuh membentuk bukit kecil di Desa Kamulan.

  • Sisa reruntuhan batuannya tercecer hingga menjadi gugusan perbukitan di wilayah Kecamatan Gondang, Tulungagung. Hal ini menjelaskan secara mistis mengapa kontur alam Gondang dan Durenan-Kamulan memiliki keterikatan geografis.

2. Kompleks Makam Kanjengan: Persemayaman para Penguasa Mataraman

Giriloyo Kamulan adalah tempat peristirahatan terakhir (Zero Area) bagi para penguasa tertinggi lintas kabupaten (Trenggalek, Tulungagung, Ponorogo, hingga Gresik). Berdasarkan catatan Cagar Budaya (UU No. 11 Tahun 2010), berikut adalah tokoh-tokoh agung yang dimakamkan di sana:

Tokoh Ningrat & Birokrasi Kerajaan:

  • Kanjeng Jimat: Adipati legendaris Trenggalek.

  • KPAA Sosroningrat (Raden Tumenggung Adipati Sosrodiningrat): Bupati Tulungagung, yang juga tercatat secara historis sebagai salah satu pemilik/pemelihara Pusaka Tombak Kiai Upas yang legendaris.

  • KRTAA Sosroprawiro (Raden Tumenggung Sosroprawiro): Bupati Ponorogo, beserta istrinya Raden Ayu Sosroprawiro.

  • KRA Musono: Bupati Gresik (yang membawahi wilayah Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo).

  • Aparatur Kabupaten: Raden Sosroprawiro (Patih Trenggalek), Raden Mangun Moestopo (Penghulu Kab. Trenggalek), Kanjeng Prawiro, Raden Ngabehi Kertowikromo, Raden Ayu Moekadi Sosrodipoero, Raden Hadi Prawiro, Raden Ngabehi Haji Soemojoedo, Raden Haji Soemoyudo, Raden Ronodipoero, dan Raden Sosrojudo.

Tokoh Ulama dan Kiai Sepuh Kamulan:

Selain kaum bangsawan, bukit ini menjadi saksi harmonisasi ulama dan umara. Di antaranya yang dimakamkan di sini:

  • KH. Sulaiman: Pendiri Pondok Pesantren Darissulaimaniyyah.

  • Syekh Muhammad Mahmud Ikhsan: Ulama dan kiai kharismatik dari Pondok Pesantren Hidayatut Thulab, Kamulan.

3. Khazanah Mistis dan Penjaga Gaib Makam Kanjengan

Keagungan para bupati di tempat ini melahirkan berbagai kisah wingit dan fenomena gaib yang diyakini masyarakat secara turun-temurun:

  • Jelmaan Burung Perkutut: Roh KPAA Sosroningrat (Bupati Tulungagung) dipercaya sewaktu-waktu menjelma menjadi burung perkutut gaib. Suaranya terdengar jelas, namun wujudnya akan lenyap seketika saat dicari.

  • Macan Putih & Bidadari: Sosok berwujud macan putih kuno dan gadis jelita bak bidadari dipercaya masyarakat sebagai danyang/penjaga utama Makam Kanjengan.

  • Ular Bertengger & Manifestasi di Pendopo: Kompleks ini dijaga oleh ular-ular kecil. Pada hari-hari sakral tertentu, ular ini menghilang dari Kamulan dan muncul di Pendopo Kabupaten Tulungagung serta Perempatan Kepatihan dalam wujud ular raksasa yang bertengger.

  • Anomali Penerbangan (Zona Larangan Terbang): Berdasarkan kepercayaan mistik lokal, area Makam Kanjengan adalah area zero. Kompas atau instrumen pesawat yang melintas di atasnya dipercaya akan kehilangan kendali dan jatuh. Mitos kuat inilah yang secara historis mewarnai tarik-ulur dan pembatalan rencana pembangunan bandara di wilayah Trenggalek sejak zaman dulu.

4. Etika Peziarah: Hukum Karma Instan

Catatan Anda menegaskan aturan tak tertulis yang sangat ketat di Gunung Cilik: Kekuatan mistis dan spiritual hanya berlaku di Makam Kanjengan atas, tidak di makam umum bawah. Peziarah wajib meluruskan niat (bertawasul dan mendoakan para wali serta bupati).

Masyarakat setempat memiliki bukti lisan tentang "kualat" atau karma instan bagi orang berniat buruk atau tidak mantap. Seperti kisah nyata masa lalu tentang seorang peziarah yang membelokkan niatnya dari ziarah wali menjadi mencari nomor togel. Walhasil, ia langsung kesurupan, mengeram, dan mencakar lantai layaknya seekor macan putih sebelum akhirnya dinetralkan oleh warga dan dipaksa meminta maaf kepada leluhur.

Profil Situs di Era Modern 2026

Hingga tahun 2026 ini, berkat perlindungan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Situs Gunung Cilik Kamulan tetap lestari. Situs ini menjadi perpaduan sempurna antara wisata sejarah (pemujaan trah bupati Mataraman dan bukti otentik peradaban pasca-Prasasti Kamulan) serta wisata religi tempat bertemunya para santri dan abangan untuk mencari ketenangan batin. Catatan tambahan dari Anda ini menyempurnakan narasi bahwa hilangnya bandara di Trenggalek adalah babak sejarah yang ditulis oleh kekuatan tradisi dan spiritualitas masyarakatnya.

SESEPUH DAN LELUHUR DESA DI WILAYAH KEC. GONDANG TULUNGAGUNG

 Menelusuri figur leluhur (babat alas, danyang, atau punden) di desa-desa Kecamatan Gondang, Tulungagung, membawa kita pada jalinan sejarah lisan (folklore) yang sangat kuat. Tokoh-tokoh ini umumnya merupakan bangsawan atau prajurit Kerajaan Mataram Islam yang melakukan eksodus pasca-Perang Diponegoro (1825–1830), para Auliya/Ulama penyebar Islam, serta para Sesepuh Sakti yang membuka wilayah hutan dan rawa.

Berikut adalah daftar tokoh sejarah dan sesepuh yang dihormati sebagai leluhur di desa-desa Kecamatan Gondang (termasuk tambahan Desa Dukuh):

1. Desa Gondang

  • Tokoh Leluhur: Ki Khasan Thalib (penemu awal Dusun Sendung) serta Mbah Sali dan keturunannya, Kyai Abdul Shomad (Mbah Dul).

  • Kisah: Ki Khasan Thalib (pengembara asal Magelang) adalah penemu Dusun Sendung yang menancapkan tetenger setelah bersandar saat mendung. Sementara trah Mbah Sali dan Mbah Dul dihormati sebagai perintis tatanan sosial, hukum, dan syiar Islam purba yang merubah kawasan rawa menjadi pemukiman padat dan islami.

2. Desa Dukuh

  • Tokoh Leluhur: Mbah Gati (Ki Ageng Gati) atau dikenal juga dengan Mbah Dukuh.

  • Kisah: Istilah Dukuh dalam bahasa Jawa berarti pemukiman baru yang terpisah dari desa induk. Mbah Gati adalah sosok yang pertama kali mendirikan padepokan atau hunian kecil di wilayah ini. Makam atau petilasannya dihormati sebagai tiang spiritual desa yang membuat wilayah Dukuh berkembang menjadi salah satu pusat pemukiman agraris yang mapan.

3. Desa Macanbang

  • Tokoh Leluhur: Mbah Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) atau dikenal juga dengan nama Singo Barong.

  • Kisah: Ini adalah salah satu desa bersejarah paling tua dan dikeramatkan di Gondang. Makam Sunan Kuning di Macanbang merupakan tokoh bangsawan Mataram yang terlibat dalam Geger Pacinan melawan VOC. Tempat ini menjadi poros spiritual penting di Tulungagung barat.

4. Desa Tiudan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Bodho dan Mbah Demang.

  • Kisah: Tiudan sangat terkenal dengan industri bata merah dan gentengnya. Leluhur desa ini, Mbah Bodho, konon adalah sosok ksatria yang menyembunyikan kesaktiannya di balik perilaku yang tampak bersahaja (bodho), yang membuka lahan di dekat bukit/gumuk Tiudan.

5. Desa Sidem

  • Tokoh Leluhur: Mbah Sentono (atau Ki Ageng Sidem).

  • Kisah: Terletak di kawasan perbukitan yang memiliki Gunung Sidem. Nama Sidem berasal dari kata "Sari" atau "Ayem/Sidem" (tenang). Mbah Sentono dihormati sebagai tokoh yang menenangkan daerah lereng ini agar tidak longsor dan aman ditinggali.

6. Desa Bendungan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Topo dan Mbah Joko.

  • Kisah: Mbah Topo adalah tokoh yang terkenal membangun fondasi spiritual dan fisik (termasuk tata kelola air prasejarah/bendungan) di wilayah perbatasan selatan. Keturunannya meluas hingga ke area Dusun Senden Kidul.

7. Desa Kendal

  • Tokoh Leluhur: Mbah Wali Kurdi (atau Eyang Kurdi).

  • Kisah: Desa Kendal sangat kental dengan nuansa religiusitas kuno. Mbah Wali Kurdi dihormati sebagai ulama pengelana yang menancapkan tonggak syiar Islam pertama di Kendal, berbatasan langsung dengan wilayah Kauman (Kalangbret).

8. Desa Sidomulyo

  • Tokoh Leluhur: Mbah Buyut Kajar dan Ki Ageng Sidomulyo.

  • Kisah: Membawahi Dusun Gambrengan dan sekitarnya. Tokoh pembuka desa ini adalah para pengikut prajurit diponegoro yang menata lahan pertanian rawa menjadi daerah yang "Sido" (terlaksana) "Mulyo" (mulia/makmur).

9. Desa Wonokromo

  • Tokoh Leluhur: Kyahi / Mbah Wonokromo.

  • Kisah: Nama desa ini berarti "Hutan yang Ditata Baik" (Wono = Hutan, Kromo = Tata krama/Aturan). Mbah Wonokromo adalah seorang tokoh bangsawan sekaligus ulama yang merambah hutan liar di daerah tersebut menjadi kawasan agraris yang tertib.

10. Desa Ngrendeng

  • Tokoh Leluhur: Mbah Rendeng (Ki Ageng Rendeng).

  • Kisah: Sesuai kondisi geografis masa lalu, wilayah ini dulunya adalah pusat luapan air di musim hujan (Rendeng). Mbah Rendeng adalah tokoh yang memiliki kesaktian boto putih yang mampu menjinakkan aliran air parah sehingga wilayah ini bisa kering dan dijadikan pemukiman.

11. Desa Gondosuli

  • Tokoh Leluhur: Eyang Suli (atau Mbah Gondo).

  • Kisah: Nama desa diambil dari penanda alam berupa Pohon/Bunga Gondosuli yang mengeluarkan bau harum (Gondo = Bau/Harum). Eyang Suli adalah sesepuh yang pertama kali menanam atau merawat pohon keramat tersebut di punden desa.

12. Desa Notorejo

  • Tokoh Leluhur: Mbah Noto (Ki Ageng Notorejo).

  • Kisah: Memiliki arti nama "Menata Kemakmuran Wilayah". Mbah Noto adalah seorang tokoh perencana (arsitek tradisional kuno) yang membagi batas-batas tanah persawahan di Notorejo bagian selatan agar adil bagi para pendatang.

13. Desa Sepatan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Sepat (Ki Ageng Sepatan).

  • Kisah: Berbatasan langsung dengan Dusun Senden (Sepatan bagian timur). Nama Sepatan diyakini bertalian dengan banyaknya rawa terisolir yang penuh dengan ikan Sepat pada zaman dulu, yang dipimpin pembukaannya oleh seorang ksatria pelarian yang dipanggil Mbah Sepat.

14. Desa Kiping

  • Tokoh Leluhur: Mbah Kiping (Eyang Singo Kiping).

  • Kisah: Menurut cerita rakyat, nama Kiping dikaitkan dengan taktik mengintip atau bertahan (kiping/tebing) para prajurit pejuang anti-VOC yang bersembunyi di rimbunnya hutan bambu wilayah tersebut.

15. Desa Blendis

  • Tokoh Leluhur: Mbah Blendis.

  • Kisah: Terletak di daerah yang berbatasan dengan kontur perbukitan. Nama Blendis secara lisan sering dikaitkan dengan istilah "Mblendis" (gundukan tanah atau getah pohon hutan purba) yang dibersihkan oleh sesepuh desa untuk jalur perlintasan kuda pada zaman kerajaan.

16. Desa Tawing

  • Tokoh Leluhur: Mbah Joko Tawing.

  • Kisah: Dalam bahasa Jawa kuno, Tawing berarti tabir, penghalang, atau tebing pelindung. Mbah Joko Tawing dihormati sebagai danyang penjaga benteng pertahanan alam (perbukitan) agar desa terlindung dari serangan musuh luar maupun angin kencang.

17. Desa Jarakan

  • Tokoh Leluhur: Mbah Jarak (Ki Ageng Jarak).

  • Kisah: Dinamai Jarakan karena pada mulanya wilayah ini dipenuhi oleh perkebunan pohon Jarak (yang di kemudian hari pada era penjajahan Jepang sempat dijadikan minyak). Mbah Jarak adalah pelopor agraris di wilayah ini.

18. Desa Rejosari & 19. Desa Bendo

  • Tokoh Leluhur: Mbah Bendo dan Ki Ageng Rejo.

  • Kisah: Desa Bendo merujuk pada banyaknya Pohon Bendo (Artocarpus elasticus) yang kayunya besar dan digunakan oleh danyang pertama untuk membuat tempat berkumpul, sedangkan Rejosari adalah nama pengharapan dari Ki Ageng Rejo agar tanah pemukiman baru tersebut senantiasa ramai (Rejo) dan asri (Sari).

Selasa, 16 Juni 2026

SEJARAH DAN ASAL-USUL DUSUN SENDUNG KALITELU

Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung

1. Letak Geografis: Puthuk di Tengah Rawa "Banjir Abadi"

Pada masa lampau, Dusun Sendung hanyalah sebuah Puthuk—gundukan tanah berupa gerumbul (semak belukar) seluas kurang lebih $1.500 \text{ m}^2$—yang berdiri di tengah-tengah hamparan rawa-rawa yang luas.

Secara geografis, puthuk ini berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan Utara. Aliran anak sungai yang berhulu di Gunung Sidem inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai "Kali Telu". Aliran Kali Telu membelah puthuk ini menjadi dua bagian (utara dan selatan) yang kelak secara administratif bergabung ke desa yang berbeda:

  • Bagian Utara (Dusun Sendung): Bergabung dengan Desa Gondang.

  • Bagian Selatan (Dusun Senden): Bergabung dengan Desa Sepatan.

Karena letaknya yang berada di ujung luar, puthuk ini menjadi tapal batas bagi 4 wilayah desa:

  • Utara: Desa Gondang

  • Barat: Desa Bendungan

  • Timur: Desa Sepatan

  • Selatan: Desa Notorejo

2. Masa Keterpencilan dan Isolasi

Lengkap sudah penderitaan wilayah ini pada masa lalu. Berada di tapal batas empat desa membuat kawasan ini sangat terpencil dan jauh dari pusat keramaian. Jangankan orang luar, warga Desa Gondang sendiri pun dulu banyak yang memandang sebelah mata.

Sebelum tahun 1980, wilayah ini dijuluki sebagai "Wilayah Banjir Abadi" di kawasan Gondang karena selalu tenggelam setiap musim penghujan (rendeng). Saking terisolirnya, masyarakat Sendung baru bisa menikmati dan merasakan nyala lampu listrik pada tahun 1996.

3. Asal-Usul Nama "Sendung" (Legenda Ki Khasan Thalib)

Kisah bermula dari seorang pengembara asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah bernama Ki Khasan Thalib. Suatu hari, ia terdampar di puthuk gerumbul tersebut saat sedang mencari ikan di rawa-rawa Kali Telu. Karena kelelahan, ia menyandarkan badannya ke sebuah batu condong hingga tertidur pulas.

Saat terbangun, hari sudah gelap dan cuaca berubah mendung pertanda hujan akan turun. Di momen itulah Ki Khasan Thalib menancapkan sebuah tetenger (tongkat kayu) sebagai tanda bahwa wilayah itu akan didiaminya kelak. Peristiwa habis bersandar (Senden) di saat cuaca berawan (Mendung) inilah yang membuat beliau menamai tempat tersebut sebagai "SENDUNG".

4. Sejarah Perkembangan Spiritual dan Strategi Gestok (1943 - 1965)

Seiring waktu, puthuk yang awalnya sepi mulai berkembang menjadi pemukiman dan terbagi menjadi tiga wilayah syiar Islam:

  • Wilayah Selatan (Dusun Senden Kidul - 1943): Mayoritas dihuni oleh keturunan Mbah Topo. Beliau mendirikan langgar pertama di wilayah selatan pada tahun 1943.

  • Wilayah Tengah (Langgar Senden Lor - 1946): Didirikan oleh Mbah Syukur tak lama setelah kemerdekaan.

  • Wilayah Utara (Dusun Sendung - 1965): Dikuasai oleh keturunan Mbah Sali tepat pada tahun terjadinya peristiwa GESTOK (G30S/PKI).

📌 Catatan Sejarah Penting: Pendirian titik komunitas muslim di Sendung Utara pada tahun 1965 merupakan sebuah strategi jenius dari sesepuh. Hal ini dilakukan guna mensiasati agar masyarakat Sendung tidak ikut dibantai oleh Sakerah, seperti tragedi pembantaian massal yang menimpa warga Gondang lainnya yang dikubur di Pemakaman Gunung Cilik.

5. Cikal Bakal Masjid An-Nuur: Perjuangan Mbah Dul hingga Kyai Tohir

Anak pertama Mbah Sali yang bernama Kyai Abdul Shomad (Mbah Dul) menjadi tokoh utama perintis Islam di Sendung Utara. Beliau menyulap sebuah gotha'an (kamar kecil) di dalam rumahnya sebagai tempat salat berjamaah dan mengaji.

Setelah tahun 1970, langgar rintisan Mbah Dul ini dipindahkan ke area Sendung Utara. Estafet perjuangan dan keimaman langgar kuno ini kemudian diteruskan oleh Kyai Tohir.

6. Era Metamorfosis: Menjadi "Dusun Santri" yang Megah (2006)

Di bawah kepemimpinan Bapak Kyai Syamsi Dukha (seorang ulama jebolan Pesantren Pondok Tengah Kamulan, Trenggalek) sebagai Imam Sendung I, wilayah ini mengalami transformasi total:

  • Masjid Jami' An-Nuur: Langgar kuno dirombak menjadi masjid yang sangat megah dan lux untuk ukuran Kecamatan Gondang, dengan biaya pembangunan menelan lebih dari Rp 500.000.000,-.

  • Gedung TPA / Pesantren An-Nuur: Pada 12 April 2006, didirikan gedung TPA berlantai 2 yang megah dengan fasilitas lengkap senilai Rp 850.000.000,-. Gedung ini diresmikan langsung oleh Bupati Tulungagung, Bapak Ir. Heru Tjahjono, M.M., dengan struktur pengurus Kyai Syamsi Dukha (Kepala Sekolah) dan Bapak Badrodin (Ketua Yayasan).

Kesimpulan Akhir

Siapa yang menyangka, gundukan tanah (puthuk) rawa terisolir seluas $1.500 \text{ m}^2$ itu kini telah bermetamorfosis menjadi pemukiman padat yang dihuni sekitar 600 jiwa. Kompleks Masjid An-Nuur dan Gedung TPA kini berdiri tegak menjadi "ICON" kebanggaan.

Selamat tinggal Dusun Sendung yang banjir dan terisolir! Selamat datang era baru "SENDUNG KALITELU" sebagai Dusun Santri yang sejuk, makmur, dan damai di bawah bimbingan Romo Kyai Syamsi Dukha.

Minggu, 12 Februari 2023

Apa itu DUSUN

APA ITU DUSUN..?


Syarat Pembentukan DUSUN :

     a. umlah penduduk dusun sekurang-kurang 100 Kepala Keluarga;

  1. luas wilayah dapat dijangkau dalam meningkatkan pelayanan dan pembinaan masyarakat;
  2. wilayah kerja memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi antar RT;
  3. keberadaan sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dan kehidupan bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat setempat;
  4. potensi dusun yang meliputi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dapat dikelola untuk kepentingan masyarakat dengan memperhatikan pelestarian lingkungan;
  5. batas dusun yang dinyatakan dalam bentuk batas alam dan/atau batas buatan; dan
  6. sarana dan prasarana, yaitu tersedianya potensi infrastruktur wilayah dusun.

Dusun dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan perkembangan penduduk setempat. Pembentukan dusun dapat dilakukan dengan mekanisme penggabungan beberapa dusun, bagian dusun yang bersandingan, dan pemekaran dari satu dusun menjadi dua dusun atau lebih. Mekanisme pembentukan dusun dengan pemekaran dari satu dusun menjadi dua dusun atau lebih dapat dilakukan setelah dusun induk mencapai usia sekurang-kurangnya 5 tahun.[3]

Tugas Kepala Dusun

Perlu Anda ketahui, Kepala Dusun atau yang dipanggil dengan sebutan lainnya merupakan salah satu perangkat desa yang bertugas sebagai pelaksana kewilayahan, yang ditetapkan lebih lanjut dalam peraturan bupati/walikota dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.[4]

Tugas utama Kepala Dusun adalah sebagai unsur satuan tugas kewilayahan yang bertugas membantu Kepala Desa dalam pelaksanaan tugasnya di wilayahnya.[5]

Kepala Dusun memiliki beberapa fungsi, antara lain:[6]

  1. pembinaan ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya perlindungan masyarakat, mobilitas kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah;
  2. mengawasi pelaksanaan pembangunan di wilayahnya;
  3. melaksanakan pembinaan kemasyarakatan dalam meningkatkan kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya;
  4. melakukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Sebagai gambaran untuk Anda, berikut kedudukan kepala dusun dalam pemerintahan desa:[7]

Hukumonline.comA

Jumat, 23 Desember 2022

S T A T I S T I K D A E R A H K E C A M A T A N G O N D A N G 2014

 1. Luas wilayah Kecamatan Gondang sebesar 37,65 km 2 dan sebagian wilayahnya terdiri dari pegunungan. Kecamatan Gondang merupakan salah satu kecamatan yang ada di sebelah barat Kabupaten Tulungagung. Luas Wilayah Kecamatan Gondang adalah 37,65 Km 2, dengan batasbatasnya yaitu sebelah utara adalah Kecamatan Kauman, sebelah timur Kecamatan Tulungagung dan Boyolangu sebelah selatan Kecamatan Pakel dan sebelah barat adalah Kabupaten Trenggalek. Kecamatan Gondang adalah salah satu Kecamatan yang jumlah desanya terbanyak di Kabupaten Tulungagung yaitu 20 desa. Dari seluruh desa yang ada di Kecamatan Gondang yang mempunyai wilayah terluas adalah Desa Sidem dengan luas wilayah 21,18 Km 2 atau sekitar 7,4 persen dari luas wilayah Kecamatan Gondang. Sedangkan yang mempunyai wilayah tersempit adalah Desa Jarakan dengan luas wilayah 0,76 Km 2 atau sekitar 2,01 persen luas wilayah Kecamatan Gondang. Menurut statusnya, 10desa di kecamatan ini berstatus desa.jika ditinjau dari jarak desa ke ibukota kecamatan, desa yang terjauh adalah desa Sidem yaitu sekitar 7,4 Km. 

2. Kecamatan Gondang terdiri dari 20 desa, 50 dusun, 105 RW dan 388 RT  Unit Pemerintahan Daerah di bawah kabupaten secara langsung adalah kecamatan. Sedangkan kecamatan terbagi habis kedalam desa/kelurahan. Kecamatan Gondang terbagi habis ke dalam 20 desa, 50 dusun, 105 Rukun Warga (RW) dan 388 Rukun Tetangga (RT). Desa yang mempunyai jumlah RT terbanyak adalah desa Tiudan yaitu sebanyak 46 RT, sedangkan yang mempunyai jumlah paling sedikit adalah desa Dukuh sebanyak 10 RT. Pemerintahan kecamatan merupakan kepanjangan tangan dari Sistem pemerintahan Kabupaten. Oleh karena itu ada beberapa pegawai di dinas kabupaten yang ditugaskan di kecamatan. pegawai yang ada di kecamatan Gondang berjumlah 960 terbagi atas golongan I, II, III, IV dan kontrak masing-masing sebanyak 23 orang, 106 orang, 400 orang,188 orang, dan 63 orang. pegawai yang terbanyak adalah dari cabang dinas pendidikan yang tersebar di sekolahsekolah

3. Kepadatan Penduduk di Kecamatan Gondang adalah jiwa/km2 Data kependudukan merupakan salah satu informasi yang diperlukan dalam proses pembangunan. Penduduk kecamatan Gondang pada akhir tahun 2013 sebesar jiwa yang terbagi atas laki-laki jiwa dan perempuan jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata jiwa/km 2. Memang belum terjadi pemerataan penduduk di Kecamatan Gondang, hal ini bisa dilihat adanya kesenjangan tingkat kepadatan penduduk antar desa. Piramida penduduk Kecamatan Gondang tahun 2013 menunjukkan penduduk Kecamatan Gondang didominsasi oleh penduduk muda/dewasa. penduduk usia 65 ke atas jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk kelompok lainnya. Akan tetapi jumlah penduduk satu tingkat di bawah kelompok usia 65 tahun ke atas, yaitu kelompok usia tahun jumlahnya paling sedikit, baik berjenis kelamin laki-laki atau berjenis kelamin perempuan.

4.Alat KB yang banyak digunakan masyarakat Kecamatan Gondang adalah Suntik Persentase Peserta KB Menurut Alat yang digunakan Tahun 2013 Suntik 53% Pil 17% IUD 13% Other 17% Sumber : Pengawas PLKB Kategori Keluarga menurut Dinas KBKS Tahun 2013 Sumber : Pengawas PLKB Implan 10% Lainnya 7% IUD Pil Suntik Implan Lainnya 79% Pra sejahtera Program keluarga berencana adalah salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk mengatur pertambahan penduduk. Dari jumlah pasangan subur di Kecamatan Gondang yang menggunakan alat KB IUD sebesar 13 persen, pil KB sebesar 17 persen, suntik sebesar 53 persen, implant sebesar 10 persen dan alat KB lainnya sebesar 7 persen. Sehingga dapat dikatakan bahwa alat KB yang banyak digunakan di Kecamatan Gondang adalah Suntik dan Pil KB. Hal ini bisa dimaklumi, sebab saat ini hampir di setiap desa ada poskesdes, posyandu serta bidan desa, yang dapat melayani peserta KB, dengan biaya yang murah. Kesejahteraan 21% Sejahtera rumah tangga di Kecamatan Gondang dapat dikatakan cukup bagus sebab hampir 79 persen, rumah tangganya masuk golongan rumah tangga kelompok sejahtera, dan sebesar hanya 21 persen masuk kelompok pra sejahtera. Oleh karena itu perlunya mempertahankan tingkat kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Gondang dengan berbagai program yang telah dicanangkan pemerintah. 4 Statistik Daerah Kecamatan Gondang 2014

5. Kendal Tawing Gondosuli Dukuh Sepatan Macanbang Kiping Rejosari Bendo Ngrendeng Gondang Bendungan Mojoarum Sidomulyo Notorejo Sidem Blendis Tiudan Wonokromo Jarakan Sarana pendidikan di Kecamatan Gondang ada sampai tingkat SLTA Pendidikan merupakan salah satu aspek untuk meningkatkan kualitas SDM. Keberhasilan bidang pendidikan ditentukan oleh banyak faktor antara lain, fasilitas pendidikan. sekolah di Kecamatan Gondang pada tahun 2013 untuk tingkat TK ada sebanyak 26 sekolah, SD sebanyak 39 sekolah dan SLTP sebanyak 5 sekolah, sedangkan untuk tingkat SLTA hanya 3 sekolah. Rasio murid per sekolah di Kecamatan Gondang tahun 2013 untuk tingkat TK sebanyak 63, SD sebanyak 155, dan SLTP sebanyak 609 dan SLTA sebanyak 380 murid. Rasio murid per guru di Kecamatan Gondang tahun 2013 untuk tingkat TK sebanyak 18, SD sebanyak 14, SLTP sebanyak 14, dan SLTA sebanyak 12. Sekolah untuk tingkat TK, SD maupun SLTP hampir ada di setiap desa di Kecamatan Gondang. Untuk tingkat TK, yang ada hanya swasta, tingkat SD, ada dua sekolah swasta yaitu di Desa Notorejo dan Desa Tiudan. Tingkat SLTP ada 2 yang negeri, 3 swasta, dan 1 negeri tingkat SLTA yaitu SMAN Gondang. Sarana Pendidikan di Kecamatan Gondang Tahun 2013 Uraian Sekolah Guru Murid TK SD SLTP SLTA Guru/Sekolah Murid/Sekolah Murid/Guru TK SD SLTP SLTA Sumber : Cabang Dinas Pendidikan Perbandingan Guru, Murid dan Sekolah SDN Tahun Guru Murid Sumber : Cabang Dinas Pendidikan Statistik Daerah Kecamatan Gondang

6. Saran Prasarana dan Tenaga Kesehatan di Kecamatan Gondang sudah cukup memadai Posyandu Menurut Desa Tahun Sumber : Profil Desa Tenaga Kesehatan menurut jenisnya Tahun Sumber : Profil Desa Fasilitas kesehatan yang tersedia di Kecamatan Gondang yaitu puskesmas/pustu sebanyak 4 unit, polindes16 unit dan posyandu sebanyak 69. Desa Tiudan mempunyai jumlah posyandu yang terbanyak yaitu 6 tempat. Hal ini bisa dimaklumi sebab desa ini mempunyai daerah yang terluas. Sedangkan desa-desa lainnya mempunyai posyandu merata jika dibandingkan desa lain yaitu sebanyak 3 sampai 4 tempat. Tersedianya sarana dan prasarana akan berguna jika diimbangi dengan jumlah tenaga kesehatan yang ada baik di wilayah tingkat kecamatan maupun di tingkat desa. Secara keseluruhan, di Kecamatan Gondang terdapat petugas 15 kesehatan yaitu 3 dokter, 29 bidan, 32 perawat, 44 dukun pijat, 15 dukun bayi Tersedianya sarana dan prasarana serta tenaga kesehatan di tingkat desa maupun kecamatan, tersebut diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kecamatan Gondang pada umumnya. 6 Statistik Daerah Kecamatan Gondang 2014

7.Pertanian tanaman padi banyak di usahakan oleh masyarakat di Kecamatan Gondang Kecamatan Gondang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung yang mempunyai potensi di bidang pertanian. Luas area pertanian untuk padi sebesar Ha, jagung seluas 142 Ha, ubi kayu seluas 148 Ha dan kedelai seluas 462 Ha. Usaha-usaha pertanian saat ini hendaknya pengelolaannya mengarah pada agro industri, sehingga di harapkan selain menghasilkan produk pertanian juga bisa mengolahnya menjadi suatu barang yang lebih berguna dan bermanfaat. peternak sapi di Kecamatan Gondang sebanyak orang dengan jumlah ternaknya ekor. Jenis ternak kambing, peternaknya sebanyak 569 orang dengan jumlah ternaknya ekor. Untuk jenis unggas, yang terbanyak adalah jenis ayam kampung. Hal ini bisa dimaklumi sebab hampir semua rumah tangga di desa itu memelihara ayam kampong yang disebabkan karena mudah memelihara juga dapat dijual sewaktuwaktu jika diperlukan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari

8.Usaha perdagangan jenis pracangan banyak diusahakan oleh masyarakat Kecamatan Gondang yaitu sebanyak 441 usaha Usaha Perdagangan di kecamatan Gondang Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor penggerak ekonomi, sebab sektor ini yang menghubungkan antara penghasil dan pengguna suatu sektor. Wilayah Kecamatan Gondang mempunyai 5 pasar, 245 toko umum, 441 pracangan dan 125 warung yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Gondang. Pasar sebanyak 5 unit itu masingmasing terletak di desa Tawing, Desa Dukuh, desa Gondang, desa Sidem dan desa Tiudan. Perdagangan, jika di bedakan menjadi pedagang besar/pengepul dan pedagang eceran, ternyata di Kecamatan Gondang hanya ada 9 pedagang besar, dengan jumlah tenaga kerja sebesar 29 orang. Sedangkan pedagang eceran sebanyak 606 perusahaan sedangkan tenaga kerja yang terserap sebanyak orang. Jika diamati lebih lanjut, ternyata masing-masing jenis pedagang hanya menyerap sekitar 2-5 orang tenaga kerja. Artinya sektor ini mempunyai kontribusi yang kecil dalam penyerapan tenaga kerja di wilayah Kecamatan Gondang. 

9. Kegiatan jasa perorangan hampir menyebar di setiap desa di Kecamatan Gondang Persewaan alat pesta di Kecamatan Gondang secara keseluruhan berjumlah 29 usaha yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Gondang, kecuali desa bendungan, desa Mojoarum, desa Sidem, desa Blendis dan desa Wonokromo. Untuk jasa reparasi khususnya motor, hampir ada disemua desa. Hal ini disebabkan kendaraan motor hampir dimiliki oleh semua pihak, sehingga mendorong timbulnya reparasi motor. Kegiatan ekonomi di sektor jasa di Kecamatan Gondang termasuk banyak, diantaranya bilyard, salon, pangkas rambut, penjahit, tukang listrik, tukang tambal ban dan lainnya. Dari berbagai jenis kegiatan itu Desa Gondang mempunyai jumlah kegiatan yang paling banyak di bandingkan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Gondang. Hal ini di sebabkan desa gondang merupakan desa pusat pemerintahan di kecamatan Gondang sehingga kebutuhan akan jasajasa tersebut juga banyak, dan masyarakat memanfaatkan moment tersebut.

Kamis, 22 Desember 2022

CETAK BIRU ARAH PEMBANGUNAN WILAYAH KEC.GONDANG TULUNGAGUNG

 

Identifikasi Sarana Prasarana Kebutuhan Infrastruktur Wilayah Perbatasan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung



Studi Identifikasi Sarana Prasarana Kebutuhan Infrastruktur Wilayah Perbatasan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung diprakarsai oleh Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Gondang sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Tulungagung berbatasan langsung dengan Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Beberapa identifikasi permasalahan dalam studi ini antara lain belum teridentifikasi dan belum dilaksanakannya peluang kerjasama pengembangan potensi maupun penanganan permasalahan/konflik, pembangunan wilayah dan infrastruktur yang tidak terintegrasi serta terjadinya kesenjangan pembangunan.

 

Penentuan delineasi kawasan perbatasan di Kecamatan Gondang dilakukan dengan analisis kualitatif yang meliputi beberapa aspek meliputi aspek interaksi wilayah, aspek peluang dan konflik perbatasan, aspek potensi kerjasama (ekonomi, aksesibilitas, fasilitas), aspek isu permasalahan perbatasan, aspek potensi sarana dan prasarana permukiman serta aspek tingkat perkembangan. Dari hasil analisis tersebut skenario pengembangan Kawasan Perbatasan Gondang dibagi menjadi dua prioritas, yaitu Cluster 1 dan Cluster 2. Sementara desa lainnya tetap diprioritaskan sebagai hinterland (penyangga). Cluster 1 terdiri dari Desa Gondosuli dan Desa Tawing yang memiliki fungsi perikanan (minapolitan) dan pariwisata sesuai dengan potensi kawasannya. Cluster 2 terdiri dari Desa Gondang, Desa Notorejo dan Desa Sidem yang memiliki fungsi pusat pemasaran mina dan IKM di Kecamatan Gondang.

 

Skenario pengembangan kawasan perbatasan Kecamatan Gondang ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi peluang kerjasama yang dimiliki baik dalam lingkup lokal maupun regional. Adapun sektor yang bisa dikerjasamakan diantaranya kerjasama pengelolaan kawasan minapolitan (pembenihan, pemasaran, pengelolaan pariwisata), kerjasama pengembangan pemasaraan IKM, serta kerjasama pemeliharaan infrastruktur. Terkait kebutuhan infrastruktur program prioritas pada Cluster 1 untuk kepentingan pengembangan minapolitan dan pariwisata dibutuhkan pengembangan infrastruktur penunjang (akses jalan memadai, MCK umum, sarana persampahan, pelayanan air minum, cold storage, IPAL, lahan parkir, signage menuju kawasan, oulite souvenir), industri kecil olahan ikan, penguatan kelembagaan koperasi, kerjasama bank, paket wisata. Selain itu perlu peningkatan layanan air minum, layanan persampahan, saluran drainase dan selanjutnya air limbah dan sanitasi.

Selanjutnya kebutuhan infrastruktur program prioritas pada Cluster 2 untuk kepentingan pengembangan potensi IKM dan Desa Gondang sebagai pusat IKK di Kawasan Perbatasan Kecamatan Gondang maka dibutuhkan pengembangan sentra oleh-oleh pemasaran, penguatan kelembagaan koperasi, kerjasama bank, paket wisata. Disamping itu, perlu peningkatan layanan air minum, layanan persampahan, saluran drainase, air limbah dan sanitasi, RTLH dan jaringan jalan. Kedepan, pelaksanaan program-program tersebut perlu dukungan dan koordinasi baik dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat sehingga bisa lebih cepat tujuan pengembangan kawasan perbatasan cepat terwujud.