Rabu, 08 Juni 2011

Koq Dusun itu namanya SENDUNG....?????

Barangkali  kebanyakan orang tidak mengira kalau undukan tanah gerumbul ditengah rawa-rawa ( dikenal dg nama PUTHUK ) itu sekarang bisa berubah bermetamorfosis menjadi sebuah pemukiman yang padat. Bayangkan saja, wilayah yag hanya seluas kurang lebih 1.500 M2 itu sekarang telah berpenduduk sekitar 600 jiwa. Waoow...

Puthuk itu memang berada di pinggiran wilayah Desa Gondang, Kec. Gondang Tulungagung, tepatnya di wilayah DAS Sungai Ngasinan Utara, Anak Sungai Ngasinan Utara yang berhulu di Gunung Sidem itu yg sekarang dikenal dengan sebutan "Kali Telu ". Dikawasan Kalitelu inilah Puthuk yg sekarang dikenal dengan Dusun Sendung itu berada. Kali telu telah membelah puthuk itu menjadi dua bagian, bagian utara dan bagian selatan, yg saat ini keduanya memiliki induk Desa yang berbeda. Wilayah utara bernama Dusun Sendung ikut bergabung dengan Desa Gondang, sedangkan wilayah selatan bernama Dusun Senden ikut bergabung dengan Desa Sepatan.

Karena berada di pinggiran desa, wajar kalau puthuk itu menjadi tapal batas 4 wilayah desa, Di Utara merupakan wilayah Desa Gondang, di barat wilayah Desa Bendungan, di Timur wilayah desa Sepatan dan Diselatan wilayah Desa Notorejo. Lengkap sudah keterpencilan puthuk ini karena berada di tapal batas desa dan jauh dari pusat2 keramaian desa. Saking terpencilnya wilayah ini telah lama sekali terisolasi, sampai2 nyala lampu listrik baru bisa dirasakan oleh masyarakat Sendung pada Tahun 1996. Sehingga tak ayal lagi kalau masyarakat jarang sekali yg mengenal Dusun ini. Jangankan masyarakat di luar Desa Gondang, kebanyakan orang satu desa Gondang Sendiri saja, dulu hanya memandang sebelah mata dengan keberadaan Dusun ini. Dusun yang miskin dan selalu kebanjiran saat musim penghujan ( Rendeng ). Bahkan sebelum tahun 1980, dijulukin wilayah banjir abadi di kawasan Gondang.

Seorang Pengembara yg konon berasal dari Kabupaten Magelang Jateng, dengan tidak sengaja terdampar di puthuk gerumbul  itu saat mencari ikan di rawa2 Kali telu. Karena kelelahan, pengembara yg bernama Ki Khasan Thalib itu menyandarkan badannya ke sebuah batu condong, dan akhirnya ketiduran. Pada saat beliau terbangun ternyata hari telah gelab, rupanya sedang mendung dan mau hujan. Disaat itulah Ki Khasan Thalib tadi menancapkan TETENGER ( tongkat kayu ) sebagai tanda wilayah itu akan didiaminya kelak. Karena peristiwanya ketika habis bersanadar ( Jawa : SENDEN ) dan disaat cuaca berawan ( jawa: MENDUNG ) dia akhirnya menamai wilayah berupa Puthuk Gerumbul di tengah Rawa-rawa Gondang itu bernama " SENDUNG "

Pemberian nama wilayah puthuk gerumbul di tengah rawa2 dengan sebutan puthuk Sendung  oleh Ki Khasan Thalib ( yg sekarang dikenal dengan Mbah Wali Sendung ) itu, terjadi pada saat jaman penjajahan Belanda. Sesuai dengan  tahun yg tertera pada batu Nisan Makam Mbah Wali Sendung kejadian ini paling tidak berlangsung sebelum Tahun 1902.

Ki Khasan Thalib atau Mbah Wali Sendung ini memiliki 3 orang putera yg sekarang  keturunannya telah mendiami di 3 wilayah Pedusunan Sendung. Anak I bernama Mbah Sali, kedua Mbah Syukur dan yg ke-3 Mbah Topo.  Anak keturunan Mbah Sali mendiawi wilayah bagian utara yg sekarang bernama Dusun Sendung. Anak keturunan Mbak Syukur sekarang mendiami wilayah bagian Tengah yang sekarang bernama Dusun Senden Lor, dan keturunan Mbah Topo mendiami wilayah bagian Selatan yang sekarang menjadi Dusun Senden Kidul.

Wilayah bagian Selatan yg sekarang dikenal dengan Dusun Senden Kidul  yang sekarang masyarakatnya mayoritas dari keturunan Mbah Topo telah memiliki langgar sejak 1943 dan didirikan oleh Mbah Topo sendiri. Seadang wilayah bagian tengah, Langgar Senden Lor didirikan oleh Mbah Syukur sejak tahun 1946. Kemudian disusul oleh Anak tertua dari Mbah Sali yang menguasai wilayah bagian Utara yg dikenal dengan Dusun sendung sejak tahun 1965  pada jaman GESTOK ( G.30 S PKI). Konon ini untuk mensiasati agar masyarakat sendung tidak dibantai oleh Sakerah seperti yang terjadi di wilayah Gondang yang telah dibantai dan di kubur secara massal di Pemakaman Gunung Cilik ).

Anak Pertama dari Mbah sali yang bernama Kyai Abdul Shomad ( atau yg dikenal dengan Mbah Dul ) inilah yang merintis pendirian langgar sendung yag awalnya hanya sebuah gotha'an / kamar kecil dirumahnya yg digunakan utk sholat berjamaah dan belajar mengaji. Setelah tahun 1970 Langgar Rintisan Mbah Dul itu dipindah ke Sendung Utara, yg akhirnya sekarang menjadi Masjid Sendung yg Megah dan Lux utk ukuran wilayah Kec. Gondang. Masjid Sendung yang pembangunanya menelan biaya lebih dari  Rp. 500 juta ini telah diberi nama dengan Masjid AN NUUR dengan Pimpinan Takmir sekaligus merangkap Kiyai /Imam Sendung I yaitu Bapak Kyai SYAMSI DUKHA, seorang ulama jebolan dari Pesantren Pondok Tengah Kamulan Kab. Trenggalek.

Masjid ini  sekarang telah dilengkapi dengan satu buah unit gedung TPA / Pesantren dengan  Gedung yang megah berlantai 2 dengan fasilitas lengkap dan berdiri pada tanggal 12  April 2006 dan telah diresmikan oleh Bapak Bupati Tulungagung ( Heru Jhahyono ) dengan menelan biaya Rp. 850.000.000,- .TPA ini diketuai oleh seorang kepala sekolah yaitu BPK Kyai Syamsi Dukha sendiri, dengan ketua yayasan. Bpk Badrodin.

Sekarang ini Gedung TPA dan Masjid AN Nuur Sendung ini telah menjadi 'ICON" Dusun Sendung Kalitelu.
Selamat tinggal Dusun Sendung yang banjir dan terisolir. Bravo "SENDUNG KALITELU"  dalam era Dusun Santri yg sejuk dan Damai pimpinan Bapak Kiai Syamsi Dukha. semoga.......
puthuk ditengah rawa2 gondang itu bernama sendung
Dibawah gerumbul puthuk tempat petilasan Mbah Wali Sendung ( Ki Khasan Thalib)
Rawa2 yg dulu mengelilingi puthuk sendung sekarang telah berubah areal persawahan
Ki Khasan Thalib atau lebih dikenal Mbah Wali Sendung